Kiki Lulus!

128

Tanggal 15 Juni selepas siang hari, mamak sms saya. “Kiki sudah lulus, alhamdulillah”. Kiki adalah kakak saya. Ia kuliah di jurusan Olahraga di Unesa. Sudah 7 tahun kuliahnya berjalan. Sedikit terbengkalai karena profesinya sebagai atlit anggar membuat ia sibuk berlatih dan ikut turnamen disana-sini. Tapi setelah penantian yang bikin jantung deg-degan, ia akhirnya berhasil lulus juga.
Lalu saya sms Kiki. Mengucapkan selamat yang bercampur rasa haru. Tak berapa lama kemudian, ia menelpon saya. Saya yang sedang dalam perjalanan pulang menuju Jember disuruhnya mampir ke Surabaya.
“Nanti aku traktir makan” katanya.
Bis yang membawa saya dari Jogja merapat di terminal Bungurasih pada pukul 4 sore. Saya harus menunggu Kiki nyaris 1 jam sebelum akhirnya ia datang dan membawa saya ke mes para atlit anggar Jawa Timur di Sidoarjo. Selepas mandi, kami berencana untuk makan. Tapi sebelumnya, ia melirik pergelangan tangan saya. 
“Koen gak nduwe jam yo? Nyoh gawe wae” kata Kiki sembari mengulurkan arloji. Saya tak pernah mau memakai arloji. Bagi saya arloji itu bikin kita selalu was-was. Saya menolaknya, tapi ia bersikeras. Akhirnya saya mau memakainya. Ugh, saya seperti bapak-bapak ketika memakai jam berwarna silver itu. 
Akhirnya kami menerabas malam di Sidoarjo yang sudah mulai riuh. Memakan iga bakar di sebuah rumah makan. Masing-masing dari kami kelaparan rupanya. 4 piring nasi putih kami sikat.
Selepas makan, kami kembali berkendara menuju perbatasan Sidoarjo-Pasuruan. Menembus Porong yang membikin bulu kuduk merinding karena tebaran poster dan spanduk tuntutan ganti rugi. Di tengah jalan, Kiki bilang masih betah melatih anggar untuk dua sekolah menengah atas.
“Anak didikku kemarin tanding dapet 2 emas, 6 perak, dan 3 perunggu” ujarnya bangga. 
Sepertinya ia akan menekuni profesi melatih itu dalam waktu yang lama. Ia sepertinya memang berbakat melatih. Ia galak ketika melatih, tapi baik bagai saudara ketika latihan usai. Saya pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri ketika ia menggembleng para juniornya. Ia galak dan tak segan menendang pantat para juniornya ketika mereka malas berlari untuk pemanasan. 
Saya bertanya apa ia tidak mau sekolah lagi. Ia menggeleng sembari ngakak, “gak kuat utekku cuk”.
Bis menuju Jember datang. Kami saling tos dan berjanji akan jumpa lagi dalam waktu yang tak lama. Roda bis mulai berputar, bis berangkat. Kemudian Sidoarjo jauh  tertinggal di belakang…
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

5 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR