Kadang, kalau ingin mengutuk diri karena merasa terlalu menyiakan masa muda, saya selalu menengok tiga contoh.

Pertama: para personel Guns N Roses rata-rata baru berusia 22-25 tahun ketika bikin Appetite for Destruction yang fenomenal itu. Yang paling tua adalah Axl dan Izzy, keduanya 25 tahun. Sedangkan Duff, Slash, dan Steven berusia 22 tahun.

Bayangkan, di usia semuda itu, mereka bisa bikin album sedahsyat dan sematang Appetite. Album itu bisa dibilang mengubah lanskap musik hair metal, juga rock di era 1980-an. Guns N Roses jadi contoh bahwa tak perlu pakai make up untuk bisa bikin album bagus dan jadi tenar karenanya.

Contoh kedua: The Motorcycle Diaries, alias buku harian yang ditulis Ernesto Guevara saat mengembara di Amerika Selatan bersama sahabatnya, Alberto Granado. Saat itu, Che, panggilan akrab Ernesto, masih berusia 23 tahun, calon dokter, tampan, dan punya pacar cantik serta dari keluarga mentereng.

Lalu dengan perasaan romantika lelaki akan petualangan, Che memilih naik motor La Poderosa, motor Norton 500cc yang tangguh sekaligus bobrok. Meninggalkan segala kemapanan, juga kenyamanan yang menantinya andai ia mau tinggal.

Lalu yang ketiga, Tom Waits bikin album debut Closing Time di usia 23 tahun.

Kamu tahu kan betapa dahsyatnya album ini? Dibuka oleh “Ol’ 55” dan ditutup dengan “Closing Time”, album rilisan Asylum ini bagaikan sebuah penuntun untuk memasuki jagat ala Tom Waits yang beraneka warna.

Ia berkisah tentang cinta manis tapi sekaligus patriarkis dan klise( kurang klise apa coba cerita tentang lelaki pergi dari pelukan perempuan dengan alasan ingin petualangan, pakai bilang, “my heart cant be tamed” segala), petualangan dengan truk (oh sangat Amerikana sekali, dan ini juga menjadi cetak biru lagu-lagu Waits yang banyak berkisah tentang kota-kota di Amerika Serikat); hingga kisah cinta yang terhalang waktu empat dekade.

“Martha” seperti sebuah prosa utuh yang ditulis dengan sangkil dan mangkus. Ia terasa menggiriskan, mengagumkan, sekaligus membahagiakan.

Menggiriskan tentu saja: cinta seperti apa yang tetap menyala meski sudah dipendam waktu empat puluhan tahun? Cinta macam apa yang masih merelakan dan mendoakan meski sudah tak lagi berbalas selama delapan windu? Mungkin Waits ingin menjawab: cinta yang dibalut kenangan dan penyesalan.

Mengagumkan karena Waits bisa memakai sudut pandang seorang tua yang ringkih, yang cinta masa mudanya gagal ia selamatkan, berusaha menghubungi kembali perempuan yang dulu pernah bersama dengannya melewati masa, “…penuh bunga mawar, puisi, dan prosa.”

Coba dengar cara Waits menyanyi. Di serenada yang dia panjatkan, kamu bisa membayangkan seorang tua yang berjalan tertatih ke telepon umum, menitipkan pesan via operator, lalu dengan sabar menanti perempuan itu (“Martha” bisa kau ganti dengan nama siapapun, dan efek menggetarkannya masih akan tetap sama) di sebuah kedai kopi.

Membahagiakan, tentu ketika di akhir lagu, dengan piano yang lamat-lamat hilang, si Pak Tua –saya membayangkan ini Waits di tahun-tahun sekarang– gemetar karena berhasil berdekatan lagi dengan Martha.

Di usia 23 tahun, Tom Waits menuliskan 12 lagu yang kelak jadi mahakarya. Dia bermain piano, gitar, juga bernyanyi. Di album-album berikutnya, Waits mungkin makin liar, atau matang, terserah kacamata yang mau kamu pakai.

Dibandingkan semua albumnya, bahkan tiga album lain yang nangkring di senarai 500 Album Terbaik Sepanjang Masa versi Rolling Stone, Closing Time adalah yang paling saya sukai. Mungkin karena di sini Waits masih “polos”, sederhana, dan terkesan “telanjang”. Dan karena itu, saya malah jadi bisa menikmatinya. Jujur, saya kurang bisa menikmati album-album Waits sejak Swordfishtrombones.

Kenapa ya? Mungkin karena Waits memilih menepikan piano? Atau karena pendekatannya terlalu abstrak dan janggal bagi kuping hair metal saya? Entahlah.

Sebenarnya berkat Spotify, saya jadi leluasa menggali lagi diskografi Waits. Ada masa saya mendengarkan album Waits bergantian, satu persatu. Dari Closing Time hingga Bad As Me (2011) yang sepertinya bakal jadi album terakhir Waits. Ganti lagi, putar lagi. Dan tetap, pilihan pertama saya adalah Closing Time, baru diikuti oleh The Heart of Saturday Night, album kedua yang dibuat Waits setahun dari album pertamanya.

Malam ini, saya memutar piringan hitam Closing Time yang saya dapat dari seorang penjual di Bekasi. Pukul 3 dini hari, seiring jarum yang dijatuhkan pada piringan, Waits bersenandung merdu menyapa dengan “Ol’ 55”. Ia seperti kawan lama yang baru datang dari jauh serta siap menceritakan segala petualangan yang dia jalani, jalur yang ia tapaki, dan para perempuan yang menangisi kepergiannya.

Dan kembali, saya mengutuki masa muda yang rasanya terlewat sia-sia.

And at six in the morning, gave me no warning
I had to be on my way
Well there’s trucks all a-passing and and the lights all a-flashing
I’m on my way home from your place

And now the sun’s coming up
I’m riding with Lady Luck
Freeway cars and trucks
Stars beginning to fade
And I lead the parade
Just a-wishing I’d stayed a little longer
Oh, Lord, lemme tell you the feeling’s getting stronger

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR