Be Free: Rest In Peace Taiji Sawada

752
Entah apa yang ada di pikiran Taiji. Pada 11 Juli yang cerah, dia mendadak menjadi brutal. Pria bernama lengkap Taiji Sawada itu memukuli jendela pesawat Delta Flight 298 yang akan landing di Bandara Internasional Saipan, sebuah bandara di pulau yang masuk dalam wilayah administrasi negara persemakmuran Amerika Serikat. Selain itu ia menendangi kursi di depannya. Seorang pramugari yang berusaha menenangkannya, ditendangnya berkali-kali. Selain itu ia juga membentur-benturkan kepalanya.
Setelah pesawat mendarat, berduyun polisi bandara datang dan menangkap pria yang pernah menjadi bassist untuk grup band X. Akhirnya pria berumur 45 tahun ini dibawa ke penjara sembari menanti persidangan yang rencananya akan diadakan pada tanggal 15 Juli.
Tapi rencana pengadil berantakan.
***
Banyak orang beranggapan kalau Taiji Sawada paling moncer ketika berada di Loudness, band metal yang dipimpin oleh Akira Takasaki. Tapi saya lebih menyukainya ketika berada di X, band yang kelak berganti nama menjadi X-Japan karena ternyata sudah ada band di Amerika yang memakai nama X.
Taiji membetot bass untuk X sejak tahun 1985. Sempat keluar dan membentuk band lain, Taiji kembali menjadi bassist untuk X pada tahun 1986. Ia bertahan selama 3 album pertama: Vanishing Vision, Blue Blood, dan Jealousy.
Vanishing Vision menjadi tonggak penting bagi X dan Taiji. Album perdana X ini terjual hingga 800.000 kopi. Di album ini ada beberapa track, seperti Kurenai dan Unfinished, yang lantas direkam lagi pada Blue Blood, album kedua yang merupakan album tersukses mereka.
Tahun 1989, X merilis Blue Blood. Di album ini lah popularitas X meroket hingga ke puncak. Ada banyak hits yang berasal dari album band yang menyebut genre musik mereka sebagai Psychedelic Violence Crime of Visual Shock itu. Sebut saja “Week End”, “X”, “Endless Rain”, hingga “Kurenai”.
Saya sendiri begitu terpesona ketika pertama kali menonton video Week End. Disana Taiji bermain bass dengan penuh gairah. Ia melompat, merentangkan kaki, mencium bassnya, hingga ikut berperan sebagai orang yang terbunuh. Pendek kata: ia mengagumkan!
Setelah merekam Jealousy, Taiji keluar dari X. Album itu rupanya bertuah membawa kecemburuan. Taiji merasa ada jenjang pendapatan yang besar antara Yoshiki (drummer dan juga mastermind X) dengan para anggota lain. Dalam buku biografinya, Taiji menulis bahwa ia dipaksa untuk keluar oleh Yoshiki. Konser terakhirnya dengan X adalah konser tiga hari berturut-turut yang kelak akan dirilis dalam bentuk DVD dengan judul On The Verge of Destruction 1992 1.7 Tokyo Dome Live. Posisinya digantikan oleh Heath hingga X bubar pada tahun 1997 dan reuni lagi pada tahun 2007.
Lalu Taiji bergabung dengan Loudness. Di band itu ia hanya merekam dua album, Loudness dan Once and For All (live). Setelah itu ia keluar dan mendirikan DTR (Dirty Trash Road). Namun karirnya tak sesukses ketika berada di X.
***
Hari Kamis (14/7), Taiji melepaskan sprei kasurnya dan membentuk lingkaran di ujung bawahnya. Mengikatnya pada tiang yang terletak di atap. Menaiki kursi, memasukkan lehernya ke lingkaran yang ia buat, lantas menendang kursinya. Ia mencoba bunuh diri. Ketika nyawanya sudah hampir minggat, percobaan bunuh diri itu diketahui oleh sipir.
Maka ia dibawa ke rumah sakit dengan kondisi yang tak sadar. Pria yang hanya merilis dua album bersama Loudnes, s/t dan Once and For All, itu dibawa ke unit perawatan intensif karena otak yang sudah tak berfungsi. Selama di ruangan itu, ia harus dibantu oleh life support system.
Tapi karena harapan yang tak kunjung berbuah manis, maka ibu dan pacar Taiji yang saat itu mendampingi, setuju akan saran dokter untuk mencabut alat bantu yang selama ini “menghidupkan” Taiji. Maka nyawa master mind Dirty Trashroad ini pun resmi melayang. Hari itu tertanggal 17 Juli 2011.
Salah seorang musisi terbaik Jepang telah meninggal. Tapi tak perlu sedu sedan itu. Karena ia memilih mati dengan caranya sendiri, yang telah lama diajarkan oleh para nenek moyangnya: harakiri. Ia menjadi orang bebas, seperti yang pernah dikatakannya: be free! Bahkan ia bisa dengan bebas memilih cara kematiannya.
Kalaupun ada yang harus ditangisi, adalah kenapa ia memutuskan keluar dari Loudness. Hal yang menyebabkan Loudness tak lagi terlalu nyaring.
Selamat jalan Taiji Sawada. Saya percaya engkau akan senang bertemu dengan Matsumoto Hideto…
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR