Selamat Hari Lahir, Perempuanku

170

Sedari dulu, saya bukanlah orang yang terorganisir. Saya tidak biasa merencanakan sesuatu jauh-jauh hari. Misal: ketika traveling biasanya saya tak punya rancangan perjalanan, nyaris tak pernah membeli tiket jauh-jauh hari.
Dan tuhan memang benar-benar seorang sutradara kehidupan yang punya selera komedi bagus. Ia mempertemukan saya dengan Rani Basyir, perempuan blasteran Padang/ Palembang. Nyaris sama seperti kebanyakan perempuan Sumatera yang saya kenal, ia juga sangat lah tegas. Dan juga disiplin. Ibarat lingkaran tao, dia yin dan saya yang. Atau sebaliknya.
Dia bersembunyi di balik badan saya biar tak
kentara kalau perutnya buncit
Karena itu, tak terhitung berapa kali saya dan Rani bertengkar gara-gara masalah sepele. Seperti urusan membeli tiket untuk berpergian misalnya. Ia selalu mengomel dan menyuruh saya agar membeli tiket jauh-jauh hari agar saya tak kerepotan mencari tiket menjelang hari keberangkatan.
Sedang saya, membeli tiket jauh-jauh hari itu kok rasanya seperti berjudi. Bagaimana jika terjadi sesuatu hal yang mendadak sebelum saya berangkat, yang mengakibatkan saya batal berangkat? Toh misalnya jadi, kalau  tiket kereta –moda transportasi andalan saya– habis, saya tinggal beralih ke bis. Tak repot kan?
Mengenai menulis juga. Rani selalu mengingatkan saya agar tak menunda pekerjaan. Ia beranggapan kalau sesuatu yang dikerjakan dengan mendadak dan mepet dengan deadline akan berakibat hasil yang tak maksimal. Sedang saya menganggap asyik jika mengerjakan sesuatu mendekati deadline. Pancaran deras adrenaline kala dikejar deadline itu merupakan pengalaman yang selalu menyenangkan. Selain itu pula, saya tipikal pekerja deadliner. Saya selalu bisa bekerja maksimal jika mendekati deadline.
Rani selalu memperlihatkan rasa sayang dan rasa pedulinya dengan apa yang perempuan biasa lakukan: mengomel. Ia mengingatkan saya pada mamak yang juga seringkali mengomeli ayah.
Ayah dan saya adalah satu sisi mata uang yang sama. Sedang Mamak dan Rani adalah sisi mata uang yang lain.
***
Saya dipertemukan dengan Rani via Motley Crue. Suatu hari saya melihatnya memposting video lagu “Kickstart My Heart” dari Motley Crue. Saya agak terkejut. Karena selama ini saya mengetahui dia sebagai pecinta The Doors dan Janis Joplin.
Tapi saya tertipu. Rani tak suka dengan band hair metal maupun glam rock. Selera musiknya berhenti di tahun 70, era dimana Jim Morrison dan Janis Joplin mangkat dan rock n roll tak pernah sama lagi. Melompati era 80-an, dan suka lagi musik era 90-an.
Dulu ketika masih awal-awal pacaran, kami sering bertukar lagu. Nyaris tiap hari. Malah di minggu-minggu awal, kami biasa bertukar lagu hingga 3 kali dalam sehari. Juga ditambah dengan surat-surat cinta elektronik. Kalau diingat sekarang, kami suka tertawa terbahak-bahak. Betapa old school-nya cara pacaran kami. Tapi kebiasaan itu berhenti gara-gara kami sudah bosan bertukar lagu lewat email, dan memilih untuk mengkopi langsung dari hardisk, hahaha.
Rani pernah marah gara-gara kuping saya angkuh.
“Kamu tuh gak akan bisa jadi jurnalis musik yang baik, kupingmu terlalu angkuh!” ujarnya dengan kesal pada suatu hari.
Sebabnya, saya enggan mendengarkan musik-musik kesukaannya. Sedang saya selaku propagandis hair metal –dengan angkuh, agresif, dan penuh agitasi– terus mencekoki musik hair metal ke Rani. Ia benci itu.
Tapi pada suatu hari, ia merengek minta dikirimi lagu-lagu Tesla. Saya kaget. Tesla? Itu kan termasuk band hair metal? Menurutnya, ia suka lagu “Love Song” yang saya kirim. Akhirnya sejak itu ia menyukai band-band hair metal. Semua ia lahap. Mulai dari Tesla, Skid Row, Motley Crue, Poison, hingga Steel Panther. 
Setelah itu saya bilang padanya dengan penuh kemenangan, “Mungkin aku gak akan pernah bisa jadi jurnalis musik yang baik, tapi sudah jelas terbukti kalau aku bisa jadi propagandis hair metal yang baik.”
***
Bulan Desember lalu, hubungan saya dengan Rani sudah memasuki 7 bulan. Bukan waktu yang panjang memang, tapi masih berjalan hingga sekarang. Kami sempat kaget ternyata kami bisa saling tahan dengan segala perbedaan kami. Mulai dari sifat hingga selera musik. Memang penyesuaian dan adaptasi itu tak pernah mudah.
Masa-masa paling berat ada pada 3-4 bulan pertama. Ketika kami bertengkar, masing-masing kami rasanya selalu bertanya, “Kok bisa aku pacaran dengan orang ini?” Tapi setelah masa itu terlewati, hubungan kami sudah relatif tenang dari gonjang ganjing yang besar.
Hingga sekarang, saya memang belum bisa jadi pacar yang baik. Selamanya mungkin tak akan bisa. Tapi saya sudah berjanji –setidaknya pada diri sendiri– untuk terus belajar menjadi pacar yang baik. Saya sering membuat Rani menangis. Apalagi kalau misalnya saya menggoda dia dan mengisenginya. Meski dia keras di luar, tapi dia sangat cengeng.  Tak terhitung berapa kali ia menangis gara-gara keusilan saya. Maafkan aku ya, hehehe. Kalau dia sudah gak kuat saya bully, dia hanya bisa merajuk, “Jangan lah kau bully pacarmu ini, pacar itu harusnya disayang” dengan logat Sumateranya.
Hari ini Rani ulang tahun. Sayang, lagi-lagi dimensi waktu dan jarak sedang tidak bersahabat. Saya dan Rani terpisah ratusan kilometer.
Meski kecewa karena tak bisa bersamanya ketika ia berulang tahun, tapi saya tetap senang karena Rani ada di Yogyakarta ketika tahun baru. Rani datang ke Yogyakarta dengan dua motivasi: melihat kembang api tahun baru, dan berkunjung ke Borobudur.
Tanggal 31 Desember malam, kami sempat menggerutu karena hujan tak kunjung reda. Seusai memasak bareng Wana, kami menunggu hujan sedikit sirna. Tapi hujan baru reda sekitar 30 menit menjelang pergantian tahun. Akhirnya kami menghabiskan tahun baru di Jl. Kaliurang, melihat kembang api, dan ketawa-ketiwi di bawah hujan yang kembali berkunjung. Seusai melihat kembang api di Kaliurang, malam kami tutup dengan makan sate.
Selain itu, saya berhasil menuruti keinginan Rani untuk pergi ke Borobudur. Entah kenapa ia ingin sekali berkunjung ke Borobudur. Diiringi hujan kami pun berlibur kesana. Senang rasanya bisa kembali berkunjung ke Borobudur setelah sekian lama. Terakhir kali saya berkunjung ke candi Buddha terbesar se Asia Tenggara itu ketika saya masih kelas 3 SMP. Sedang Rani lebih purba lagi, terakhir kali berkunjung ketika kelas 5 SD.
Lain kali kita pergi ke tempat yang lebih jauh ya. Suatu saat nanti. Semoga tak lama lagi.
Karena tak bisa mengucapkan ulang tahun secara langsung, tak bisa mengacak-acak rambutmu secara langsung, ataupun membuat kejutan langsung, mohon biarkan lelakimu ini mengucapkan selamat ulang tahun melalui tulisan. Karena cuma ini yang bisa aku lakukan. Sedang memberikan seperangkat alat sholat aku masih belum mampu. Hehe. 
Selamat ulang tahun perempuanku. Semoga tak lagi kau menjadi batu karang. Sekali-kali belajarlah jadi bambu yang luwes dan lentur. Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk berdiri disampingmu  hingga saat ini. Semoga kamu selalu diberkahi kesehatan, kebahagiaan, dan juga kekuatan dalam menempuh jalan yang panjang dan berkabut itu. The long and winding road, seperti kata The Beatles.
Ah, aku yakin, kalau kamu baca kalimat terakhir itu, pasti kamu ngomel, “lagi-lagi flowery words, cih!”
Yogyakarta, 5 Januari 2013
21. 49 WIB
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

4 KOMENTAR

  1. @ Wana : motivasi keempat aku dtg ke jogja: mau naik bus yg mogok di brebes selama 5jam di Brebes. :p

    @ mas RZ Hakim: makasih ya mas lagunya udah aku dengerin. liriknya dalem bgt ya mas. ihik jd terharu :’)

TINGGALKAN KOMENTAR