Belakangan saya sedang rajin mendengarkan ulang The Wallflowers. Dulu waktu SD saya beberapa kali lihat video “One Headlight”. Walau tak mudeng-mudeng amat, saya suka reff lagu itu. Kemudian setelah dewasa dan ada internet, saya tahu kalau lagu itu ada di album kedua mereka, Bringing Down the Horse (1996).

Dari internet pula saya tahu kalau otak di balik band ini adalah Jakob Dylan. Dari nama belakangnya saja kita tahu siapa bapak si Jakob ini. Jakob adalah anak bungsu dari lima bersaudara hasil pernikahan Bob dan istri pertamanya, Sara. Bob dan Sara menikah pada 1965 dan bercerai pada 1977. Jakob kemudian ikut ibunya.

Jakob lantas berusaha lepas dari bayang-bayang bapaknya, musisi yang kerap disebut sebagai salah satu musisi terhebat sepanjang masa. Tapi apa daya, menyandang nama Dylan adalah kutukan. Jakob berusaha lepas dari nama besar bapaknya dengan segala cara. Dalam setiap wawancara, Jakob tak pernah menyebut Bob dengan sebutan ayah atau bapak. Selalu “dia” atau “lelaki itu”. Usaha lain: membentuk The Wallflower.

Album pertama yang kurang sukses nampaknya akan tetap membuat Jakob menjadi catatan kaki dalam sejarah si bapak. Namun album Bringing Down the Horse berhasil mengangkat nama Jakob. Album itu laris manis, terjual empat juta kopi. Dapat lima penghargaan Grammy, dua dimenangkan. Semua lagu di album itu dibuat oleh Jakob.

Tapi toh tetap saja Jakob tak bisa lepas sepenuhnya dari bayangan si bapak. Meski dianggap lebih tampan dan lebih bisa nyanyi ketimbang si bapak, banyak yang membandingkan gaya menulis lirik antara Jakob dan Bob.

“Sampai sekarang, setiap aku pergi ke restoran orang masih berkata ‘aku suka karya ayahmu’,” kata Jakob pada The New York Times.

Apa boleh bikin. Salah satu pekerjaan terberat anak lelaki adalah: lepas dari bayangan bapaknya. Apalagi kalau si bapak adalah orang terkenal.

Galang Rambu Anarki, anak lelaki pria bernama Virgiawan Listianto, suatu saat pernah kabur dari rumah. Biasa, remaja yang lagi senang-senangnya memberontak. Tapi toh akhirnya dia pulang. Bukan karena rindu rumah. Melainkan karena dia melihat wajah bapaknya di mana-mana. Poster, baliho, televisi. Dia seperti diawasi.

Jakob, Galang tak sendiri. Tinggal sebut nama saja. Sean Lennon, Jason Bonham, hingga Simon Collins. Mereka pasti berusaha keras lepas dari nama besar sang bapak. Walau ya mereka berkarya tak jauh dari ladang yang membesarkan bapaknya.

Suka tak suka, orang pasti membandingkan antara anak dan bapak. Repotnya kalau si anak tak bisa lebih besar dari si bapak. Pasti akan jadi, mengutip istilah Jakob, sekadar nama dalam halaman buku biografi si bapak. Sean Lennon kita tahu tak akan pernah bisa melampaui John. Jason Bonham tak akan bisa lepas dari John. Bahkan usahanya membentuk band pun seakan tak mau melepaskan diri dari nama si bapak. Terakhir, dia akhirnya “berdamai” dengan warisan dan kenangan terhadap si bapak. Jason menjadi drummer untuk Led Zeppelin, band ultra legendaris yang memilih bubar setelah John meninggal.

Mungkin langkah paling benar adalah seperti yang dilakukan Duncan Zowie Jones, anak lelaki David Bowie. Kalau kamu pernah dengar “Kooks” yang hangat dan humoris –dalam lagu itu, Bowie berpesan: jangan berantem dengan tukang risak, sebab aku tak lihai meninju muka ayah anak lain– itu lagu yang dibuat Bowie untuk Duncan.

Mungkin Duncan sadar tak akan bisa melampaui nama besar ayahnya di bidang musik. Akhirnya dia lebih memilih berkarya di bidang lain, film. Selain itu dia tak menggunakan nama Bowie –meski itu nama panggung. Karena karya yang bagus, beda lahan dengan si bapak, dan tak ada nama Bowie di belakang, setahu saya tak ada yang membandingkan Duncan dengan ayahandanya.

Mendengarkan The Wallflowers dan membaca wawancara-wawancara Jakob Dylan membuat saya sadar betapa beratnya lepas dari bayangan si bapak. Makanya saya ketawa kecil, sekaligus merasakan getir, saat membaca berita-berita tak penting tentang seorang anak ustadz yang baru saja menikah di usia 17 tahun. Yang bikin saya nyengir adalah: banyak situs berita bahkan tak menyebut namanya di judul. Predikatnya selalu: anak Arifin Ilham. Entah bagaimana perasaannya yang selalu dirujuk sebagai “anak Arifin Ilham”, bukan sebagai dirinya sendiri. Kalau saya ada di posisinya, pasti gondok.

Mengingat dia masih muda, seharusnya jalannya masih panjang untuk lepas dari bayangan si bapak. Apalagi bapaknya toh tidak terkenal-terkenal amat (apalagi kalau dibandingin dengan Iwan Fals, Jason Bonham, David Bowie, atau Bob Dylan).

Selamat berjuang, Nak.

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR