Perpisahan di Stasiun

697
“Saya jadi kepikiran perkataan seorang teman. Kalau stasiun kini membatasi romansa para pencinta yang berpisah di stasiun. Dari beberapa literatur klasik, perpisahan yang megah sekaligus melankoli adalah ketika sang lelaki pergi dengan kereta dan sang gadis melambaikan sapu tangan sembari mengusap air mata. Kini sepertinya hal itu tak mungkin, karena orang tanpa tiket tak boleh masuk ke dalam stasiun. Dan berakhir di sini pula fragmen kisah kasih klasik macam itu…”
(Status saya beberapa waktu lalu)
***
Stasiun Rambipuji Kala Mendung Menggelayut Manja
PT. KAI memang berbenah. Perubahan positifnya makin kentara. Kereta jadi moda transportasi yang jauh lebih nyaman. Tapi perubahan apapun, itu pasti akan melibas hal-hal lama.

Sekarang orang yang tidak punya tiket kereta tidak boleh masuk ke dalam stasiun. Tiket peron pun ditiadakan. Hal ini menyebabkan pengantar tak boleh masuk ke dalam stasiun, cukup menunggu di luar saja. Akibatnya ya itu tadi, hilangnya kisah romantik klasik.

Ingat film “Pearl Harbour”? Ada satu fragmen dimana penerbang Rafe yang dimainkan oleh Ben Affleck harus pergi ke Inggris untuk melawan pasukan Jerman. Malam sebelum keberangkatannya, Rafe berpesan pada kekasihnya, suster Evelyn (Kate Beckinsale) untuk tidak usah mengantarnya. Tapi itu adalah kedok belaka untuk menguji apakah Evelyn cinta Rave atau tidak. Kalau Eve mencintai Rafe, ia pasti akan menyusulnya ke stasiun.

Benar rupanya.

Menjelang keberangkatan kereta, Rafe menyaksikan Eve berlari tergopoh sembari menangis. Saat itu Rafe sadar kalau Eve mencintainya.

Saya sendiri punya kisah tersendiri dengan stasiun dan kereta api. Saat itu saya masih dalam masa pendekatan dengan pacar saya sekarang. Entah kenapa, tempat kencan pertama yang terpikirkan adalah sebuah stasiun kecil bernama Rambipuji. Saat itu bulan Ramadhan, sebelumnya kami pergi ke pabrik gula Semboro (Kenapa saya kencan di pabrik gula? Entahlah, kadang cinta memang membuat orang jadi sedikit gila). Setelah itu, kami menghabiskan sore di Stasiun Rambipuji. Bercengkrama sembari menanti adzan maghrib tiba.

Suasana stasiun saat itu riuh rendah oleh celoteh anak-anak kecil yang juga menghabiskan sore bersama keluarganya. Mendung bergelayut di langit. Ketika adzan maghrib berkumandang, kami berbuka puasa di sebuah warung lalapan di dekat stasiun Rambipuji. Lalu pulang sambil hujan-hujanan. 

Ah, kencan pertama yang hingga sekarang masih sering kami kenang 🙂

Sekarang kami sering berpisah via stasiun. Sebelum ada peraturan baru, biasanya Rina ikut mengantar hingga masuk ke dalam kereta. Tapi semenjak ada peraturan baru itu, Rina jadi agak terhalang untuk bisa mengantar saya hingga  ke kereta.

Tapi itu toh bisa diakali. Cukup membeli tiket komuter seharga 2.000 rupiah yang jam keberangkatannya mendekati jam keberangkatan kereta saya. Voila, bisa masuk! Tapi itu hanya di Surabaya. Karena di Jember tak ada komuter, maka Rina tetap tak bisa masuk.

Ah, tiba-tiba saya jadi ingat lagu “Gubeng Rendezvous” milik Greats

Suatu senja di stasiun kota/ di remang mentari yang tua

di tengah deru kereta/ dia datang tiba-tiba.

tersenyum dia dibalik jendela

melambai-lambai bercahaya dan seluruh suara senja
meredup seketika.

Aku patung tanpa kata-kata

dibius bisu Gubeng senja
di tengah deru kereta, selepas peluit pertama

perlahan, diam-diam

kereta bergerak
rindu pun muram…

kau kan menemukanku

hancur di ujung lagu
lenyap di rimba raya masa lalu

Hei/ 

berhenti kereta
berhenti disini saja bukan di Jogjakarta, Bandung, atau Jakarta
kekasih menanti di Surabaya
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

3 KOMENTAR

  1. wah, kasian ya? 😀 sama, aku dulu sering nongkrong di stasiun. Gak jelas mau ngapain sih, cuma duduk-duduk aja sambil nunggu sore 😀 Untung di stasiun kecil deket rumahku, itu bukan tipe stasiun yang tertutup, jadi kadang masih bisa duduk-duduk disana 🙂

TINGGALKAN KOMENTAR