Tanggal 15 Sembilan Bulan Yang Lalu

71
Kita baru saja duduk. Senja baru saja khatam. Dan disana kita berhadapan, saling mengumbar senyum dengan pipi yang berkalang warna merah. Di depan kita terhampar dua cangkir teh yang hangatnya masih mengepulkan uap. Lantas aku memulai percakapan. Dan kamu menyimak sambil sesekali tertawa. Kau seringkali menutup mulutmu kalau tertawa, manis sekali. Hal itu masih sering kau lakukan hingga sekarang. Tak pernah bosan aku melihat seorang perempuan yang tertawa keras sembari menutup mulutnya.
Kita berbicara apa malam itu? Aih, banyak sekali. Tak bisa otakku ini mengingatnya. Tapi aku jelas masih mengingat bagaimana dada terasa terhantam godam. Berdebar keras sekali. Seperti menanti saat yang tepat. Entah kapan, tapi harus malam ini. Disini.
Kau seperti tak tahu debar itu. Kau terus saja mengulum senyum, sambil sesekali menebar tawa yang renyah, sama seperti biskuit legit yang jadi komplimen sang pemilik tempat. Teh kita masih hangat.
Malam semakin lindap dan berkarat. Aku benci sekali dengan jarum jam yang terus berdetak. Sementara aku juga terus memaki para pengendara motor dan mobil yang terus saja meraungkan suara kendaraan mereka. Sangat mengganggu. Sedang aku ingin suasanya yang tenang nun syahdu. Karena semuanya butuh ketenangan. Tapi apa lacur, derap pembuluh darah dari jantung dengan segera mengalahkan suara laju kendaraan.
Tapi semua harus dilabuhkan. Malam ini juga!
Tapi sepertinya mulutku sedang brengsek. Tak juga ia keluarkan maklimah yang ingin aku sampaikan. Ia mengunci, mengatup hingga tak ada kata yang bisa terucap selain guyonan basi tapi tetap saja kau tertawakan.
Kalau pena lebih tajam dari pedang, maka itu benar adanya. Malam itu, mulutku yang biasanya tajam laksana pedang, terwakilkan oleh ujung pena yang tintanya hampir usai. Sret sret sret. Aku sodorkan coretan itu ke depanmu.
Lalu semburat merah meruah. Mengisi penuh pipimu yang tirus itu, meningkahi rambutmu yang panjang berombak tergerai itu. Kau hanya bisa memandangku penuh tanya. Syahdu. Malam lantas jadi tenang. Semua jadi berasa terang.
Malam itu, tanggal 15. Sembilan bulan yang lalu.
Malam tak pernah seindah malam itu…
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR