Mamak dan PNS

167
Mamak, sama seperti semua ibu di dunia ini, selalu mengkhawatirkan nasib anaknya. Bagi beliau, kekhawatiran itu hanya bisa dihapuskan oleh status PNS pada sang anak. Mamak, sama seperti sebagian besar orang tua di Indonesia, berharap bahwa sang anak akan menjadi PNS. Bagi mereka, status PNS akan menjamin hidup sang anak hingga tua nanti. 
Mamak tentu tak ambil pusing tentang fakta gaji PNS adalah pemegang pos anggaran belanja terbesar nasional. Mamak mungkin juga tak tahu bahwa berdasar data dari KPK, ada 70% PNS muda yang tersangkut korupsi. Mamak juga tak akan tahu bahwa menurut Menteri Negara Perumahan Rakyat, ada 1,3 juta PNS yang belum punya rumah. Oh ya, mamak juga pasti tak tahu kalau menurut Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, dari total 4,7 juta PNS di Indonesia, 95%-nya tidak kompeten (dan mereka masih menghabiskan anggaran belanja terbesar di negara ini. Sigh).
Bagi mamak, PNS adalah jaminan hidup. Bagi mamak, saya hanya seoranf pembosan yang begitu takut bekerja di balik meja. Dan bagi mamak, tantangan untuk menjadi reporter atau penulis lepas terlalu “berbahaya” untuk dijadikan jaminan hidup.
Karena itu, mamak begitu getol menyemangati (versi halus dari memaksa) saya untuk mendaftar PNS di salah satu Kementrian. Saya awalnya enggan. Tapi melihat mamak yang sampai mengurusi RCK (Rekomendasi Catatan Kriminal), juga menduplikasi segala berkas-berkas yang diperlukan, saya jadi tak tega. Oke, saya mengalah dan mau mendaftar. Saya urusi semua berkas-berkasnya. Saya datangi semua instansi yang diperlukan, mulai dari Kantor Polisi hingga Departemen Tenaga Kerja.
Tapi memang saya tak ditakdirkan untuk jadi PNS –setidaknya untuk saat ini. Malam ini saya cek hasil pengumuman seleksi administrasi. Saya gagal. Entah kenapa gagal, tak dicantumkan alasannya.
Saya sih bersikap biasa. Toh tidak berharap-harap amat. Tapi mengabarkan pada mamak adalah hal yang berbeda. Ada rasa segan yang teramat berat. Mungkin karena saya merasa sudah mengkhianati harapannya.
Sekarang mamak masih tidur. Mungkin nanti waktu sahur, saya akan bilang padanya tentang kegagalan ini. Dalam bayangan saya, adegannya akan begini:
“Mak, ada dua kabar, baik atau buruk. Mau denger yang mana dulu?” saya memulai percakapan dengan lirih.
“Yang buruk dulu aja” kata mamak tegas seperti biasa. Dan beliau akan menciduk ceker pedas untuk lauk sahur terakhir ini.
“Kabar buruknya, aku bahkan tidak lolos seleksi administrasi.” saya berkata lebih lirih. Berhati-hati tepatnya.
Mamak jelas akan menekuk mukanya perlahan. Harapannya melihat sang anak jadi PNS kandas sudah. Setidaknya tahun ini. Saya yakin, tahun depan mamak saya pasti akan mendorong (bahasa halus untuk mendesak) saya untuk mendaftar PNS lagi.
“Terus kabar baiknya apa?”
“Kabar baiknya adalah, dari jumlah pendaftar sebanyak 15.968, yang lolos seleksi administrasi hanya  7.126 orang. Jadi aku tidak sendiri. Ada sekitar 8.000 orang lebih yang juga gagal di seleksi administrasi. Setidaknya aku bisa selesein studi dulu. Lalu bisa jadi dosen bukan?” ujar saya berargumentasi.

Alasan yang bodoh memang. Tapi setidaknya saya membawa angka; statistik, biar tidak kelihatan terlalu ngasal.

Saat saya memungkasi pemberitahuan dengan kabar baik itu, saya berharap mamak akan tersenyum dan tenang seperti biasa. Sambil makan ceker ayam pedas buatannya dengan lahap. Iya mak, selalu ada alasan untuk tersenyum kok. Selain kabar baik tadi, alasan saya untuk tersenyum dini hari ini adalah ceker ayam pedas buatan mamak.

Love you mamak 🙂
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

14 KOMENTAR

  1. Jadi inget tiap kali ngunjungin kakek, tiap kesana selalu didoain sama kakek saya buat jadi PNS, jadi pegawai di tilkum (telkom) 😀

  2. hahahaha.. persis sepertiku dulu. walaupun akhirnya impian ibu aku penuhi dan wujudkan. karena dua kakakku sampai mati tidak ada yang mau jadi PNS. yasudahlah.. nasib si bungsu. aku dulu sampai daftar ke 28 instansi, dan sampai sekarang semua kartu ujiannya masih lengkap disatu map :))

  3. @ Ajeng : wah hebat banget, 28 instansi,
    saya juga disesatkan di jalan yang benar oleh impian simak untuk jadi PNS. Dari 8 instansi kementerian dan pemprov hanya nyangkut satu.

  4. semua orang tua pasti ingin anaknya menjadi orang yang sukses, kalau orang tua saya tidak menuntut tentang masa depan anaknya… orang tua saya membiarkan anaknya menjadi dirinya sendiri dan memiih sendiri masa depannya. orang tua hanya mendukung dan mendoakan anaknya agar cita cita yang saya miliki bisa tercapai

TINGGALKAN KOMENTAR