I Should Have Stayed Home

86
Di suatu hari yang hangat, Tony Wheeler baru saja tiba di San Fransisco. Ia menyewa sebuah mobil Ford Tempo berwarna abu-abu. Sang pendiri Lonely Planet itu melakukan berbagai urusan dengan mobil itu: pergi ke kantor Lonely Planet di Oakland, bertemu beberapa kawan lama di Bay Bridge, juga menyantap makanan khas Afghanistan di sebuah resto. Selepas itu, ia kembali pulang menuju hotel bersama seorang kawan bernama Jim. 
Ketika mobil selesai diparkir, Jim keluar sembari membawa barang bawaannya. Tony juga menyuruhnya untuk membawa serta setumpuk buku dan poster yang ia kira sebagai milik Jim. Jim menggeleng, berkata kalau itu bukan barangnya. Tony pun bingung karena barang itu juga bukan miliknya. Ketika kebingungan,  ia melihat sebuah mobil yang sama, Ford Tempo, di ujung tempat parkir: Setelah ia meneliti dengan seksama, ia terperanjat karena itu adalah mobil sewaaannya. Yang berarti seharian tadi ia menggunakan mobil milik orang lain: mobil yang sama dengan warna dan interior yang sama.
Saat itu ia sadar, ia baru saja seharian berkeliling menggunakan mobil “curian”.
“Dari semua perjalananku, pernahkah aku kecurian mobil? Uhm, tidak pernah. Tapi aku malah pernah mencuri mobil. Dan aku berkeliling menggunakan mobil curian itu” ujar Tony dalam esai pendek berjudul “Lost and Found” yang termaktub dalam kumpulan kisah buruk di perjalanan bertajuk “I Should Have Stayed Home”.
Marry Morris menuliskan esai pendek dalam pembukaan buku ini. Ia berkata “Bukan kenyamanan dalam perjalanan yang akan kita kenang. Apa yang paling kita kenang adalah kesengsaraan, misery.”
Marry tak salah. Ketika ide untuk menuliskan pengalaman buruk dalam perjalanan dilontarkan, ada banyak orang yang hafal kisah-kisah buruk mereka dan bersedia menulisan pengalamannya. Tidak hanya para travel writer yang berbagi kisah, tapi juga penulis novel, hingga jurnalis yang menuliskan 51 kisah terburuk dalam perjalanan mereka.

Jeff Greenwald mencoba pemandian umum yang dialiri setrum. Mary Mackey menginap di hotel yang diserbu oleh pasukan semut yang sarangnya baru saja rubuh. Joe Gores yang terperangkap di perbatasan Sudan saat perang meletus. Michael Dorris yang dilontarkan ke Eropa, padahal ia berangkat dari New York menuju Alaska. Hingga Paul Theroux yang menceritakan kisah “disekap” oleh sepasang kakak adik di Afrika pada malam Natal dan dipaksa untuk mabuk terus menerus.

Semua kisah itu begitu menarik. Menyimak bagaimana para penulis itu mengingat kisah dan menuliskan dengan detail, membuat saya yakin bahwa perkataan Marry benar adanya: yang kelak akan kita ingat dalam sebuah perjalanan adalah pengalaman buruk, kesengsaraan. Kisah yang kelak akan kita ingat dan ceritakan kembali dengan seru sembari tertawa-tawa.
Buku ini saya temukan berada di tumpukan paling bawah di sebuah toko buku bekas di Blok M Square. Buku ini tampak tak terjamah dan sang penjual sepertinya menganggap buku ini tak menarik –karena itu ia menaruhnya di tumpukan terbawah. Saya lantas menebusnya seharga 15 ribu saja. Teramat murah untuk sebuah buku yang sangat menarik.
Sembari membaca lembar demi lembar, ingatan akan kisah buruk terus memanggil. Losmen Gembira, Bis Langsung Indah, Nafa Urbach, dan banyak lagi kenangan yang membuat senyum tersimpul.
Shit happen. And shit always happen…
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR