Rumah Yang Hilang

221

Where we love is home – home that our feet may leave, but not our hearts
(Oliver Wendell Holmes)
Seberapa penting rumah bagi anda? Ada beberapa orang yang bahkan tak perduli dengan rumah. Bagi mereka, pergi dari rumah adalah bentuk kebebasan yang memabukkan. Tapi ada pula orang yang menganggap rumah adalah tempat ia kembali setelah lelah menempa diri di luar sana.
Roy Boy Harris, sang petualang itu, selalu merindukan rumah kala ia berpergian. Setelah lelah di jalan, maka ia kembali menyeret kakinya. Menuju rumah. Di rumah, segala kasih untuknya tercurah.
Saya punya kenangan pahit dengan rumah yang hilang. Bukan rumah saya, melainkan rumah almarhum kakek dari pihak ayah. 
Rumah Mbah Co –begitu saya memanggil beliau– ada di Lumajang. Sebuah rumah khas pedesaan dengan halaman depan dan belakang yang luas. Mbah Co punya usaha ayam potong. Di bagian belakang rumah, biasanya saya selalu mengintip dengan sedikit takut, bagaimana Mbah Adam –saudara Mbah Co– memotong ayam dan membersihkan bulunya. Di halaman belakang pula, banyak angsa peliharaan Mbah Co. Lalu ada pohon kedondong berukuran gigantis. Saya selalu suka menaiki pohon itu. Mbah Ti –istri Mbah Co– selalu khawatir dan meneriaki saya untuk segera turun. Waktu panen, maka tak ada alasan untuk tidak mabuk kedondong. Untuk memakannya, ada cara mudah. Yakni menjepitkannya ke pintu. Kedondong itu akan remuk, dan kita tinggal memakannya dengan cara menggerogotinya dengan gigi bagian atas.
Tapi sayang, di saat Mbah Co menikmati hari tua, ia ditipu oleh rekan bisnisnya. Rumah itu akhirnya harus dijual. Rumah tempat tinggal Mbah Co dari tahun 40-an. Tempat ayah saya tumbuh besar. Tempat dimana Mbah Adam mengajari saya maen dam-daman –catur ala Jawa–. Tempat dimana suatu malam saya melihat Om Ammar menghitung angka dalam tabel-tabel, yang kelak saya tahu kalau itu adalah salah satu pedoman meramal angka togel.
Begitu banyak kenangan di rumah itu. Dan waktu Mbah Co resmi meninggalkan rumahnya, saya masih terlalu kanak untuk memahami sorot matanya yang penuh kepiluan.
Kenangan pahit itu kembali terulang siang ini.
Baru saja saya selesai menanak nasi, ada pemberitahuan di grup facebook “Keluarga Besar H. Nawawi”. Itu adalah grup tempat keluarga besar ayah saya berkumpul. Dari mulai kakek, nenek, paman, bibi, hingga sepupu, semua berkumpul disana. 
Lantas saya melihat sesuatu yang mengejutkan. Tante Arie, adik sepupu ayah, memposting foto rumah masa kecilnya yang rata dengan tanah. Rumah masa kecil tentu begitu sarat arti. 

Dulu, keluarga besar ayah saya tinggal di daerah Kampong Kebon, sebuah daerah di tengah kota Jember. Ayah sempat pula tinggal lama di daerah itu. Rumah kakek ayah sekarang menjadi apotik Bima. Di sebelahnya, adalah rumah Mbah Pat –nama aslinya Fatimah, tapi lebih akrab dipanggil Mbah Pat. Mbah Pat punya 4 orang anak: Om Hadi, Tante Arie, Tante Vivi, dan Om Totok. Mereka tumbuh besar disana. Dengan segala kenakalan masa kecil yang kelak kalau diceritakan kembali, akan mengundang tawa penuh seluruh.
Beranjak dewasa, satu persatu dari mereka mulai meninggalkan Jember dan rumahnya. Om Hadi bekerja di Surabaya, Tante Arie ikut suaminya dinas di Jambi. Tinggal Tante Vivi (saya lebih suka memanggilnya dengan sebutan ‘mbak’) dan Om Totok. 
Rumah Kampong Kebon dan Sikin

Berbicara tentang rumah Kampong Kebon, ingatan saya melayang pada Sikin.
Saya ingat, waktu masih kecil, saya sering main ke rumah Mbak Vivi. Waktu itu Mbak Vivi masih bekerja di Matahari Department Store. Ayah yang sering mengajak saya kesana. Saya sering bercengkrama dengan Sikin. Orang ini lucu. Kepalanya botak. Umurnya sudah 60-an. Kalau ngomong sering aneh-aneh. Orang menganggapnya gila karena omongannya yang acap melantur. Tapi ayah lantas bercerita kalau Sikin dulu adalah satu diantara 3 orang Jember pertama yang bisa berkuliah di UGM. Kala UGM masih baru berdiri, seluruh pelajar di Indonesia berebutan untuk bisa jadi mahasiswa disana. Hanya sedikit yang terpilih. Sikin adalah salah satunya.
Tapi memasuki pertengahan studi, Sikin dirundung kemalangan. Semua berawal dari meninggalnya sang ibu. Lalu disusul oleh –kalau tidak salah– sang istri yang ikut meninggal. Sikin goncang. Studinya tak selesai, dan ia pulang ke Jember membawa sisa-sisa kebesarannya yang lantas jadi legenda. Tapi orang tak menaruh peduli pada Sikin. 
Rumah Sikin ada di belakang rumah Mbah Pat. Dulu sewaktu masih ‘normal’, Sikin adalah orang berpunya. Rumahnya besar. Tapi ketika menjadi ‘abnormal’, Sikin pun ditendang oleh saudara-saudaranya. Ia hanya diberikan satu ruangan kecil di samping rumah. Saya pernah diajak masuk ke dalamnya.
“Jangan ikut Sikin, nanti kamu dimakan”, ujar seorang tetangga Mbah Pat menakuti saya. Tapi saya cuek.
Rumah Sikin –lebih tepat disebut kamar– adalah sebuah ruangan kecil yang penuh sesak dengan barang-barang. Segala macam barang ada di situ. Dari kulkas mati, yang isinya adalah tumpukan buku-buku, mulai Fisika hingga Kimia; biola; buku catur; gitar; keris; buku SDSB; hingga poster perempuan telanjang yang penuh menempel di tembok. Kasurnya lapuk, dipannya reot. Tapi Sikin bercerita penuh semangat  tentang semua barang-barangnya, yang menurutnya punya sejarah masing-masing.
Karena masih kecil dan terlampau polos, saya pernah bertanya ke Mamak kenapa saudara-saudara kandung Sikin tega membuang Sikin dari rumahnya sendiri. Saya lalu meminta mamak untuk menghubungi kawan-kawan pengacaranya untuk membela Sikin. Mamak hanya tertawa menimpali kepolosan saya.
Sikin seringkali membuat orang tertawa. Ia hobi menggoda Mbak Vivi.
“Vi, koen kok ayu sih? Ayo tak embung (Vi, kamu kok cantik sih? Sini aku cium)” 
Mbak Vivi selalu terbahak kalau Sikin menggodanya seperti itu. 
“Sikin iku pinter nggambar, lek ono tugas nggambar, aku mesti njaluk gambarno Sikin (Sikin itu pinter menggambar, kalau ada tugas menggambar, aku selalu minta dibuatin Sikin” ujar mbak Vivi. Sebagai gantinya, Sikin selalu minta kecup. Tapi Mbak Vivi hanya tertawa dan memberinya uang.
Ada banyak kenangan tentang Sikin dan rumah Kampong Kebon itu. Sekarang rumah itu sudah rata dengan tanah.
***
Mbak Vivi menikah setelah beberapa saat kerja di Matahari. Ia ikut dengan suaminya, tinggal nomaden di luar kota. Mulai dari Jogja, Solo, Bekasi, hingga sekarang di Balikpapan. Mas Totok pun lantas merantau ke Jambi, dan sekarang menetap di Solo.
Rumah Kampong Kebon tidak ada yang menempati. Ketimbang nirfungsi, akhirnya diputuskan rumah itu dijual. Saya lupa tahun berapa rumah penuh kenangan itu dijual. Dan siang ini, saya mendapati rumah itu sudah jadi puing. 
Om Hadi dan Tante Arie mengharu biru siang ini. Meski sudah lama meninggalkan rumah itu, tetap: disana ada banyak kenangan. Saya menyimak beberapa komentar Om Hadi dan Tante Arie yang sedang bernostalgia dengan kenangan-kenangan mereka. Saya sendiri memilih untuk bersirobok dengan kenangan tentang Sikin.
Mendengar rumah masa kecilnya dirobohkan, Om Totok yang ada di Solo, mendadak sakit. Ia harus opname.
“Jare Totok, semua ruh leleuhur podo ngumpul ke dirinya membuat badanya lemes… Seumur hidup baru ini dia opname. Be’e gara-gara rumah kampung kebon di bongkar yho…yho mbuuhlah” ujar Tante Arie.
Pada akhirnya, meski lama meninggalkan rumah, meski rumah sudah roboh, kenangan tak akan bisa rata dengan tanah. For house shall be collapse, but not the home
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

7 KOMENTAR

  1. Utk Nostalgi Rumah di Lumajang, ada yg terselip…..yaitu : Pohon Belimbing Wuluh, yg sering ku cucup sbg pengganti haus dahaga, terlebih saat liburan puasa di Lumajang. Pohon ini menjadi saasan kita rame-rame disebelah lantai penjemuran jagung, beras belakang rumah ts.

    Utk SIKIN juga ahli bikin STEMPEL. Stempel sesulit apapun, dalam sekejap JADI dibuat Duplikatnya, bahkan dulu pernah saat aku jadi panitia show ” GOMBLOH ” sang lengendaris lagu-lagu rakyat, STEMPEL Gombloh berhasil dibuat mirip seperti foto. Meski ada kelemahan juga, untuk Stempel berwarna, dia musti mikir tujuh kelililng.
    Ada kebiasaan lucu, sang ALM SIKIN kemana-mana membawa GITAR fals, aku sering diminta bantuan utk NYETEMkan gitarnya. Dia tahu aku punya GITAR Snar 12, dia terkagum=kagum ug akhirnya menjadi inspirasi utk membuat dengan ketrampilan tangan sebuah Gitar Snar 12. Anehnya susunan Snarnya sering tidak cocok dengan FRETnya, seperti Snar 1 campur dgn Snar 3, jadi suara yg ditimbulkan pny ” Timbre Aneh”

    Banyak kisah2 undercover yang menyelinap selama puluhan tahun menjadi suatu berita unik dan nostalgi untuk kita yang pernah mengalami sepenggal kisah-kisahnya.

    • Hehehe, iyo Om. Rumah Lumajang akeh wit blimbing wuluh. Buahe akeh 😀

      Wah, Sikin pancen legendaris ya. Sayang dulu aku kenal dia waktu masih kecil, belum punya keinginan untuk mendokumentasikan Sikin. Gitar pertamaku iku tuku nang Sikin, ditukukno ayah. Trus fret-e putung gara-gara ketatap lawang, hehehe.

  2. “Memaksa” kenangan indah muncul kembali…dengan segala keterbatasan memori yang saya punya. Diakui atau tidak, saya mempunyai sejuta kenangan dengan keluarga Ammar, keluarga Totok terutama keluarga alm Danil.Walau yang terakhir tidak disebut tapi karena beliau lah saya “mengakrabi” keluarga besarnya. Beberapa kali ketika liburan SMP (thn 1988/1989)saya pernah berkunjung ke ndalemnya Pakdhe So di Lumajang. Ayam dan Lek Dam itu yang paling teringat.
    Kalau untuk rumah Kampung Kebon, wuih….akeh tenan kenangannya.Terutama kenangan akan sepak terjangnya Totok Ardianto. Kadang jadi jujugan kalau pas SMA dulu saya bolos sekolah karena itu tempat satu-satunya yang ndak ada ortunya (Ngapunten Tante Fat…)
    Benar-benar banyak kisah-kisah undercover di dalamnya yang tidak pernah basi untuk diceritakan kembali.
    Terima kasih, Nuran …. (Ingat saya ndak?…)
    -Retna Ningrum-

    • Halo Mbak Retna 🙂

      Waktu mbak Retna pacaran sama almarhum mas Daniel (aku dikasih tau fakta ini sama Mbak Vivi belum lama berselang), aku masih terlalu kecil buat inget sampeyan. Hehehe. Seperti apakah sepak terjange om Totok? Kayaknya kita perlu kumpul2 deh mbak kapan-kapan. Bareng om Totok, Om Ammar, sama Om Endro. Reuni sekalian cerita-cerita, hehehe.

      Makasih sudah berkunjung ya Mbak 🙂

  3. Assalamualaikum,
    Nuran, saya mungkin belum pernah bertemu muka sama Nuran, namun di era 80 an saya juga pernah merasakan keramahan rumah ini, saya sudah merasa menjadi bagian dari rumah dan keluarga ini, semoga rumah ini hanya wujudnya saja yang sudah hilang, tapi tidak “jiwanya”, salam buat keluarga, wassalam

    DANDY ARIEF (sahabat Vivie)

    FORTUNA ABADI

    • Halo mas Dandy.

      Iya mas, kita belum sempat ketemu. Mungkin kapan-kapan bisa ketemu, amin. Dulu Om Ammar dan Mbak Vivi cerita, rumah ini sering dipake markas buat mbolos, hehehe. Apa sampean juga salah satunya? 😀

      Amin, semoga jiwa rumah ini masih tetap tegak. Juga kenangan-kenangan di dalamnya. Terima kasih sudah berkunjung ya Mas Dandy. Salam buat keluarga 🙂

  4. Hehehehe, kalo mbolos sih ngga, tapi pernah ada jadwal kunjungan wajib malam minggu nemenin mbak Vivie ????? , maaf ya sekedar nostalgia kok, berita rumah ini juga saya dapat dari mbak Vivie via BB kemarin, Ok Nuran semoga dilain waktu kita bisa bertemu muka,
    Wassalam

TINGGALKAN KOMENTAR