Artefak Kenangan Yang Menghabiskan Uang Jajan

170
Masih ada beberapa puluh kaset di kardus, saya malas mengeluarkannya

Saya ingat, kaset pertama yang saya punya adalah Pandawa Lima-nya Dewa 19. Album keempat Dewa 19 itu saya dapat di suatu sore, ketika saya keluar bareng ayah dan mamak. Sore itu tahun 1997, saya masih kelas 5 SD kalau tidak salah.

Saya memilih membeli album itu karena saat itu Dewa 19 adalah grup paling populer yang saya kenal. Dan saya jatuh cinta dengan lagu dan video klip Kirana yang sering berseliweran di TV. Saya berulang kali memutar kaset itu di walkman Sony butut milik saya. Hingga akhirnya kaset itu tewas karena terlalu sering diputar.

Lagu yang paling bikin saya jingkrak-jingkrak adalah Kamulah Satu-satunya. Kenangan melompat-lompat di atas kasur sembari ber-air guitar dengan mendengarkan Pandawa Lima di walkman membekas hingga sekarang.

Saya baru membeli kaset lagi beberapa tahun kemudian, sewaktu saya duduk di kelas 2 SMA. Album yang saya beli itu adalah album Greatest Hits-nya Motley Crue. Beberapa minggu sebelumnya, saya diwarisi beberapa kaset oleh om saya.

Sejak saat itu saya mulai suka membeli kaset bekas, mengkoleksinya, menikmat art work, hingga membaca thanks to. Setiap traveling, saya selalu mencari tempat yang menjual kaset bekas. Sampai saat ini, saya mempunyai dua tempat favorit untuk belanja kaset bekas. Satu di daerah Malioboro, Yogyakarta. Dan yang satu lagi ada di DU 68, Bandung.

Sebenarnya mengoleksi kaset bisa dibilang sangat-sangat ketinggalan jaman. Kalo anak gaul bilang “it’s sooo last year dude!” . Apalagi peradaban purba di dunia musik ini sudah sekarat, menjelang kematian. Berbeda dengan piringan hitam yang masih terus berputar hingga abad i-tunes ini.

Apa menariknya kaset?

Tiap orang pasti punya jawaban berbeda. Tapi buat saya, saya menikmati keintiman ketika mendengarkan kaset melalui kaset. Rasanya menyenangkan ketika memencet tombol fast forward untuk sampai di track yang ingin kita dengarkan sekaligus melewati track yang tidak ingin kita dengarkan.

Selain itu, saya merasa dekat dengan band ketika melihat dan membaca liner notes yang ditulis oleh mereka. Terdengar lucu memang, tapi itu yang saya rasakan, hehehe.

Keintiman yang paling terasa adalah ketika kaset ngambek, alias mendem. Suara jadi berat, tak enak didengarkan. Saat itulah saya merawat kaset dengan syahdu dan tuma’ninah. Saya seperti merawat pacar sendiri :p Saya perlahan meneteskan alkohol ke bantalan gabus. Lalu memutarnya dengan jari perlahan. Lalu dicoba diputar lagi di tape, dan kalau berhasil, senangnya minta ampun.

Keintiman itu yang tidak saya dapat di piranti musik digital.

Nah, baru saja saya menengok kembali koleksi kaset yang saya simpan di kardus. Artefak masa remaja yang menyenangkan sekaligus menghabiskan uang jajan, hahaha 😀 Saya baru sadar semenjak memutuskan hidup diluar rumah, saya sudah lama tidak mendengarkan kaset-kaset ini. Pasti kalau sekarang didengarkan, suaranya akan mendem.

Koleksi saya memang tak banyak, hanya berkisar 300-an kaset saja. Beberapa belas kaset dipinjam teman, dan tak pernah balik hingga sekarang. Koleksi saya bertambah secara signifikan setelah merampok koleksi kaset milik mas Taufiq yang resmi tak pernah didengar olehnya, kalah bersaing dengan piringan hitam.

Karena itu pula, saya bertekad membersihkan lagi kaset-kaset yang mendem itu. Saya akan dengarkan satu persatu, dan sekalian akan saya review. Gerakan ini juga (maunya siih) menandingi gerakan spin the black circle-nya para pecinta piringan hitam, huehehe.

Just Push Play Baby!

Rumah Arjasa
Sembari mendengarkan The Black Crowes
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR