Bank

228

Di balik meja, seorang perempuan sedang lunglai. Ia baru saja usai menghitung bendelan uang yang diterimanya hari itu.

Pada pukul 1 siang, ia menghitung ada 16 bendel uang nominal Rp 100 ribu sejumlah Rp 160 juta. Selang beberapa jam, ada nasabah yang mengambil uang sejumlah Rp 30 juta. Ia menyerahkan tiga bendel seratus ribuan.

Sisa 13 bendel.

Hari berjalan dengan cepat, di sebuah bank swasta di pelosok kota kecil. Tak terasa, sore sudah datang. Jam 3, katanya bersaksi. Dan ia baru sadar kalau bendel uang yang tersisa hanya 12 saja.

Ia mulai panik.

Itu uang Rp 10 juta. Bukan uang yang kecil untuk pegawai sepertinya. Apalagi ia bukan berasal dari keluarga kaya. Semisal saja ia anak orang kaya, mungkin tak akan ia sibuk berpening di balik mesin penghitung uang yang robotik itu. Ia, yang kurus kering, mungkin akan lebih sering berlibur di luar negeri sembari mengunggah foto koleksi jam tangan berharga ratusan juta rupiah di Instagram.

Sayang, itu hanya khayalan, kata Oppie Andaresta.

Maka sore itu adalah sore paling kelabu dalam hidupnya.  Ia menceritakan tragedi –karena kesialan tidak cukup tepat menggambarkan kejadian ini– ini kepada sang ibu.

Ibunya, seorang perempuan tangguh yang menjadi orang tua tunggal bagi empat orang anaknya sejak 5 tahun yang lalu, tak berpikir dua kali. Ia menarik habis semua saldo yang ada di rekeningnya. Habis tak tersisa. Untuk mengganti uang yang hilang itu.

Bekerja di bank ternyata tak sementereng dan semenyenangkan yang dibayangkan orang. Bekerja di bank, kata sebagian besar orang yang ia kenal, gajimu tak seberapa ketimbang resikonya.

Jadi teller, kamu beresiko kecurian uang. Atau salah entry. Lantas kamu harus mengganti.

Jadi satpam, kamu bersiap dibacok atau ditembak penggarong.

Jadi pegawai manajemen, kamu beresiko tergiur untuk mencuri segepok uang.

Jadi debt collector, kamu beresiko digebuk orang sekampung karena dianggap kasar, lalu ditelanjangi dan diarak keliling.

Jadi kepala cabang, lebih besar lagi resikonya: menanggung semua kesalahan anak buah. Bagaimana kalau anak buah melarikan uang yang jumlahnya milyaran, sedangkan tak jua ia ditemukan? Itu artinya, kamu yang harus masuk penjara. Harus ada setidaknya seorang yang menanggung kesalahan.

Oh ya, masih ada yang ingat Melinda Dee? Hidupnya pernah bergelimang harta dan kemewahan. Di mana ia sekarang? Mungkin meringkuk di sel penjara yang dingin, sembari menggerutu karena implan payudaranya tak kunjung diganti.

Tapi toh banyak anak muda yang tergiur bekerja di bank. Setidaknya bekerja di bank, apalagi menjadi teller, kamu akan bekerja di ruangan berpendingin udara, dengan pakaian yang rapi. Orang tuamu pasti akan bangga melihatnya.

“Lagipula, pekerjaan apa yang tidak beresiko?”

Bank juga terkadang jadi instansi yang teramat lucu. Kamera pengawas, yang seharusnya menjadi pertahanan terakhir, malah tidak sampai ke meja si perempuan itu. Meja yang penuh dengan uang itu.

Secara logika, uang yang hilang itu pasti dicuri. Kalau salah entry atau terselip, mana mungkin satu bendel yang hilang. Pas, satu bendel. Tidak dua lembar seratus ribu, tidak pula 17 lembar seratus ribu. Tapi satu bendel.

Kalau saja kamera pengawas sampai ke meja si perempuan kurus yang kini sedang tersedu sedan itu, mungkin kamera akan menangkap satu orang yang mengendap; menengok kanan kiri; lalu tangannya dengan cepat dan lihat menceluk satu gepok uang lalu memasukkannya dalam tas.

Dalam keadaan seperti ini, paling mudah yang menggunakan falsafah orang Indonesia kebanyakan: yo wis lah. Semua sudah terjadi, wis kadung, ya tidak akan bisa kembali lagi. Uang bisa dicari. Anggap saja 10 juta itu ongkos akan keteledoranmu. Lain kali jangan lupa mengunci laci uang kalau kau pergi.

Juga ingat, bekerja di bank, jangan pernah percaya pada orang lain. Apalagi percaya soal keuangan. Bahkan petugas keamanan, yang tugasnya adalah menjaga keamanan, bisa saja menjadi pencoleng kalau sedang kepepet. Manusiawi.

Ingat juga satu hal: ibu, adalah orang yang akan selalu sigap membantu anak-anaknya. Seperti apapun keadaannya. []

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR