Acuh Umur

91

Ketika saya bilang bahwa saya tak pernah menganggap hari kelahiran merupakan sesuatu yang spesial dan pantas dirayakan, saya serius. Saya baru sadar keacuhan itu ketika membaca lagi tulisan saya yang berjudul “Menengok Ke Belakang”. Saya menuliskan “Di penghujung tahun pula saya mengulang hari kelahiran, untuk yang ke 23. Saya beranjak semakin tua daripada saya yang sebelumnya”.

Sekarang paham dimana letak keacuhan saya? Iya, saya sekarang sudah berumur 24, bukan lagi 23. Sial. Saya benar-benar lupa dan menganggap tahun lalu saya masih berumur 22 dan tahun ini saya berumur 23. Itu salah besar.

Maaf, saya sekarang sudah 24. Sungguh, tak ada maksud untuk sok muda, hehehehe.

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

2 KOMENTAR

  1. Kabarnya, usia hanyalah tentang angka angka. Tua dihitung dari seberapa banyak kita mengumpulkan biji biji kenangan untuk kemudian kita tebarkan menjadi huruf huruf yg bekerja sama, menjadikannya kisah yang bisa dinikmati siapapun.

    Ya begitulah dulur Nuran, tua adalah tentang menabur dan mengumpulkan, memulung dan menebarkan. Tentang menciptakan kenangan..

    Kalau kabar itu benar, alangkah tua renta ompong dan peotnya dirimu, hehehe..

TINGGALKAN KOMENTAR