Pagi Dimulai dari Soto Pak Syamsul

905
Soto Pak Syamsul
Soto Pak Syamsul

Karena sebaik-baiknya penantian adalah menunggu di warung soto Pak Syamsul.

Belum juga beliau membuka warungnya, saya dan Nody sudah menunggu dengan setia. Kami datang jam 6 pagi. Lebih awal 30 menit dari jadwal buka Pak Syamsul. Pintu tarik dari besi itu baru dibuka separuh.

Tapi Pasar Colombo, tempat Pak Syamsul berjualan, sudah ramai dengan hilir mudik manusia. Nody asyik mengamati seorang ibu sentosa yang memakai daster.

“Iku deloken Can,” katanya pada saya, memberi kode dengan kerlingan mata.

Kali ini saya tak tergoda. Saya lebih memilih untuk duduk di depan Pak Syamsul. Belum tidur selama nyaris 24 jam membuat kadar kecerewetan saya meningkat drastis. Saya dan Nody sama-sama belum tidur. Semalaman kami nongkrong bareng mas Puthut EA. Berawal dari Beatles Cafe di Prawirotaman, berakhir dengan ngobrol ngalor ngidul di Dunkin Donut sampai matahari pagi muncul. Dan kalau kamu merasa saya cerewet, tunggu sampai saya belum tidur seharian.

Gara-gara itu pula, saya nanya ini dan itu ke Pak Syamsul. Untunglah beliau tipikal orang yang suka berkisah. Tentang kampung halamannya yang sedang diributkan orang banyak, Blitar, atau tentang istri yang asli Kediri –mengingatkan saya akan kampung halaman nenek Nody, yang sering dipakai sebagai kamuflase saat ingin berkencan lintas kota.

Daging sandung lamur dan sengkel sapi sudah direbus selama satu jam. Menghasilkan kaldu yang pekat, keruh, dan tentu saja… surgawi.

“Satu jam saja udah cukup kok ngerebusnya, sudah empuk dagingnya,” kata Pak Syamsul yang bersuara berat itu sembari mengangkat potongan daging berukuran besar. Sepergelangan tangan saya, mungkin.

Pak Syamsul kemudian dengan tangkas mengambil daging yang baru saja direbus. Masih panas. Tapi sepertinya pengalaman puluhan tahun memegang daging sapi rebus dengan tangan telanjang, membuat kulit tangannya menebal.

Ia santai saja mengiris daging sapi rebus itu ke dalam potongan sekali lahap. Lalu, byuurrr, mencemplungkannya ke dalam panci berisi kuah kaldu.

Pak Syamsul punya tempat menaruh panci yang sangat otentik. Berbentuk pikulan. Sebilah tongkat panjang, yang di ujung kanan dan kirinya ada keranjang tempat panci. Sebagai ornamen, ada dua tanduk kerbau di sisi kanan dan kiri. Tanduk berujung runcing itu tampak gelap, hasil terkenal asap sejak 1985, awal beliau berjualan di Yogyakarta.

Dulu, apalagi di Jawa Timur, ada banyak sekali penjual soto pikulan seperti ini. Sekarang mungkin susah mencari pikulan klasik seperti ini. Apalagi yang ada tanduk sapinya. Sekarang penjual soto keliling lebih memilih untuk menggunakan gerobak. Lebih ringkas dan ringan.

Pak Syamsul berkali-kali membuka tutup panci tempat kuah soto. Aroma wangi menguar di udara, terperangkap di warung yang pintunya baru dibuka separuh itu. Sembari melakukannya, lelaki yang masih tampak sehat di usia menjelang 60 ini juga mengiris daun seledri.

Di bagian dapur kecil, tepat di belakang pikulan soto, keponakan Pak Syamsul sedang asyik menjerang air untuk kemudian ia masukkan ke dalam teko plastik. Wangi teh melati menusuk-nusuk hidung. Aih, ini wangi yang membuat saya pergi ke sebuah swalayan untuk mencari teh cap Botol, yang wangi dan rasanya begitu sukar ditandingi.

Pak Syamsul punya empat orang anak. Dua orang perempuan, dan dua lagi laki-laki. Yang perempuan sudah menikah dan ikut suami. Sedangkan dua anak lelakinya ada di Kediri.

“Katanya mereka mau buka warung soto sendiri,” kata Pak Syamsul yang bilang kalau sotonya adalah gagrak Lamongan, walau tak pakai koya dan bukan pakai daging ayam.

Datang ke Pak Syamsul pagi-pagi, itu artinya belajar untuk menahan diri. Bagaimana tidak, di depanmu tersaji aneka lauk yang siap santap. Ada potongan paru yang digoreng kering, baru saja diangkat dari penggorengan. Pun, tempe berbalut tepung yang renyah. Juga ada tempe garit yang cokelatnya menggoda. Jangan lupakan potongan iso yang akan membuatmu ketar ketir dengan angka kolestrol.

Hingga, ini jagoan saya, potongan otak sapi yang sudah dibalur telur lantas digoreng. Alamak! Saya berusaha jadi pertapa dengan tak dulu menyentuh potongan otak ini sebelum soto terhidang. Namun gagal. Saya mencomot satu potong. Menggigitnya dengan gemas. Aduh, seketika mulut saya dipenuhi oleh lumeran otak sapi yang rasanya begitu sederhana –saya menduga hanya dibumbui garam saja– dan rasa gurih telur.

“Mau soto apa? Jumbo apa biasa?”

Jawabannya sudah jelas. Saya sedang kelaparan pagi itu. Maka Pak Syamsul dengan cekatan menyendok dua-tiga centong nasi putih ke dalam mangkok bergambar ayam jago, menaburkan kecambah dan seledri, menaruh beberapa potongan daging sapi rebus, lalu menyelesaikannya dengan satu guyuran kuah panas.

IMG20150608063930

Saat soto datang, saya menambah potongan otak sapi, satu kerat paru goreng, mencipratkan jeruk nipis, lalu memberinya sesendok sambal. Saya aduk sebentar, lalu saya suap perlahan.

Saya mengenali perasaan ini, yang kerap dicari oleh banyak orang modern.

Iya: kebahagiaan.

Post scriptum: Foto dari Dik Nody Arizona. Saat itu saya sedang berusaha memusatkan pikiran agar tak tergoda potongan otak goreng. Jadi tak sempat foto-foto.[]

7 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR