Hal Yang Harus Masuk Keranjang

94

“Ada beberapa hal yang harus dimasukkan keranjang, lalu dibuang jauh-jauh.”

(Curhat seorang kawan kemarin malam, sembari ditemani secangkir jeruk nipis hangat)

Kawan saya itu memangkas rambutnya yang kribo itu. Ia tampak seperti kepala penis berjalan. Penis yang sangat besar. Ia lesu, capai sepertinya. Baru pulang dari kantor. Berjalannya lunglai, matanya merah. 
Saya agak heran bocah yang satu ini datang tengah malam, meminta tumpangan menginap. Pakai sms sok penting segala. Saya kira ada apa, mungkin mau curhat soal predikatnya sebagai  mahasiswa nyaris D.O. Itu dugaan saya. Tapi dugaan saya salah. Ia sepertinya sedang merasakan sakit. Entah sakit yang seperti apa. Tak terperi sepertinya. Tapi ia tetap saja seperti Korea Utara. Misterius, best kept secret in the world. Saya lalu berusaha memancing Lalu pangkal masalahnya menjadi jelas: tak jauh dari masalah hati.
“Sudah, gak usah dibahas” katanya pendek setiap kali saya melempar umpan. Begitu respon si kepala penis ini setiap kali saya bertanya. Setelah beberapa kali mencoba dan mendapat jawaban yang sama, saya pun menyerah. 
Ia tengkurap. Sepertinya lelah betul. Lalu ia berceracau mengenai masalah di kantornya, salah satu media terbesar di Indonesia yang punya cabang dimana-mana. Macam Kebab Baba Rafi saja. Saya hanya mendengarkan saja sembari menyeruput secangkir jeruk nipis hangat yang baru saja saya buat. Cangkir punya kawan saya masih tak ia sentuh. Uap hangatnya mengepul. Bau segar jeruk tersamar di udara. Segar. Tapi tidak dengan muka kawan saya yang kusut itu. Lalu pas ketika saya mau beranjak dari lantai dan membiarkan ia beristirahat, ia berucap sesuatu.
“Ada beberapa hal yang harus dimasukkan keranjang, lalu dibuang jauh-jauh” katanya sambil tetap tengkurap. Saya hanya tersenyum simpul.
Siapa sih yang tak pernah terluka hatinya? Bahkan Roy dan Ali Topan yang gagah, macho, plus digemari banyak perempuan pun pernah sakit hati, bahkan pecah berkeping-keping. Apalagi saya dan juga kawan ini, yang notabene adalah pria-pria biasa, dengan timbunan lemak, dengan catatan hutang, otak yang tak pintar, dan wajah yang untung saja tidak termasuk kategori mengenaskan atau mengerikan. 
Tapi saya jelas setuju dengan sang kawan. Beberapa memang harus dimasukkan ke dalam peti, kunci peti itu, kubur dalam-dalam, lalu buang kuncinya ke palung terdalam. Selesai. 
Lalu saya mematikan lampu kamar, membiarkan kawan saya itu tertidur dengan tenang. Mendengkur dan membiarkan bajunya tersingkap, memperlihatkan timbunan lemak yang membuatnya tak ada beda dengan ibu hamil. Uap hangat dari jeruk nipis hangat itu mulai menipis.

Sebentar lagi ia pasti sudah dingin…

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR