Rame Aki-Nini

Makanlah untuk hidup, jangan hidup untuk makan.

Bagi banyak orang, petuah bijak itu dianggap guyonan belaka. Atau setidaknya cukup didengarkan, tak perlu diamalkan. Tak usah jauh-jauh menyebut Adam Richman, Takeru Kobayashi, Joey Chestnut, atau Matt Stonie. Contoh terdekat adalah almarhum ayah saya.

Sewaktu terkena stroke untuk pertama kalinya, dokter sudah mewanti-wanti untuk mengurangi makanan dengan tingkat kolesterol tinggi. Awalnya, sebagai pasien yang baru kena hantam stroke, tentu dia takzim. Belakangan, sama seperti orang-orang yang hidup untuk makan, dia menganggap petuah itu sebagai guyonan belaka.

Ayah kerap curi-curi kesempatan menyantap makanan favoritnya. Tentu dengan kadar kolesterol yang bisa bikin dia kena stroke lagi. Gulai otak, sate kambing, sampai kikil. Benar saja. Sekitar setahun setelah stroke pertama, ayah kena stroke lagi. Kali ini lebih parah. Melumpuhkan bagian tubuh sebelah kiri. Dari bahu hingga kaki.

Lagi-lagi, dokter memperingatkan keras: hindari makanan berkolesterol tinggi! Kemudian ulangi lagi lingkaran narasi yang sama: ayah mendengarkan dengan takzim, coba mempraktikannya, lalu kembali menganggap segala larangan makan itu sebagai lelucon konyol dan omong kosong terbesar dalam sejarah peradaban manusia.

“Hidup itu cuma sekali, harus dinikmati,” katanya, yang saya ingat betul sewaktu menceramahinya karena baru saja makan sate kambing.

Total jenderal ayah kena stroke empat kali, atau malah lima kali ya? Saya sudah kehilangan hitungan. Dia tetap menikmati makanan yang menyerempet –atau malah sudah ada di inti zona– bahaya. Hingga akhirnya pembuluh darah di dekat otak pecah, menyebabkan penggumpalan darah. Ayah tak sadar selama beberapa jam sebelum akhirnya meninggal.

Sedih? Tentu. Tapi saya merasa ayah bahagia di akhir hayatnya. Dia bisa mencoba semua makanan kegemarannya. Hidup untuk makan! Yeah. Perlu ditiru? Nanti dulu.

Belakangan ini saya ketakutan sekali menjalani hidup seperti ayah. Mamak juga selalu mewanti-wanti tentang hal ini. Kemarin sempat menimbang berat badan, sudah lewat dari 82 kilogram. Seram. Saya coba untuk mengurangi asupan hidrat arang di malam hari. Menggantinya dengan buah. Lumayan ampuh. Seminggu berlalu, berat badan sudah turun 4 kilogram.

Yang repot, semua makanan favorit saya ada di zona merah kolesterol. Alias kolesterol amat tinggi. Sebut saja otak, kuning telur, ataupun durian. Sekarang sih saya sudah mulai mengurangi makanan yang menyerempet bahaya itu. Apalagi kalau bahu kanan sudah mulai kesemutan.

Mertua saya sempat membekali obat penurun kolesterol. Dibuat dari campuran sari lemon, apel hijau, dan bawang putih. Saya rutin meminumnya tiap malam, dua sendok sebelum tidur. Ramuan tradisional itu lumayan membantu mengurangi kolesterol.

***

Hari Sabtu kemarin saya diundang acara Tangkal Kolesterol Bersama Nutrive Benecol. Farchan yang merekomendasikan saya. Karena sedang tak ada kerjaan di hari Sabtu, plus ingin sesekali coba belajar lebih dalam tentang kolesterol, maka saya datang. Meski itu artinya saya harus bangun jam 8 pagi dan menuju SCBD yang asing,

Di bayangan saya, acara ini diadakan untuk food blogger. Dalam jadwal acara yang dikirim ke surel, ada acara demo masak segala. Mungkin akan diajarkan cara masak bahan makanan yang ringan kolesterol, namun tetap enak. Boleh, boleh.

Lha ternyata saya kecele. Yang datang ada ratusan orang. Mayoritas adalah bapak ibu berusia lanjut. Mereka memakai baju yang seragam. Celana training, sepatu olahraga, dan baju hijau ala Nutrive. Saya bengong. Ini acara apaan ya?

Ternyata acara ini memang kampanye tangkal kolesterol skala besar. Pangsa pasarnya ya bapak ibu usia lanjut yang peduli dengan kesehatan. Mereka yang tak ingin kena stroke, diabetes, atau jantung koroner.

Saya meringis. Mau pulang nanggung. Saya akhirnya memilih untuk duduk di bagian tengah, sembari membaca Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi untuk yang ketiga kalinya.

Ternyata pilihan saya untuk tidak pulang adalah keputusan yang benar. Saya seperti melihat almarhum ayah dalam perwujudan bapak-bapak yang bersemangat. Tanya ini itu soal kolesterol dan stroke. Juga bisa melihat Mamak dalam diri ibu-ibu yang bergerombol, berisik, ceriwis, dan kadang merepotkan para penjual Nutrive. Saya mesam-mesem sendiri.

Selain melihat para manula yang bersemangat itu, hiburan saya yang lain adalah melihat Chatalia Olivianti. Awalnya saya tak tahu siapa dia. Belakangan saya tahu kalau dia instruktur senam. Dia mengajarkan gerakan senam yang bisa dilakukan dengan duduk di atas kursi. Saya tentu tak ikut gerakan melelahkan macam itu. Kisah indehoy Sungu Lembu dan Nyai Manggis tentu lebih menarik. Namun saya sempat mencuri tengok ke Mbak Chatalia setelah selesai senam. Badannya mengkilat karena keringat. Aduh. Mak.

Sebagai orang yang datang karena tertarik dengan demo masak, perhatian saya tentu terpaku pada demo masak dr. Penihedi. Dokter ini akan memasak tiga hidangan: pembuka, makanan utama, dan pencuci mulut.

Selagi memasak, Dokter Peni juga banyak memberikan tips seputar menangkal kolesterol.

“Poinnya keseimbangan. Sayur, protein dari kacang-kacangan. Selama ini kita mengira protein itu melulu dari daging. Padahal protein bisa datang dari makanan lain. Juga harus diimbangi dengan sayuran.”

“Kadar lemak dalam kambing itu lebih rendah lho ketimbang kadar lemak dari sapi.”

Wah, berarti benar kata ayah saya yang bilang kalau kambing itu lemaknya rendah. Saya pikir dulu beliau cuma berkelakar saja agar dibolehkan menyantap 10 tusuk sate kambing.

“Masalahnya adalah, daging kambing di kuliner kita itu biasanya dimasak dalam waktu yang lama. Gule, misalkan. Kan pasti dimasak lama. Akibatnya adalah selain nutrisi hilang, lemaknya juga jadi tinggi karena santan mengeluarkan minyak.”

“Lha, masakan pake santan kan lebih enak kalau dimasak lebih lama,” kata emak-emak di belakang saya.

Saya cekikikan.

Untuk makanan pembuka, Dokter Peni memasak tomato beef gratin. Bukan menu yang sukar dimasak. Tomat dibelah dua, lalu dikerok bagian isinya. Kemudian ditaruh daging cincang yang sudah dimasak bersama bawang putih, bawang bombay, pasta tomat, oregano, garam, dan lada. Tomat yang sudah diisi daging bisa dipanggang, atau dikukus. Tomat juga bisa diganti oleh paprika. Pasti sama enaknya.

“Tomat sebagai sayur menjadi penyeimbang daging,” kata Dokter Peni.

Waktu itu ingin rasanya saya teriak: Dok, tomat kan buah-buahan. Tapi sudahlah.

Menu utama adalah steak dori dengan saus mangga. Dori memang sedang populer belakangan ini. Harganya lebih murah ketimbang salmon, dan rasanya tak kalah enak. Sama seperti masakan pertama, memasak steak dori ini tak ribet. Bahkan mereka yang baru pertama kali memegang pisau, pasti bisa memasak ini.

Saus dimasak dulu. Tumis bawang putih dan bawang bombay hingga layu. Kemudian masukkan jus mangga. Bisa botolan, bisa juga jus mangga yang dibikin sendiri. Masukkan beberapa cubit daun ketumbar. Masak hingga mendidih dan sedikit kental. Sisihkan. Sedangkan dorinya cukup dipanggang hingga dua sisinya kecoklatan. Siram saus ke atas steak dori.

Dori steak with mango sauce, done (ucapkan dengan nada Gordon Ramsay).

Masakan penutup adalah snack bar. Saya menganggapnya itu versi lebih sederhana dan simpel dari klappertaart.

Caranya adalah campur air dan jelly, lalu didihkan. Masukkan gula Jawa secukupnya. Aduk hingga gula Jawa mencair. Sisihkan. Kemudian campur serutan daging kelapa, sobekan daging kurma, dan potongan pisang dalam wadah. Kemudian siram dengan jelly. Masukkan kulkas.

Mudah kan?

Acara kemudian berlanjut dengan pengundian door prize. Saya memutuskan untuk tak ikut acara ini. Selain karena tahu kalau nasib saya selalu buruk kalau soal undian macam ini, saya juga kelaparan karena sedari pagi belum makan.

Di tengah perjalanan pulang, saya mampir ke kedai nasi Kapau langganan saya. Pesan nasi dengan gulai otak. Lalu makan dengan lahap. Kolesterol? Sementara ini saya belum takut. Masih ada stok beberapa botol Nutrive. Kemudian terngiang ucapan dokter di acara tadi.

“Minum dua botol Nutrive Benecol, bisa mengurangi kadar kolesterol.”

Lalu saya memutuskan untuk menambah gulai otak. Tambo gulai otak ciek, Da! []

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR