Untuk Eka Pradika Zamani Yang Baik

121
Ariel Peterpan dan Saya

Saya sms Dika barusan.

Saya: Dik, saiki lagi sibuk gak? Aku njaluk tulung oleh gak? Cuma butuh 5 menit kok.
Dika: Ora sibuk… Iki aku lagi nang kantor, ono opo ran?
Saya: Cukurno jembutku…
Ade: Ooooopeeeelll gaaarrriiing… Jiampuuuuuttt!!!

Ah Dika, saya kangen menghina kamu seperti dulu 🙂

***

Saya kenal Eka Pradika sejak masuk SMA. Kami ditakdirkan sekelas dan menghuni bangku belakang. Iya, kami teman sebangku. Pria yang ganteng mirip Ariel Peterpan ini mudah diingat karena satu hal: selera cewek yang tinggi. Ia menyukai beberapa orang kakak kelas ranking A. Tapi entah kenapa, perjuangannya selalu mentok di kata-kata. Padahal wajah dan kharisma sudah nyaris persis seperti Ariel. Tapi mungkin nasib kurang memihak. Karena itu pula, ia sering dijadikan objek gojlokan saya dan kawan-kawan yang lain.

Satu kenangan yang paling saya ingat, juga menunjukkan betapa sialannya Dika, adalah ketika kelas 1 terpergok berjudi di kelas. Saat itu sedang pelajaran Agama, kami berduel main Sanggong. Saya diatas angin, mengumpulkan banyak uang di kantong. Sang guru menaruh curiga dan mengawasi kami dengan tajam. Saya sadar itu dan mengajak Dika untuk rehat sejenak. Tapi ia menolak, ngotot meneruskan permainan. Permainan diteruskan, ia tetap kalah. Ia tambah kalap dan tak mau berhenti. Akhirnya ketika kami terlalu ribut dan tak memperhatikan sang guru, ia tiba-tiba saja sudah di depan kami. Kami terhenyak, dan kami digiring ke kantor BP. Jancuk.

Kami biasa menghabiskan waktu bermain game online. Counter Strike adalah game favorit kami. Saya dan Dika berpisah ketika kami naik kelas 2. Sejak saat itu kami jarang nongkrong bareng. Tapi mulai sering nongkrong lagi ketika sudah sama-sama kelas 3. Itu mungkin di dorong dari letak kelas kami yang bersebelahan.

Saya seringkali mengisenginya.Salah satu faktor yang menyenangkan dari mengisengi Dika adalah dia punya sifat histeris. Ia seringkali melakukannya. Contohnya ya jawaban smsnya yang histeris. Membuat saya terbahak 🙂

Sekarang Dika kerja di salah satu perusahaan minuman botol sembari melanjutkan kuliah. Ia insyaallah sudah betah disana. Saya turut senang untuknya. Apalagi kalau mengingat perjuangannya dulu untuk mencari kerja selepas kuliah. Cuma satu yang sepertinya belum berubah: ia masih juga belum punya pacar. Tak maukah kau turunkan standar gadis idamanmu Dik? 🙂
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR