Sanctuaires Retrouves. Situs-Situs Marjinal di Jogja

265

Saya sudah lama sekali mencari buku Situs-Situs Marjinal Jogja garapan trio Rizky Sasono, J. Pascal Elbaz, dan Agung “Leak” Kurniawan ini. Perihal bukunya, saya tahu dari Mas Ciptadi Sukono, kolega di Jakartabeat, yang memasukkan buku ini dalam senarai buku travel pilihannya pada 2010, atau 2011. Saya lupa.

Sejak itu saya memburu buku ini. Nihil. Susah dicari. Mas Rizky, yang juga vokalis grup Rizky Summerbee and the Honeythief ini juga kebingungan memberikan rekomendasi tempat mencari buku ini. Ia menyarankan saya pergi ke Lembaga Indonesia Perancis Yogyakarta. Namun tak kunjung juga saya dapatkan buku ini.

Lalu waktu mengubur ingatan tentang buku ini.

Hingga akhirnya tadi malam kembali teringat karena si Panjul, Bapak Air Mata Nasional itu. Ia kaget karena ada rumah semi gereja dengan arsitektur gothic di Yogyakarta. Setelah saya cari, ternyata itu yang dikenal dengan sebutan Gereja Gothic Sayidan. Gereja ini bisa dibilang ‘tersembunyi’. Karena itu wajar kalau Panjul, yang sudah nyaris 10 tahun tinggal di Yogyakarta, atau saya yang pernah tinggal 3 tahun, tak tahu tentang bangunan ini.

Karena itu mendadak saya langsung teringat dengan buku Situs itu. Buku ini banyak membahas tentang situs atau tempat di Yogyakarta yang nyaris terlupakan. Entah karena letaknya yang tersembunyi. Entah karena namanya kalah mentereng dibandingkan Malioboro atau Prambanan.

Sore tadi saya mencuit lagi ke Mas Rizky. Menanyakan kembali di mana saya bisa dapat buku Situs. Sepertinya tak bakal ditanggapi, karena ternyata ia tak lagi aktif di Twitter. Untunglah cuitan ini ditanggapi oleh Ardi Wilda a.k.a Awe Mayer, vokalis bertampang dan bersuara mirip John Mayer ini. Ia bilang kalau pernah melihat stok buku itu di toko buku Jose Rizal di Taman Ismail Marzuki (TIM).

Tanpa membuang waktu, saya langsung menggeber motor ke sana. Kebetulan kantor saya hanya seperebusan air menuju TIM. Saya langsung ubek-ubek tumpukan buku di sana.

Sempat kesusahan karena ada banyak sekali buku di sana. Di rak sastra, saya melihat ada belasan, atau mungkin puluhan buku Burung-Burung Manyar-nya YB Mangunwijaya. Belum laku. Kalau ada yang mencari buku ini, silahkan mampir. Dijamin ada.

“Mas, ada buku Situs-Situs Marjinal gak?” tanya saya pada si penjaga.

Yang ditanya hanya menggeleng. Entah tak tahu, entah memang tak ada.

Saya menyempitkan kata kunci pencarian: buku traveling. Di depan, kata si penjaga. Saya menuju depan. Mencari pelan-pelan. Dan benar, orang sabar kekasih Tuhan. Saya menemukan buku ini di urutan dua dari puluhan buku yang ditumpuk. Saya mengambilnya susah payah.

Rencananya saya ingin beli dua eksemplar. Satu untuk Si Panjul biar dia tak melulu nangis. Aha, saya menemukan satu eksemplar lagi. Tapi tanpa sampul plastik dan kover sedikit kotor. Tak apa lah. Ketimbang tak ada. Lha, ndilalah mata saya menumbuk buku ini lagi. Dua lagi. Eh tiga lagi. Ternyata toko buku Jose Rizal masih menyimpan agak banyak stok buku Situs-Situs Marjinal.

Akhirnya saya menebus dua buku berjudul sama. Satu untuk Panjul, sebagai kado pernikahan. Ia, Panjul yang biasa galau dan nangis, sekarang sudah bisa legawa dan mulai percaya dengan lembaga bernama perkawinan. Tahun depan ia berencana menikah.

Saya sempat skimming buku ini sebentar sembari minum teh kotak di depan toko buku. Sebagian besar tempat yang ditulis adalah candi. Saya melongok tanggal dan tahun penerbitan. September 2002. Sudah 13 tahun yang lalu. Wajar saja kalau beberapa tempat di buku yang juga menyertakan teks bahasa Perancis dan Inggris ini sudah tak lagi marjinal.

Seperti Candi Ratu Boko, misalkan. Candi yang diperkirakan sudah ada sejak abad ke 8 ini sudah jadi destinasi wisata terkenal sekarang. Pemandangannya spektakuler. Karena letaknya di ketinggian, pengelola candi ini menjual senja dan pemandangan Yogyakarta dari atas. Laris manis.

Meski demikian, masih banyak tempat di buku ini yang belum banyak dikunjungi oleh para wisatawan. Malahan beberapa di antaranya baru saya tahu namanya. Candi Gunung Sari, misalkan. Atau Candi Gunung Wukir. Mungkin kalau sedang ke Yogyakarta, saya akan mampir ke salah satunya. Oh ya, buku ini jadi lebih menarik karena menampilkan banyak lukisan Agung “Leak” sebagai ilustrasi tempat wisata, alih-alih memakai medium foto.

Meski sudah berumur 13 tahun, dan sudah ada banyak sekali perubahan di isi bukunya, buku ini tetap lah layak dikoleksi. Apalagi buku ini tak dicetak ulang. Kemasan yang cantik, tulisan yang informatif, dan lukisan tangan yang apik, tentu jadi alasan kuat untuk mempunyai buku ini.

Bagi yang mencari buku ini, saya sarankan pergi ke toko buku Jose Rizal di TIM. Tadi sewaktu saya pulang, masih ada tiga eksemplar lagi. Semoga beruntung! []

TINGGALKAN KOMENTAR