Kredit Mimpi Berupa Helm

239

Kadang saya merasa mimpi tak ubahnya barang kreditan. Tak perlu membayar tunai jika kita memang tak sanggup. Kita bisa mencicil pelan-pelan, sampai ia lunas terbayar.

Romdhi, salah seorang senior saya di Tegalboto, suatu hari pernah menuliskan hikayat tentang Wendra, teman satu angkatannya di Tegalboto. Ia bercerita mengenai Wendra yang begitu teguh mengejar mimpi. Dulu ketika kamera DSLR masih menjadi barang sangat mewah, dan profesi fotografer bukanlah anak labil yang mampu beli kamera, asal jepret dan bisa sedikit photoshop; Wendra yang saat itu masih mahasiswa terlebih dulu mengunduh buku manual penggunaannya. Ia belajar cara menggunakan kamera DSLR dari berlembar-lembar buku panduan itu.

Tahun demi tahun berlalu. Mimpi itu akhirnya tercapai berkat kerja keras. Dibayar dengan keringat dan mungkin juga darah. Saya tahu betapa Wendra bekerja keras untuk membeli kamera DSLR . Ia berpasrah diri memulakan mimpi pada unduhan user’s guide. Lantas mimpi itu berlanjut. Mengumpulkan receh demi receh hingga akhirnya kamera itu terbayar dengan tunai.

Sekarang, dengan pekerjaannya sebagai fotografer The Jakarta Post, saya yakin ia tak akan kesusahan membeli kamera lagi.

Waktu membaca tulisan Romdhi mengenai Wendra, saya begitu terhenyak. Betapa proses mengejar mimpi itu adalah penting. Hanya manusia kuat yang bisa teguh menempuh proses yang seringkali seperti jalan makadam, tak mulus dan berbatu tajam. Menjadi manusia teguh itu lantas menjadi cita-cita saya. Saya juga ingat kata pepatah: jangan minta hidup yang lebih mudah pada tuhan, mintalah agar kau menjadi orang yang lebih teguh.

Maka saya berusaha terus teguh memegang semua mimpi yang saya canangkan. Beberapa mimpi besar sudah saya centang. Tapi jelas masih ada banyak mimpi lagi yang akan dan harus saya kejar. Semoga dengan keteguhan yang tak kunjung purna.

Salah satu mimpi terbesar saya adalah berkeliling Sulawesi menggunakan motor CB. Mimpi itu jelas menimbulkan tanya bagi banyak orang terdekat saya. Kenapa Sulawesi? Lalu kenapa motor CB, bukannya lebih enak pakai motor baru?

Oke, mari saya berkisah sejenak.

Sulawesi jelas adalah tanah impian bagi semua petualang. Tak habis dongeng terkisah, mengenai pantainya yang seindah surga, atau hikayat para pelautnya yang gagah berani, hingga semua kelezatan makanan di pulau dengan nama lain Celebes ini. Selain itu, rute di pulau ini masih memungkinkan ditempuh menggunakan motor. Tidak seperti jalan di Kalimantan atau Papua yang masih sedikit sukar ditembus dengan motor.

Lalu kenapa CB? Saya akan lantang “menyalahkan” The Motorcycle Diaries. Di buku suci itu, Ernesto Guevara dan Alberto Granado berkeliling Amerika Selatan menggunakan motor Norton 500 cc berusia 13 tahun. Motor Norton masih banyak terdapat di Indonesia, terutama di daerah.

Tapi saya tak bermimpi menggunakan mesin 500 cc, terlalu besar sepertinya. Selain itu jelas saya belum mampu mengikuti para biker di Easy Rider atau โ€œMiracleโ€-nya Bon Jovi, yang menunggang si kuda besi legendaris: Harley Davidson. Motor itu terlampau “sederhana”. Maka saya mengalihkan pandangan ke CB, sang motor klasik yang bisa membuat penunggangnya berasa lebih gagah beberapa derajat.

Rencananya, motor CB yang akan saya beli itu sudah full modif. Mesin sudah diganti dengan mesin Honda Tiger atau GL- Max. Lalu akan ada pengaturan mengenai pembakaran gas buang dan penghematan bahan bakar. Intinya: motor itu sudah harus siap touring.

Mimpi menunggangi CB keliling Sulawesi itu tercetus begitu saja 2 tahun lalu. Awalnya saya berencana berkeliling bareng karib saya. Tapi apa daya, sang karib itu sekarang lebih sibuk, plus dia harus menyelesaikan tanggungan bernama TUGAS AKHIR di semester yang sudah semakin mendekati akhir, hahaha. Maka sepertinya keinginan berkeliling bareng itu harus ditunda.

Tapi saya tak patah arang kok. Saya akhirnya memutuskan akan pergi sendirian saja. Kalau kalian pernah melihat film Harley Davidson and the Marlboro Man, disana jelas tampak bahwa seorang biker akan lebih meresapi perjalanannya jika berpergian sendirian. Semoga saya berhasil mewujudkannya.

Lalu, seperti yang saya bilang, mimpi itu seperti barang kredit. Bisa dicicil, tak ada bunga, dan tak ada jatuh tempo. Seperti Wendra yang mewujudkan mimpinya secara perlahan dengan mengunduh buku panduannya dulu, maka saya melakukan hal yang sama.

Helm adalah langkah awal mimpi itu. Pelindung kepala itu sebenarnya bisa dibeli dimana saja. Tapi saya tak ingin helm biasa. Saya ingin helm klasik yang biasa digunakan para biker. Saya tak tahu apa namanya, tapi saya tahu bentuknya. Bulat, dan ada kacamata besar sebagai pelengkap.

Saya tak tahu apakah di Jember ada toko yang menjual helm seperti ini. Tapi saya seringkali melihatnya di Bali. Meski saya tak tahu namanya dan hanya bisa memberikan gambaran mengenai helm itu secara lisan, saya tetap minta tolong Rina untuk membelikan helm itu. Kebetulan sejak kemarin ia berada di pulau Dewata.

Tadi sore Rina sms. Mengabarkan kalau ia sudah membeli titipan saya. Yeah! Helm itu berwarna coklat, dengan kacamata besar berwarna hitam. Di bagian depan ada gambar elang dan tulisan Harley Davidson. Meski saya akan menaiki CB, anggap saja helm ini sebagai doa agar saya bisa menaiki Harley kelak, hehehe.

Maka inilah cicilan awal saya pada mimpi yang sudah saya inden sejak 2 tahun lalu. Berupa satu buah helm klasik, yang sepertinya akan membuat penunggang CB jadi lebih gagah beberapa derajat lagi.

Mari menabung untuk membayar cicilan berikutnya ๐Ÿ˜€

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

6 KOMENTAR

  1. hahahahahah..
    ssip..sssippp..
    patut dicontoh nih,biar kita tetap yakin dengan mimpi yg akan kita raih..
    setidaknya kita berusaha untuk mewujudkan cicilan mimpi itu…
    semoga berhasil ya Nurannn

TINGGALKAN KOMENTAR