Jadi Anak Hilang Di Utrecht

300

Lanjutan Dari Welkom Bij Nederland


***
Jadi dengan keyakinan penuh akan melimpahnya akses internet di stasiun Utrecht Central, maka saya pun berangkat. Kereta yang saya naiki berangkat dari stasiun Hauptbanhof Hamburg. Lalu transit di Osnabruck, lantas ke Ammersfoort, baru ke Utrecht Central. Total perjalanan Hamburg- Utrecht sekitar 4,5 jam.
Sore itu hujan. Bikin galau aja ih. Ditambah pula suasana kereta yang sepi. Kurang ajarnya adalah pemutar musik saya tiba-tiba memainkan Melankolia-nya Efek Rumah Kaca. Seakan pemutar musik itu bersekongkol sama hujan biar bikin suasana makin syahdu.
Setelah menempuh perjalanan panjang itu, saya pun sampai di Utrecht Central. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 6.30. Tapi hari masih terang. Sudah sedikit panas, tak hujan lagi.
Dengan PD saya lantas nongkrong di depan kantor informasi stasiun. Berharap ada sinyal wi-fi. Ada! Tapi kok ndilalah susah sekali konek dengan jaringan itu. Berkali-kali mencoba, tetap saja gak bisa. Sampai,
“Bla bla bla” seorang perempuan setengah baya datang pada saya sembari ngoceh bahasa Belanda.
“I’m sorry, I can’t speak Dutch” kata saya dengan pandangan bingung.
“I’m homeless, can you give me some money? I am not eating for 3 days” katanya seraya tiba-tiba merubah bahasa dengan cepat seperti Google Translate. Oalaah, pengemis toh. Segera saya memberikan beberapa keping sen. Tapi canggih ya pengemis bisa bilingual gitu, hehehe.
Oke, balik lagi ke jaringan internet.
Saya mencari jaringan sampai putus asa. Semua tak bisa. Ada jaringan yang terbuka tanpa kunci, tapi jaringan itu ujung-ujungnya meminta kita untuk beli voucher. Ketika saya tanya ke bagian informasi dimana harus membeli voucher internet itu, mereka menggelengkan kepala.
Saya hampir putus asa. PBB beberapa hari lalu mengeluarkan sebuah notifikasi. Bahwa akses internet adalah hak asasi manusia. “Given that the Internet has become an indispensable tool for realizing a range of human rights, combating inequality, and accelerating development and human progress, ensuring universal access to the Internet should be a priority for all states,” ujar Frank La Rue, salah seorang reporter yang menulis tentang pemberitahuan dari PBB itu.
Dan seharusnya stasiun Utrecht dilaporkan ke PBB karena melanggar hak asasi manusia dengan membatasi akses internet, huehehe.
Saya lantas memutar akal. Dimana saya bisa dapat internet gratis dan membaca pesan yang berisikan alamat serta nomer telepon mas Taufiq? Kampus! Karena di rata-rata kampus Indonesia, selalu ada hot spot di berbagai titik.
Cerdas sekali saya!
Dengan langkah mantap saya pergi ke terminal bis yang terletak di bawah stasiun. Dengan bertanya-tanya akhirnya saya bisa naik bis yang menuju Universitas Utrecht. Bravo!
Oh ya, supir bis yang saya naiki itu baik sekali. Dia tidak membolehkan saya membayar ongkos bis. Mungkin karena melihat saya yang bertampang menyedihkan, dia jadi iba. Atau bisa juga karena melihat muka saya yang sangat Indonesia, dia jadi ingat kalau bangsanya punya hutang besar terhadap bangsa saya. Ah sudahlah, memang orang baik ada dimana-mana.
Sampailah saya di Utrecht. Saat itu sudah jam 7.30. Thanks god it’s summer, jadi jam segitu hari masih benderang. Tapi apa yang terjadi? Kampus begitu sepi bagai kota mati.
Saya bengong. Angin berhembus dan satu buah kantong plastik terbang berputar di depan saya, lalu semakin menjauh. Suasana sangat sepi. Tapi banyak sepeda yang diparkir. Apa-apaan ini? Ini kampus atau kota mati?


Saya keliling kampus dengan banyak arsitektur modern itu. Sebenarnya kampus ini menyenangkan. Dengan mata kepala saya sendiri, saya melihat gerombolan kelinci kecil memamah rumput di depan kampus. Bersyukurlah kalian tak hidup di Indonesia dik. Kalau hidup di Indonesia, bisa-bisa kalian sudah dijadikan sate oleh para mahasiswa yang kelaparan sedang uang kiriman belum juga sampai.
Tapi dibalik rasa senang itu, ada rasa takut. Gimana kalau ternyata semua mahasiswa di kampus ini jadi zombie akibat tertular virus? Saya jadi merasakan ngeri yang pernah dirasakan Jim dalam film 28 Days Later. Hiii.
Untunglah ada beberapa orang di halte bis depan kampus. Setelah memastikan bahwa mereka bukan zombie, saya bertanya dimana saya bisa mengakses internet dan mengapa kampus ini begitu sepi.
Rupanya saya datang di saat yang salah. Hari itu hari Sabtu, pun sudah jam 8 malam. Hari Sabtu semua pada libur. Hanya perpustakaan yang buka, itupun hanya sampai jam 6 sore.
Alamakjang!
Akhirnya setelah berpikir, saya memutuskan untuk kembali ke stasiun Utrecht Central. Entah kenapa intuisi saya menyuruh agar pergi ke stasiun lagi.
Akhirnya saya naik bis, kembali ke stasiun. Dan kali ini tidak gratis lagi. Sialan.
Sampai di stasiun saya kembali berkeliling mencari akses internet. Badan sudah capek. Ingin sekali rebah dan bersandar di hammock sembari minum es kelapa muda dan makan nasi padang gulai otak plus sambal hijau. Tapi ini bukan di pantai, apalagi di Padang.
Saya hampir putus asa. Lalu saya pergi ke Kiosk, kios yang menjual berbagai panganan dan minuman. Setelah saya tanya, ternyata sang pramuniaga tahu dimana tempat membeli voucher internet.
“Right that way, to the next kiosk. They sell the internet voucher” kata sang penjaga yang kalau dilihat dari logatnya berasal dari India.
Saya pergi ke kiosk berikut yang berjarak beberapa meter di depan. Ternyata setelah bertanya ke penjaganya, mereka tak menjual voucher itu. Bedebah. Lalu kemana saya harus mencari voucher internet? Wah, sepertinya seseorang memang harus melaporkan stasiun Utrecht Central ini ke PBB deh. Segera!
Saya akhirnya mencapai titik 90% putus asa. Apa yang harus saya lakukan? Pergi ke pusat kota? Oke lah. Tapi biar saya istirahat dulu. Saya lantas berjalan lunglai ke depan papan jadwal elektronik yang besarnya segaban itu.
Ketika gontai melangkah itulah, mata saya menumbuk seseorang. Orang itu melihat saya juga.
“MAS TAUFIQ!” kata saya histeris!
“NAH INI DIA!” balas mas Taufiq tak kalah histeris.
Semudah itu lah kami bertemu. Bagai kebetulan yang biasa ada di sinetron garapan Punjabitch. Tiba-tiba saja kami bertemu pas di depan papan jadwal besar itu. Selesai. Tak ada lagi ceritanya ribet mencari internet akses, atau harus melanglang ke pusat kota.
Saat itu jam 8.30. Berarti sudah 2 jam saya jadi anak hilang di Utrecht. 2 jam yang paling lama dan menyebalkan dalam hidup saya. Selain berada di kelas Introduction to Syntax tentunya.
Tuhan rupa-rupanya sedang menyutradarai film drama komedi. Dan tadi adalah klimaksnya. Setelahnya alur cerita jadi menurun, tak lagi dramatis ataupun menegangkan.
Selepas ngopi di salah satu gerai kopi waralaba, kami pergi ke gedung bioskop di Amsterdam. Lalu menonton film “Pirates Of The Carribean 4: On The Stranger Tides”. Itulah pertama kalinya saya menonton bioskop 3D. Norak sekali saya.

Oh ya, saya juga dikenalkan dengan mas Novrizal Bahar, mantan penyiar TVRI era 80-an yang juga merupakan dosen di FH UI. Mas Isal, panggilan akrabnya, sekarang sedang menempuh S3 di Universitas Utrecht. Orangnya gokil, tak seperti dosen kebanyakan.
Selepas nonton bioskop, kami pergi ke Amsterdam Arena, kandang kebanggaan Ajax Amsterdam. Di stadion yang berkapasitas 51, 600 kursi ini kami benar-benar berlagak seperti turis. Jeprat sana jepret sini.





Saya jadi ingat kaos Ajax titipan Nyen. Sayang harganya mahal bung, tak mampu saya membelinya. Sebenarnya sih mampu beli kalau Nyen tega membiarkan saya tidak makan selama sebulan. Tapi syukur Nyen begitu pengertian.
Malam sudah larut. Sepertinya jam 1 pagi. Kami pun bergegas pulang menuju apartemen mas Isal.
Apartemen mas Isal terletak di daerah Overvecht. Karena bis dan kereta sudah berhenti beroperasi, maka kami naik taksi. Keputusan ini hampir berujung tiga lembar nyawa melayang karena sang supir nyetir ngebut dan ugal-ugalan dibarengi menelpon. Sangat lubang pantat sekali kawan.
Di apartemen mas Isal saya bertemu dengan mas Bambang, perawat yang sudah 10 tahun kerja di Utrecht. Apartemen dengan 2 kamar itu hanya diisi 2 orang. Mas Bambang dan Mas Isal sekamar. Satu kamar lagi kosong, saya disuruh menempati kamar nganggur itu. Lalu saya disuruh makan.
Di meja makan terhampar semangkok bumbu pecel dan semangkuk besar kari ayam. Masyaallah! Ini makanan mewah! Mewah!
Tanpa pikir panjang saya pun makan nasi pecel plus kari dengan potongan ayam yang besar-besar itu. Saya berasa hidup kembali. Saya tak ingat kapan pernah makan selahap ini.
Dari jendela apartemen di Overvecht, lampu berkedip genit. Sesekali ditimpali desau angin yang ganjen dan menggigit. Perut sudah terisi. Badan sudah hangat. Sudah kasih kabar pula kepada orang-orang terkasih di kampung halaman.
Tidur sepertinya pekerjaan yang paling pantas saat ini.
Karena besok Amsterdam sudah menanti.
(Bersambung)
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

8 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR