Ketika The Darkness Kembali Menyulut Api

163

Tahun 2003 saya masih duduk di bangku SMA. Masih suka-sukanya membeli mp3 bajakan di lapak pinggir jalan. Di masa itu lah saya berkenalan dengan The Darkness melalui album debut fenomenalnya, Permission to Land.

Saya memaki dalam hati. Ternyata band seperti ini masih ada. Suara gitar yang tebal dan mentah itu. Solo gitar yang panjang dan menjerit. Hingga suara falsetto yang melengking, naik turun dengan sangat indah. Beautiful chaos by British bollocks number 1. Saya berkali-kali menyebut bahwa album itu adalah album yang menyelamatkan rock n roll.

Setelahnya, The Darkness tak jauh beda dengan Oasis atau The Black Crowes. Mengeluarkan album tapi tak sebaik album pendahulu. Lebih banyak diisi pertengkaran antara saudara. Mereka juga seperti dibayang-bayangi oleh kesuksesan album pertama.

Album kedua One Way Ticket to Hell…and Back lumayan mengasyikkan walau tak benar-benar bagus. “Is It Just Me” dan “Hazel Eye” bisa membuat saya tersenyum. “One Way Ticket” masih menunjukkan sarkasme tingkat wahid serta selera humor Hawkins bersaudara yang komikal dan cenderung surealis.

Album ketiga, Hot Cake, tak memberikan pengalaman yang mendebarkan seperti saat saya pertama kali mendengar Permission to Land dulu. Album ini nyaris tak meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Tipikal album yang hanya didengarkan selintas lalu saja.

Saya sempat berpikir band ini sudah selesai.

Hingga saya mendengarkan lagu “Open Fire” yang merupakan single dari album terbaru mereka, Last of Our Kind. Album ini akan dirilis pada Juni mendatang. Sebelum “Open Fire”, sudah ada single “Barbarian” yang dirilis.

Tapi saya lebih terkesan dengan “Open Fire”. Mungkin karena intro gitarnya yang langsung menarik perhatian. Ya ya ya, intro gitar ini sangat She Sell Sanctuary-esque. Tapi coba biarkan lagu ini terus berputar.

Akan kamu dapatkan aura The Darkness yang dulu sempat hilang entah kemana. Suasana yang membuat Thin Lizzy bangkit dari kubur, lantas berkolaborasi dengan Freddie Mercury versi jauh lebih begajulan.

The Darkness sudah kembali! Reff yang menghantuimu, dinding ritem yang kokoh, solo gitar yang panjang dan binal. Jangan lupakan Justin Hawkins yang suaranya nyaris tak berubah sejak 2003 silam.

Saat melihat video klipnya, kamu akan sadar kalau gitar double neck tetap keren dan tidak ketinggalan zaman meski kini Jimmy Page sudah tak cukup cepat untuk bermain solo “Rock N Roll”. Di tangan Justin, gitar double neck masih hidup, menyalak, berbahaya, dan akan terus ada!

Saya tak sabar menunggu Juni datang dan menghembuskan angin musim kemarau yang panas. []

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR