Tentang Makanan Sentimentil Itu

294
Ayah dan Saya.
 Dalam satu dan beberapa hal, saya ternyata orang yang sentimentil.

Beberapa hari lalu saya menuliskan sebuah artikel untuk lomba menulis. Kebetulan, saya mengambil cerita mengenai ayah saya. Sejak saat itu pula saya jadi kangen ayah. Hingga sekarang. Dan seperti tetes hujan di bulan Desember yang rapat dan pekat, kenangan mengenai ayah lantas terus menerus jatuh. Karena saya sedang berada di Yogyakarta, saya jadi mengingat kembali sebuah perjalanan yang kami lakukan berdua beberapa tahun silam. Tepatnya ketika saya masih duduk di kelas 2 SMP.

Saat itu ayah masih menjadi ketua pasar burung Gebang. Selain sibuk mengadakan acara lomba burung berkicau, ayah juga berdagang beberapa perlengkapan peternakan burung. Salah satunya sangkar.

Suatu hari ayah mengajak saya untuk kulakan sangkar. Salah satu sentra sangkar burung kualitas terbaik ada di Solo. Saya lupa apa nama daerahnya. Maka berangkatlah kami ke Solo dengan menggunakan kereta api.

Kepingan kenangan itu masih saya ingat hingga sekarang.

Kami naik becak mencari hotel untuk bermalam. Dan si tukang becak bertanya dengan polos pada ayah, “Pak, gak butuh selimut hidup?”. Ayah menjawab tidak sambil ketawa kecil. Sedang saya masih belum paham apa itu selimut hidup. Lantas ayah menjelaskan pada saya apa itu selimut hidup. Sesampainya di hotel saya nonton sepak bola. AS Roma sedang bermain, saya lupa siapa musuhnya. Yang saya ingat, salah satu pencetak gol adalah Assuncao. Ia mencetak gol dengan tendangan bebas, spesialisasinya.

Setelah beberapa hari di Solo, kami pergi ke Yogya. Mengunjungi sepupu ayah yang biasa saya panggil Mbak Vivi. Waktu itu rumah mbak Vivi ada di sebuah pabrik es batu. Mbak Vivi juga membuat saya betah dirumahnya, karena beliau punya Playstation. Ayah dan Mamak tidak pernah membelikan video game apapun, karena mereka berdua percaya game itu tidak membawa pengaruh positif. Anak-anak mereka lebih sering disuruh bermain di alam terbuka. Akibatnya sampai sekarang saya dan saudara-saudara saya kurang suka main game. Tapi saat itu, namanya juga anak kecil, saya girang melihat seperangkat alat game.

Selain kenangan-kenangan kecil berharga seperti itu, satu hal lagi yang saya ingat: makanan.

Ketika waktu makan malam tiba, Mbak Vivi dan suaminya mengajak ayah dan saya untuk berwisata kuliner. Rencananya adalah makan sop kaki kambing. Nah, berhubung saya tidak suka kambing,maka mereka mencari alternatif lain. Pilihan jatuh pada burger.

Saat itu saya diajak ke sebuah warung tenda yang menjual berbagai makanan khas Italia, seperti burger atau spaghetti. Saat itu saya melongo. Katrok karena tak pernah lihat burger dijual di pinggir jalan. Di Jember, burger hanya bisa di dapat di warung roti tertentu, bukan di pinggir jalan. Saya girang dan memesan satu buah burger.

Setelah membungkus burger, kami pun melaju ke warung sop kaki kambing. Saat itu ayah masih belum terkena stroke. Masih muda, bugar, sehat. Karena itu beliau enteng-enteng aja ketika menyantap sop kaki kambing. Beliau malah menyayangkan saya yang lebih memilih makanan western ketimbang makanan khas Indonesia. 

Ah ayah, namanya juga selera.
***
Waktu berlalu dengan cepat. Sudah nyaris 11 tahun lalu perjalanan itu dilakukan. Banyak yang sudah berubah. Ayah terkena stroke, lalu meninggal tahun 2011. Saya lulus SMP, SMA, lalu akhirnya lulus kuliah. Mbak Vivi beberapa kali pindah domisili karena ikut pekerjaan suaminya. Dari Yogya ia ke Solo, lalu ke Bekasi, dan sekarang ke Balikpapan. Tapi ia tetap suka makan-makan. Beberapa waktu lalu ia mengiming-imingi saya kuliner khas Balikpapan.

Malam ini entah kenapa, saya tiba-tiba ingin melacak wisata kuliner yang pernah saya lakukan bersama dengan ayah dan Mbak Vivi. Karena saya lupa dimana kami berwisata kuliner, maka saya mengirim SMS pada mbak Vivi. Mencari tahu dimana sop kaki kambing dan burger yang pernah kami makan beberapa tahun silam.

“Itu Sop Kaki Kambing Tiga Saudara. Nang sebelah kiri, ngarep Bethesda, seberange Novotel” ujar Mbak Vivi dengan ingatan yang tajam.

Lalu bagaimana dengan burger? Burger yang saya makan itu kan burger di warung tenda. Sekarang pasti sudah tidak ada. Tergerus persaingan. Apalagi banyak burger franchise khas Yogya macam Mister Burger dan Big Burger yang bertebaran dimana-mana. Ternyata warung burger itu masih ada!
“Iku burger Monalisa, ngarepe BNI UGM, sebelahe Mandiri. Mak Nyus tenan” ujar Mbak Vivi yakin.
Maka saya bergegas mandi, menghilangkan gerah. Lalu menyandang kamera, dan berangkat mencari kuliner sentimentil itu. Kuliner kenangan yang pernah saya santap dengan orang-orang terkasih saya. Saya akan menuliskan mengenai kuliner sentimentil ini pada dua postingan yang terpisah nanti.

Ayah, disana ada Sop Kaki Kambing gak? 🙂

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR