30 Hari Menulis (Lagi)

97

Halo, blog!

Sudah lama bener kayaknya gak ngisi rumah ini. Barusan saya tengok, banyak sarang laba-laba di sana-sini. Langsung nyapu.

Saya baru saja memasang aplikasi WordPress, biar gampang memantau isi rumah ini (dan dua rumah kecil saya yang lain). Selain itu, biar mudah juga nulis, gak harus via laptop.

Jadi kalian apa kabar? Semoga selalu sehat dan baik-baik saja.

Saya sekarang sedang kedinginan setelah jalan kaki hampir 10 kilometer, dan bengong memandangi perlimaan Picadilly Circus yang riuh itu sambil makan anggur.

Iya, saya sedang ada di Inggris. Sudah dua minggu di sini. Kapan hari sempat main ke Manchester (nonton Manchester United, tentu saja. Mereka menang 3-1 lawan Partizan, yeah!) dan Liverpool (menengok kota Beatles tentu saja, bukan untuk tim bolanya, wekkk!).

Kalau tak ada perubahan rencana, saya akan dua bulan ada di sini. Keberangkatan saya ke Inggris disponsori oleh Komite Buku Nasional dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Jadi sejak 2016,setiap tahun mereka membuat program residensi penulis. Para penulis ini akan mengirim proposal penulisan buku dan di mana negara yang akan dituju. Sejak tahun pertama saya coba melamar. Gagal. Tahun berikutnya tetap kirim proposal. Kembali amsyong. Tahun lalu, kembali kirim proposal. Ditolak lagi. Baru tahun ini proposal saya lolos.

Sejak 2016 itu saya selalu mengajukan tema yang sama: festival musik. Kenapa tema itu? Tema itu adalah tema yang rutin saya baca sejak menggarap tesis medio 2013. Saya juga kerap ngobrol dengan orang-orang yang berkecimpung di dunia penyelenggaraan festival musik. Dan sejak dulu saya ingin membukukan tesis saya itu. Maka klop sudah, kebetulan dapat rejeki lolos residensi.

Lalu kenapa London, kenapa Inggris? Sederhana saja, Inggris adalah negara yang amat serius menggarap pariwisata musik dan festival musik. Ada ratusan festival musik, dari skala festival yang dikelola keluarga, hingga skala gigantis macam Glastonbury atau Reading.

Selain itu, Inggris juga punya dua hal yang saya senangi: musik dan Manchester United. Maka dengan mantap saya memilih Inggris. Tidak seperti, katakanlah, Amerika Serikat yang tidak punya Old Trafford.

Maka ketika saya mendarat di Heathrow pada 31 Oktober malam, saya menghirup udara London dalam-dalam. Wangi impian, jeh. Wkwk.

Dan agar perjalanan saya tidak menguap begitu saja, saya berencana rutin kembali menulis blog ini. Lumayan lah, selain untuk arsip bisa juga untuk mengisi blog yang kosong lama ini.

Jadi mulai besok akan saya mulai proyek 30 hari menulis (entah proyek yang ke berapa ini, wkwk). Doakan semua lancar!

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

2 KOMENTAR

  1. Wah, selamat, Mas. Semoga lancar residensinya. Boleh request, nda, Mas? Cerita soal proses pengajuan residensinya, dong. Saya pernah ikut acara seorang penulis yang dapat residensi juga, cuma ceritanya kurang detail. Hehe. Terima kasih, Mas Nuran.

    Salam,

    Yenni

TINGGALKAN KOMENTAR