Sehari di Solo

623
Ini kisah dari jalan-jalan dan makan-makan ke Solo beberapa waktu lalu. 
 ***
Sekitar jam 1 siang, saya dan Panjul berangkat dari Jogja. Naik motor yang dulu sempat sering mogok. Kami berdoa semoga si motor tidak ngambek. Perjalanan ke Solo memakan waktu sekitar 1-1,5 jam dengan jalan yang lempeng, lurus.

Titik pertemuan kami dengan Dyah adalah di gerbang UNS.  Dyah adalah kawan lama di dunia persma. Dia alumnus jurusan Komunikasi UNS. Oh ya, Dyah dulu sempat membuat hati seorang kawan cenat-cenut, tapi gak usah diceritakan disini lah, hehehe. Selagi menunggu Dyah datang, saya dan Panjul menyeruput es susu dan teh botol.

Dyah akhirnya datang. Rambutnya sekarang pendek, dan dia masih saja ramah.

“Ayo makan siang” ajak Dyah. Tapi dia malah bingung mau mengajak kami kemana. Akhirnya saya yang menentukan pilihan makan siang: Selat Solo. Pasti segar dimakan siang-siang terik macam hari itu. Panjul cuma menganggukkan kepala ketika saya ajak makan selat.

Selat Vien’s menjadi tujuan pertama kami dalam Solo Short Trip ini. Warung ini tampak selalu ramai pembeli. Selain menjual selat, ada menu sup matahari. Saya dan Panjul memesan selat Solo, Dyah memesan sup matahari.

Tak perlu menunggu lama, seporsi sup matahari datang. Sup ini berisi telur dadar yang berisi cacahan daging, wortel, dan jagung. Lalu sup yang berkuah bening ini juga diramaikan dengan potongan wortel, buncis, potongan kentang goreng kering, dan sosis. 

Setelah itu selat solo datang menyusul. Tampilannya cantik. Aromanya harum. Menerbitkan liur. Tak seperti selat solo lainnya, potongan daging di Vien’s ini dibentuk bulat seperti bakso. Lalu sebagai teman bola daging itu, disertakan sebutir telur pindang, potongan kentang yang cukup gemuk, buncis segar, wortel, selada, dan juga timun. Kuahnya bercita rasa manis, tapi diselingi aksen asam berkat campuran mayonaise. Sebagai pelengkap, ditaburi kentang goreng kering.
Seperti yang saya perkirakan, seporsi selat solo ini sungguh mantap untuk disantap siang hari.

“Kuahnya kurang kental nih” timpal si Panjul. Saya sih cocok-cocok saja dengan tingkat kekentalan kuah selat solo Vien’s ini. Meskipun kuahnya tak kental, tapi rasa bumbunya berani. Kalau terlalu kental, nanti malah mirip rolade atau bistik gelantine.

***
Makan-makan kami belum selesai. Setelah mengikuti diskusi film di sebuah rumah makan, kami bertiga bertolak untuk mencari makan malam. Dyah sempet bingung mau mengajak kami kemana. Setelah melalui lorong pikiran yang cukup berliku, akhirnya Dyah mengajak kami makan rica-rica ayam di seberang hotel Novotel.

“Temen-temenku nyebutnya rica-kare Novotel atau Luwes. Soalnya ada supermarket luwes di depan warungnya.” kata Dyah menjelaskan tempat makan yang tak memiliki nama paten tersebut.

Warung ini serupa lesehan kalau di Jawa Timur. Di Yogyakarta disebut angkringan. Di Solo disebut hik. Apapun itu sebutannya, tak ada meja dan kursi. Cuma hamparan tikar plastik yang beberapa bagiannya mulai koyak karena terlalu sering ditindih pantat. Juga ada beberapa kudapan untuk jadi lauk tambahan, seperti tahu isi, perkedel, atau ceker.

Ada 2 menu di warung ini. Rica ayam atau kare ayam. Tapi para penggemar punya cara kreatif dalam memesan menu, yakni mencampur antara rica dan kare. Jadilah rica kare ayam, rica ayam yang diberi kuah kare.

Saya memesan rica. Panjul memesan kare. Dan Dyah memesan kare rica. Tak berapa lama, pesanan kami datang. Rica datang dengan tampilan yang menggoda. Nasi putih pulen disiram dengan kuah kuning kecoklatan lengkap dengan serpihan kulit cabai. Lalu potongan kecil ayam tampak matang sempurna, golden brown. Ketika saya menyuap, rasa gurih langsung menyergap. Tak ada rasa pedas yang saya bayangkan ketika mendengar kata rica. 

“Emang gak pedes mas, kalau mau pedes tambahin sambal aja” kata Dyah sembari menunjuk sambal berwarna merah dalam wadah yang juga berwarna merah.

Saya menambahkan beberapa sendok sambal, lalu mencampurnya dengan nasi rica. Baru pedasnya kerasa. Cukup menyengat dan membuat kulit kepala gatal.

Sedangkan kare ayam bentuknya malah lebih mirip soto ayam. Dengan kuah yang berwarna kuning keruh, cacahan kubis dan seledri, serta seiris jeruk nipis, benar-benar bisa mengecoh mata. Apalagi ketika Panjul menambahkan perkedel, jadilah kare ayam itu makin mirip soto. Kalau kare rica? Saya gak tahu, sungkan mau nyicip punya Dyah, huehehe. Rasa sungkan itu makin bertambah ketika tahu kalau Dyah mentraktir kami. Kasihan sekali nasibmu Dyah, sudah “dipaksa” mengantar saya dan Panjul, masih bayarin makan malam. Hahaha.

Kare Rica Ayam
Kare yang mirip soto
Sebenarnya malam itu masih ada tawaran makan jagung bakar pedas. Tapi sepertinya badan terlampau lelah. Saya dan Panjul terpaksa menolak tawaran Dyah yang sebenarnya susah ditolak itu. Angin di Solo berhembus dingin ketika saya dan Panjul mengarahkan motor ke arah Yogya. 
Pulang…
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

  1. “Diyah”, Mas Nuran… 😀

    Agaknya si Diyah agak bingung ngajak makannnya, untung nggak jadi makan siang di Padang. hhhi… Besok bikin list makan di Solo lagi deh mas, kemarin kelupa belum nyobain Nasi Liwet.

    oia, tempat makan kayak gitu juga disebutnya “lesehan” kok, HIK/wedangan itu lebih ke kayak angkringan di Jogja dengan menu utama nasi kucing dan aneka lauk-lauknya.

TINGGALKAN KOMENTAR