Anak-Anak Memang Harus Bahagia

433

Bahkan di Jakarta, kota yang katanya sama sekali menihilkan kemanusiaan, anak-anak masih bahagia dengan caranya sendiri.

Kemarin malam, sewaktu mau menjemput seorang teman di Rawajati, motor harus berjalan pelan karena agak macet di belakang apartemen Kalibata. Ada empat orang anak –tiga lelaki dan satu perempuan– sedang berdiri sembari ketawa-ketiwi. Waktu saya semakin dekat, mereka seperti bersiap.

“Pak, standarnya!” Mereka teriak sembari menunjuk standar motor saya.

Reflek saya bilang terimakasih sembari mencoba membenarkan standar. Eh ternyata standar saya tak turun. Mereka ketawa keras. “Ketipuuu,” kata mereka.

Asu, saya ditipu bocah ingusan. Tapi saya toh tertawa keras. Sewaktu pulang, sekitar 30 menit berselang, empat orang bocah tengil itu masih ada di tempat yang sama. Menipu orang lewat dengan trik yang sama, dan tetap tertawa-tawa. Wajah mereka bikin saya sadar kalau bahagia itu memang bisa sangat sederhana.

“Mbak, standarnya!”

Si Mbak yang ditunjuk gelagapan dan mencoba membenarkan standarnya.

Saya ngikik.

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR