Elegi Patah Hati

277
“Ran, sepurane, aku ngampung nggalau nang tempatmu” ujar seorang kawan pada suatu siang di Jakarta yang selalu panas.

Kawan saya ini jarang sekali galau. Kalaupun galau, ia bukan tipikal yang suka mengumbar kegalauan. Karena itu saya anggap ia bercanda.

“Aku galau sampe pengen mati” tambahnya. Ah, saya jadi tambah yakin ia pasti bercanda.

“Sudah bikin surat wasiat belum?” balas saya.

Tak ada jawaban.

                                                                            ***

Jawaban yang tertunda itu akhirnya muncul selepas jam 8 malam. Ia menemui saya dengan wajah kusut. Mukanya yang gelap makin tambah terlihat menyeramkan. Atau malah mengibakan? Segelas kopi lantas saya hidangkan. Pintu saya buka lebar-lebar. Bunyi deru kendaraan terdengar, sehingga kami tak merasa sendirian.

Lantas mulailah kisah kelam itu dimulai. Kelam itu terwujud dalam kandasnya hubungan cinta sang kawan. Tak usahlah saya ceritakan apa penyebab putusnya. Kisahnya memang getir.

Sang kawan sudah menjalani kisah cintanya selama 2 tahun 2 bulan. Menuju 3 tahun. Ia sudah bersiap menikah. Bahkan ia pernah berkali-kali mengajak sang pacar untuk menikah. Tapi sang pacar yang belum selesai studi menangguhkan permintaan itu.

Yang bikin saya tercenung, beberapa hari sebelum kekelaman itu menyergap, kami berdua duduk santai di balkon tempat tinggal saya sembari minum bir dingin. Kami bercengkrama mengenai hidup, layaknya pria yang sedang kena mid-life crisis. Salah satu sub-tema mid-life crisis adalah pernikahan, dan itu termasuk yang kami obrolkan.

Kawan saya yakin akan menikah dengan sang pacar. Saya pun meyakini hal yang sama. Semua kawan-kawan kami juga meyakini itu. Kawan saya dan pacarnya sungguh serasi. Keluarga pun sudah saling mengenal. Rasa-rasanya kemungkinan putus mereka itu nyaris mencapai 0 persen.

Tapi kemungkinan kecil itu ternyata terjadi beberapa hari kemudian. Saya terhenyak. Ia tergoncang. Ia menambah panjang daftar orang yang patah hati pada tahun 2012. Kalau saya tak salah hitung, ada 6 orang –yang saya kenal– yang patah hati tahun ini. Termasuk saya. Termasuk kawan saya itu.

Ia memelankan tempo cerita, lalu menyeruput kopinya pelan.

Saya diam tak banyak ucap. Menggurui dan memberi nasehat basi –macam “sabar ya” atau “nanti pasti dapet gantinya”– adalah hal yang tak sepantasnya dilakukan dalam momen seperti ini. Mendengarkan ia bercerita adalah perbuatan yang lebih baik. Agar tak terlalu lengang, saya beranjak ke laptop. Mencari lagu, lalu memutarnya.

‘Love Hurts’ milik Nazareth menjadi lagu pertama yang saya putar. Bahkan rocker dengan dandanan garang pun bisa jadi menye-menye ketika cintanya rantas. Lagu ini selalu menjadi anthem bagi para pria yang cintanya tertumpas.

Love hurts,
Love scars,
Love wounds and marks
Any heart not tough or strong enough
To take a lot of pain, take a lot of pain

“Taek lagune cuk” katanya sembari tersenyum pahit. Untung saya memberi banyak gula pada kopinya, jadi tak dobel pahitnya. Lagu itu terus melantun. Mengiringi cerita kawan saya. Pedih bukan buatan. Tapi memang, patah hati harus dihadapi sendirian. Kau bisa saja berkeluh kesah pada banyak orang. Tapi pada akhirnya, jika ingin sembuh, maka kau harus menghadapinya sendiri.

“Dan dengan caranya masing-masing” kata kawan saya yang lain lagi, via pesan pendek. Kawan saya ini juga termasuk broken heart boy gelombang pertama, bareng saya.

Iya, patah hati memang harus dihadapi sendiri, dengan caranya sendiri. Ada yang traveling, ada yang menulis, ada yang pergi ke Dufan, ada yang mabuk. Macam-macam jenisnya. Yang saya tahu pasti, cara mengatasi patah hati itu tak bisa disama-ratakan. Cara menyembuhkan patah hati memang harus dengan caranya masing-masing. 1000 orang dengan 1000 cara.

Saya lantas ingat, beberapa hari setelah saya patah hati, saya menyusun beberapa lagu patah hati. Bukan lagu menye-menye, melainkan lagu untuk memberi semangat agar patah hati lekas berlalu. Saya tak sempat menyelesaikannya, pun mempublikasikannya,  karena patah hati saya minggat terlalu cepat. Tak disangka, sekarang saya berkesempatan jadi DJ, memutarkan lagu-lagu ini untuk kawan saya.

Karena bosan dengan ‘Love Hurts’, saya lantas memutarkan lagu yang menempati daftar pertama dalam playlist itu. John Mayer, ‘I’m Gonna Find Another You.’

But when my loneliness is through
I’m gonna find another you…

Saya melirik. Muka kawan saya masih tertekuk. Ia tak merespon lagu bernuansa optimis. Maka saya memutarkan lagu lain selepas John Mayer selesai berdendang.

She’s gone,
Out of my life.
I was wrong,
I’m to blame,
I was so untrue.
I can’t live without her love.
(1)

“Taek lagune cuukk” ujar dia sembari tertawa getir.

Ia lantas bercerita, selepas putus, ia merenungkan kenapa hubungannya bisa kandas. Lantas ia merasa bersalah. Sang mantan memakai trik reversed psychology untuk membuat kawan saya merasa bersalah. Padahal yang sebenarnya, sang kawan tak bersalah.

“Lha tak pikir-pikir, kok dadi aku sing ngeroso salah cuk?” ujarnya setengah bertanya. Saya cuma tersenyum saja. Membiarkan ia terus bercerita, saya terus mendengarkannya, menimpalinya, sambil memilih lagu untuknya.

I’ve been hurt
And I’m in pain
I’m not sure that I’ll be fine
I never thought it would end this way
(2)

Jani Lane menuliskan lagu itu ketika ia patah hati. Saya pikir, rasa sakit yang sama juga sedang merajah hati kawan saya. Kawan saya, saya, dan kawan-kawan kami, tak ada yang menyangka mereka akan putus. Dengan cara yang tak baik pula. Tipikal putus yang merajah luka. Luka di hati mungkin bisa sembuh, tapi jelas akan meninggalkan bekas luka.

Though it’s been a while now
I can still feel so much pain
Like a knife that cuts you the wound heals
But the scar, that scar remains  (3)

Bret Michaels juga menuliskan lagu itu ketika ia sedang dalam lara. Lara yang sama jelas sedang menjajah kawan saya. Kopinya sudah tandas, sisa ampas. Sementara di luar, di ruas Casablanca, lampu-lampu masih berpendar.

“Mau bir gak?” tawar saya. Ia menggeleng, memilih untuk terus bercerita.

Kawan saya ini berasal dari keluarga yang mengutamakan pendidikan. Jarena itu, selepas ia lulus, ada tawaran untuk melanjutkan sekolah. Saya ingat, waktu itu kawan saya ingin mengambil jurusan American Studies. Tapi setelah berpikir beberapa saat, ia memilih untuk bekerja. Saya tak tahu apa alasannya. Tapi malam itu ia berkata kalau ia ingin menabung untuk biaya menikah.

“Kalau sudah gini, ya rasanya males mau kerja” ujarnya sembari tersenyum. Masih ada sisa pahit sekecap dua kecap pada senyumnya.

I always thought we’d be together someday
There was nothing that could keep me away
Coulda worked it out somehow
But it’s over now…
(4)

Saya kembali gemigil. Melihat sendiri rasa sayang yang mampu membuat orang berubah. Dan rasa itu lantas kandas. Padahal kisah itu bukanlah kisah cinta sumir ala remaja baru gede. Kisahnya bukan kisah cinta semacam Aurel Hermansyah. Kisah seperti ini jelas membutuhkan waktu lama untuk saling melupakan, memaafkan, lalu kembali berjalan. 

…I can see your face
There was still so much to discover
All the time we shared
Can’t be erased

Tapi saya yakin, kawan saya ini cukup tangguh untuk mengatasi rasa patah hatinya. Mungkin ia akan hancur pada awalnya. Kelak, ia akan menertawakan masa ini. Nantinya ia akan memaki saya karena menemaninya melewati masa-masa berat ini. Masa berat yang kelak akan jadi masa yang mengundang tawa malu.

“Kalau udah kayak gini, cari anak yatim saja buat dinikahin. Dapat pahala” katanya. Sembari tertawa. Olala, sudah sedikit hilang rasa pahit itu.

Ia mengaku pertama kali ini merasakan patah hati yang teramat hebat. Ia, sama seperti orang lain yang pernah merasa patah hati, ia jelas mengamini apa kata Patty Smyth dan Don Henley, Sometimes Love Just Ain’t Enough.

But there’s a danger in loving somebody too much,
and it’s sad when you know it’s your heart you can’t trust.
There’s a reason why people don’t stay where they are.
Baby, sometimes, love just aint enough.

“Ayo ke bawah beli bir” ajaknya. Saya tersenyum. Ia sepertinya sudah lelah berkesah. Tugas saya pun sudah purna: mendengarkannya. Tinggal ia –dan harus ia–  yang harus berjuang sendirian mengatasi segala pedih yang tersisa.

Selamat berjuang Don Quixote!

post-scriptum:
(1) Steel Heart – She’s Gone
(2) Warrant –  I Saw Red
(3) Poison – Every Rose Has Its Thorn
(4) L.A Guns – It’s Over Now
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR