Flohmarkt

529
Mas Akhmad Sahal dulu juga pernah ikut summer course yang sama di Goethe. Hanya ia ditempatkan di Goettingen, saya di Hamburg. Selama kursus singkat yang ia ikuti, hanya ada 3 kata yang ia bisa: einsgang (pintu masuk), ausgang (pintu keluar), dan danke (terima kasih). Karena kalau tidak bisa 3 kosakata itu, mas Sahal gak akan bisa keluar dari stasiun.
Saya juga sama. Selama kursus yang cuma 5 hari (nanti saya ceritakan detailnya), saya cuma bisa danke schoen sama bitte schoen. Tapi karena tak mau kalah dengan mas Sahal, saya belajar satu kata lagi dalam bahasa Jerman, jadi sama-sama cuma 3 kata yang kami kuasai.

Kata ketiga itu adalah Flohmarkt. Apakah itu? Bahasa Inggrisnya adalah flea market. Bahasa Indonesianya adalah pasar loak.

Yap, di Indonesia saya suka sekali berburu barang bekas. Entah itu kaos, jaket, atau bahkan buku. Dulu mamak saya seringkali marah-marah, karena hampir semua koleksi kaos atau jaket saya adalah barang loakan, hahaha.

Saya tahu info mengenai pasar loak ini dari mas Andy, seorang teman yang tinggal di Bonn. Ia memberikan link website kota Hamburg. Disana ada laman yang khusus memajang pasar loak dan jadwal. Jadwal?

Yap, pasar loak di Jerman selalu ada jadwalnya. Contoh, tanggal 1 tempatnya ada di Barmbek, dan menjual barang-barang antik. Nanti tanggal 2 pindah ke pusat kota, dan barang yang dijual pun bisa berbeda. Jadwal tiap bulan pasti berubah. Tapi ada juga yang jadwalnya harian, seperti hari Sabtu, Minggu, Rabu, atau Jumat. Pasar harian itu mengingatkan saya pada pasar Sabtuan, atau Rabuan di Jember. Cuma disini tempatnya lebih menyebar. Contohnya: hari Sabtu ada pasar loak barang-barang antik di pusat kota. Lalu ada pasar buku di Eirnsbuttel. Ada juga pasar di St. Pauli, Wandsbek, dll.

Berbekal hobi mengumpulkan barang loakan, hari itu saya mengunjungi situs kota Hamburg. Mencari jadwal dimana ada pasar loak hari itu. Aha, ada satu pasar di Altona. Akhirnya dengan menaiki U-Bahn dari tempat tinggal saya, pergilah saya menuju Altona.

Ternyata pasar loak Altona itu terletak pas di depan stasiun Altona. Baguslah, jadi saya tak perlu kesasar mencarinya.

Suasana pasar loak ini begitu riuh. Ada banyak barang dagangan. Tak jauh beda dengan di Indonesia. Ada beberapa lapak yang menjual barang bagus dan bermanfaat. Ada pula lapak yang menjual barang remeh temeh seperti sirkuit komputer, CPU bekas, atau kaset jadul dalam bahasa Jerman. Entah apa ada yang beli atau tidak.














Rata-rata para penjual ini menjual barang mereka sendiri yang sudah tidak terpakai. Termasuk baju. Kalau di Jember, kita mengenal yang namanya babebo, alias baju bekas bos, yang biasa mangkal di depan perumahan Mangli Permai tiap hari Jumat-Minggu. Para pedagang itu kulakan dulu, baru dijual lagi. Beda dengan para penjual baju disini. Rata-rata para penjual ini menjual baju yang pernah mereka pakai. Garage sell istilahnya.

Saya sih kurang tertarik dengan baju-baju itu. Soalnya disini para penjualnya seperti tak niat menjual. Sebagian besar baju hanya ditaruh apa adanya, kusut masai. Beda dengan di Jember yang dipajang dengan rapi.

Saya lalu mengalihkan perburuan pada buku bekas. Mencari buku bekas berbahasa Inggris di Jerman rupanya rada susah. Saya berkali-kali mendapat gelengan kepala ketika menanyakan stok buku bahasa Inggris pada sang penjual. Untunglah saya dapat beberapa buku bekas dengan kualitas baik dan harga murah meriah.

“Pak, yang ini berapa harganya” tanya saya pada seorang penjual sembari mengacungkan Cigar Cool, sebuah buku mengenai kultur rokok dan juga penanaman tembakau. Buku itu full colour, hard cover pula. Selain itu saya juga mengacungkan The Asia Collection, buku hard cover fulll colour yang berisi resep-resep serta sejarah masakan Asia.








Penjual mematok harga 8 euro untuk 2 buku itu. Tapi saya menawarnya jadi 5 euro. Penjual tertawa sembari menimbang apakah buku akan dilepas atau tidak. Banyak orang melirik saya sembari tertawa simpul. Rupanya kultur tawar menawar agak jarang dilakukan disini.

“Oke, 5 euro. Itu buku bagus lho” kata sang penjual. Kesalahan saya adalah mengeluarkan uang pecahan 50 euro karena ternyata uang pecahan kecil saya sudah terpakai untuk membeli beberapa buku lain.

“Aha, lot of money ha?” ledek sang penjual. Saya cuma bisa tertawa garing.

Di pasar loak ini biasanya juga terdapat stan makanan. Mulai pomme fries alias kentang goreng, sandwich, hingga bratwurst yang bersinonim dengan Jerman. Saya mencoba membeli bratwurst. Harganya 2,5 euro. Bratwurst yang saya beli ini adalah sosis panggang yang ditemani oleh sebiji kue kecil bertekstur keras. Rasanya eneg. Karena saya biasa memakan sosis dengan saus sambal. Sedang disini saus sambal rasanya seperti saus tomat. Tapi karena lapar, ya akhirnya habis juga.



Selepas makan saya melanjutkan jalan-jalan lagi. Banyak buku menarik yang merampas perhatian saya. Sayang, lagi-lagi terbentur oleh bahasa.

Akhirnya selepas membungkus sebuah jaket bekas seharga 5 euro, saya pun memutuskan untuk pulang.

Langit tampak kelabu. Mendung. Sepertinya akan hujan. Saya berlari menuju stasiun. Meninggalkan keriuhan yang masih saja kekal di belakang sana…

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

5 KOMENTAR

  1. ya ampun lucu bgt anak kecil yg melambai itu 😀 selama gak ada tulisan fixed price, emang wajib ditawar *pengalaman di mangga dua :p

TINGGALKAN KOMENTAR