Sekira empat tahun lalu, saya mengantarkan Panjul ke Rumah Sakit Sardjito, Yogyakarta. Saat itu saya kebetulan sedang menginap di markas anak-anak KBEA. Tak lama usai Subuh, saya mendengar Panjul mengerang kesakitan. Saya terbangun, dia sudah merengek.

“Anterin gue ke rumah sakit, Ran. Pinggang gue sakit banget,” ujarnya memelas.

Saya langsung ambil motor, dan kami ke RS. Panjul langsung tiduran di brankar, dan saya yang mengurus administrasi, dokter, dan segala tetek bengeknya. Siang datang, saya harus pulang ke Jakarta. Panjul ditemani oleh pacarnya –yang sekarang jadi mantan, eaaa.

Di kereta, saya dapat kabar dari Panjul kalau ginjalnya bermasalah. Penyebabnya klise: kurang minum air putih dan kebanyakan duduk.

Hitung maju setahun kemudian, giliran Dhani yang merengek pagi-pagi di hari Minggu. Buntelan lemak ini mengabari kalau dia masuk rumah sakit dan tidak ada yang menjaga. Saya berangkat dari Depok untuk menemaninya.

Ternyata penyakit Dhani sama dengan Panjul: batu ginjal. Cuma, Dhani lebih parah. Sejak 2014 saya sekantor dengan Dhani, sampai hapal kebiasaannya.

Dia datang, menaruh tas di bawah meja, buka laptop, dan tenggelam di dunia maya sampai dia bosan. Saat itu, kebetulan pula dia sedang merintis karier jadi selebtwit, jadi harus setiap saat ada di Twitter.

Mungkin dia berhenti menatap laptop ketika harus makan. Dia jarang buang air kecil (lebih sering berak, dan kadang lupa disiram pula, jancuk tenan), nyaris tidak pernah saya melihatnya minum air putih. Baginya, air putih hanya diminum setelah makan. Lain itu, tidak usah.

Batu ginjal Dhani cukup parah, dan mengharuskannya operasi. Dhani cerita, dia dilaser. Hasilnya, gumpalan batu kerikil yang sudah jadi pasir keluar dari lubang kencingnya.

Cerita itu membangkitkan memori menyakitkan belasan tahun lampau, saat saya melihat ayah meringis kesakitan di kamar mandi karena tak bisa kencing. Batu ginjal menyumbat saluran kencingnya. Saya lupa bagaimana akhirnya ayah menghancurkan batu itu, tapi saya tak akan lupa mimik kesakitannya, dan perasaan leganya ketika batu kerikil tajam itu berhasil keluar dari lubang kencing.

Sebetulnya saya sudah dua kali mengalami kesakitan di ginjal. Pertama sekitar tahun 2010. Pulang dari warnet, tiba-tiba saya merasakan sakit di pinggang bagian kanan. Rasanya seperti ditujah belati tumpul. Begitu sakit hingga susah bernapas. Saya langsung meminum dua liter air putih. Rasa sakit itu hilang, untuk kemudian datang lebih dahsyat keesokan harinya.

Saya memaksakan diri untuk pulang dan cerita ke ayah dan mamak soal keluhan ini. Ayah menasehati –tipikal nasehat yang bakal kamu kenang karena ia diceritakan dari orang yang pernah mengalaminya– betapa pentingnya minum air putih.

Saya sempat menceritakan pengalaman menyakitkan itu di postingan lawas. Di tulisan itu, saya sok-sokan ingin hidup sehat, olahraga, dan segala macam omong kosong yang sering kamu dengar dari orang-orang yang baru kena timpa penyakit.

Benar saja, pada 2014, ginjal saya kembali bermasalah. Ini lebih sakit dari pengalaman pertama dulu. Saya sampai tak bisa bergerak, pipis pun harus dikeluarkan di botol. Rani bingung melihat saya kesakitan hingga nyaris tak bisa ngomong. Dia lalu membelikan saya obat di apotek, sembari mengomel dan mengingatkan: jangan malas minum air putih!

Saya cuma mengangguk pasrah, minum obat, lalu minum air putih banyak-banyak. Sampai sekarang, meski saya masih bandel karena jarang sekali minum air putih, penyakit itu tidak pernah datang lagi –walau amat mungkin akan kambuh. Cuk.

***

Sekarang saya sudah berusia 31, Desember nanti akan 32. Sebenarnya usia yang terbilang muda. Namun sejak beberapa waktu silam, usia 30-an sudah masuk usia rawan, masa di mana penyakit mulai berdatangan, bahkan yang sebelumnya tak pernah kamu idap.

Sekira tiga bulan lalu, saya kena tifus untuk pertama kalinya dalam hidup. Awalnya kupikir demam biasa. Lalu sembuh. Tapi malam lemas dan lidah pahit, tak enak makan. Siang mendingan, lalu lemas lagi di malam hari. Rani yang juga sakit, curiga saya kena tipes. Lalu kami berdua periksa ke dokter.

Hasilnya: kami sama-sama kena tifus ringan.

Penyakit ini sering dikaitkan dengan pekerjaan yang terlampau berat hingga bikin kondisi tubuh menurun. Rani amat mungkin kena tifus, sebab dia pekerja keras. Pula, jam biologisnya terbalik, yang rentan bikin kondisi tubuhnya drop.

Lha saya?

Saya bukan pekerja keras, seringkali kerja dari rumah, tak pernah kerja berlebihan hingga lembur, hanya mungkin jam biologis saya yang tak sama dengan manusia kebanyakan. Bisa jadi itu yang memicu kondisi tubuh menurun.

Lalu saya bertanya-tanya; bukankah jam biologis terbalik macam ini sudah saya jalani sejak SMA, dan makin parah ketika kuliah? Kenapa baru sekarang saya kena tifus?

Saya berusaha menjawab sendiri pertanyaan itu: usia. Alias, aku wis tuek. Sederhana, gak banyak analisis ndakik-ndakik. Usia tua nyaris bersinonim dengan kekuatan tubuh yang berkurang. Maka di usia 31 ini, saya makin sering pilek, batuk, juga masuk angin. Kena angin dikit udah mual-mual, huek-huek, berujung minta kerokin. Dulu mana ada. Belagu benar, keluar malam tanpa jaket hingga Subuh. Sekarang, naik motor dari Depok ke Sudirman siang-siang tanpa menutup jaket saja sudah masuk angin.

Penyakit perdana ini belum selesai.

Tiga hari lalu, saya terbangun lalu mendapati dunia berputar kencang. Jangkrik, maki saya. Ini vertigo. Saya merem, dan dunia tetap menggedor-gedor kepala.

Sebenarnya ini bukan penyakit asing. Mamak sering kena vertigo, bahkan beberapa kali opname karena vertigonya parah.

“Wuiiih, koyok munyer-munyer. Trus ngelu, terus muntah,” ujarnya dulu.

Tiga dekade saya hidup, tidak pernah saya kena vertigo. Baru kemarin. Dan benar kata Mamak: dunia berputar di kepalamu, meninggalkan pening dan mual yang menonjok perut. Untungnya vertigo ini tidak terlalu parah, sehingga dua-tiga hari saya sudah pulih dan bisa menulis ini.

Di hari saya kena vertigo, si Putra, kawan baik saya yang kerja di Coffee Life, tiba-tiba kirim pesan.

“Ran, badanku tiba-tiba menggigil, keluar keringat, dan muka pucat. Apakah itu tanda-tanda serangan jantung? Gue ngalamin itu semalam, setelah masak. Pagi ini, habis minum kopi jantung gue juga agak gak enak. Terus agak enakan setelah gue minum air putih.”

Saya agak panik karena ciri-ciri itu adalah jantung yang bermasalah –lagi-lagi bukan penyakit baru di keluarga saya. Ada dua orang keluarga dekat –satu paman dan satu sepupu yang meninggal di usia 34 karena serangan jantung. Ada lagi satu om yang jantungnya bermasalah sejak beberapa tahun lalu, dan diikuti oleh gagal ginjal yang bikin dia harus cuci darah seumur hidupnya.

Si Om ini pernah kena serangan jantung ringan. Ciri-cirinya sama dengan yang dibilang Putra. Badan mendadak kedinginan, lalu jantung serasa diremas sarung tangan berduri, dan mandi keringat.

Maka saya bilang ke Putra buat periksa ke RS. Dia nurut. Hasilnya: jantungnya kecil, disarankan kurangi berat badan dan merokok. Buat yang belum kenal Putra, dengan tinggi badan sekitar 168-170 centimeter, beratnya lebih dari 120 kilogram. Dia sadar bahwa dirinya obesitas. Pernah pula dia diet dan olahraga beberapa waktu lalu. Namun tentu saja berhenti dalam waktu sebentar saja.

“Nanti pagi gue mau jogging,” kata Putra.

Lagi-lagi omong kosong, seperti yang selalu saya gaungkan.

***

Jadi tua itu pasti, tapi menjalani hari tua seperti apa adalah pilihan. Sejak dulu saya sadar: besar kemungkinan hari tua saya tak akan cemerlang-cemerlang amat. Rekam jejak suka makan sembarangan, malas olahraga, dan jam biologis awur-awuran, membuat saya bersiap diri kalau akan kena stroke, diabetes, atau gagal ginjal kelak.

Namun sesiap-siapnya menghadapi hari berat itu, saya gentar juga. Tak ada orang yang benar-benar siap menghadapi penyakit di hari tua. Tak ada.

Dan ini yang kemudian membuat saya berpikir ulang tentang hidup, penyakit, dan kematian. Ini juga berangkat dari pengalaman saya (dan Mamak) mengurus ayah yang stroke selama delapan tahun.

Rasanya kematian itu biasa saja. Namun akan jadi tidak biasa ketika jalan menuju kematian itu berliku, dan ini yang menyebalkan: merepotkan banyak orang. Sebagai orang yang hidup dengan banyak rasa sungkan, hidup dengan banyak penyakit itu akan bikin saya merepotkan banyak orang –sesuatu yang paling saya hindari.

Bayangkan kalau saya kena stroke tapi tidak langsung mati, entah lumpuh, entah setengah lumpuh. Rani tentu saja akan jadi orang yang paling saya repotkan. Dia harus memandikan, membuang kotoran, memasak, kerja, dan berurusan dengan mood penderita stroke yang naik turun dengan cepat sekali.

Hidup macam apa itu?

Saya pernah melihat bentuk cinta tulus ketika Mamak merawat ayah selama satu windu. Namun itu tak indah seperti di dongeng. Saya sering melihat Mamak menangis karena dibentak ayah yang mengalami mood swing, atau kesal karena ayah tidak bisa dinasehati –dia tetap hobi makan sate kambing dan jajan di warung. Juga sering bingung karena kehabisan uang untuk berobat.

Dan percayalah, menjalani laku merawat orang sakit itu sulit. Sulit sekali. Amat sangat sulit.

Saya tak ingin seperti itu, dan tidak ingin Rani melakukan bakti berat seperti itu. Di titik seperti itu, kadang saya berpikir kenapa eutanasia tidak dibolehkan? Memilih untuk mati seharusnya jadi hak asasi tiap orang.

Dulu saya sering sok iye dengan kerap mengutip kalimat The Who yang tersohor itu: I hope I die before get old. Kalimat itu jadi penting bagi saya karena dua hal. Pertama, tentu saja darah muda yang konon akan tercemar ketika usia menapak naik, nyaris tak menyisakan kejayaan apapun. Yang kedua, mungkin ini dorongan alam bawah sadar yang melihat ayah sakit dan Mamak jadi sedih karenanya: saya tak ingin sakit-sakitan dan merepotkan orang yang saya sayang.

Ternyata saya tidak mati ketika melewati usia 27. Artinya saya harus hidup. Untuk apa? Entah. Ada banyak alasan. Mengutip penulis idola saya, Dea Anugrah: hidup itu begitu indah, dan hanya itu yang kita punya.

Hidup, terlepas dari segala ketengikan dan kebusukannya, menyodorkan banyak sisi menyenangkan yang bisa membuat kita berteguh untuk menjalaninya. Mungkin ini akan berbeda antar individu. Tapi di luar dugaan, saya menikmati usia 30-an ini. Bertambah tua, bertambah masa bodoh, sekaligus semakin menghargai hidup dan apa yang ada di dalamnya.

I look around at a beautiful life
Been the upper side of down
Been the inside of out
But we breathe
We breathe

I wanna breeze and an open mind
I wanna swim in the ocean
Wanna take my time for me
All me

Saya menikmati ngopi, ngobrol ngalor ngidul dengan kawan-kawan lama, memasak, bertemu dengan dan nenek-nenek komplek yang membawa cucunya berbelanja di pagi hari, bermain dengan Joplin, dan tentu saja menjalaninya dengan Rani.

Untuk itu, untuk segala alasan bertahan hidup yang mungkin tidak pernah benar-benar ajeg dan barangkali terdengar seperti bualan romantika belaka, saya harus sehat. Kamu juga.

Semoga kita semua mau berusaha untuk hidup, untuk sehat, menjalaninya dengan penuh seluruh. Bersulang untuk hari esok yang sehat.

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR