London Calling Setelah Empat Dekade

139

Kemarin saya melihat poster ikonik itu di stasiun bawah tanah: seorang pria membanting bass gitar, dengan kata London berwarna merah muda dan Calling berwarna hijau. Rupanya ada pameran untuk memperingati album legendaris dan politis ini.

Desember tahun ini, London Calling, album ketiga band punk rock Inggris, The Clash memasuki usia 40 tahun. Rasanya keren sekali ya, album yang sudah berumur sepanjang itu masih diperingati dengan gegap gempita. Tidak banyak album yang mendapatkan perlakuan seistimewa itu, lebih banyak yang dilupakan begitu saja.

Tak kurang-kurang, pameran London Calling ini diadakan di Museum of London, museum yang konon punya koleksi artefak kehidupan urban terbanyak di dunia. Pameran ini dibuka tanggal 15 November 2019, dan akan berlangsung hingga April 2020 kelak. Lama juga ya.

Sore tadi akhirnya saya mampir ke sana. Yang paling ingin saya tengok adalah bass gitar Fender Precision yang dihantam ke lantai oleh Paul Simonon. Bass itu pernah dipinjamkan ke museum Rock N Roll Hall of Fame, lalu kali ini Paul meminjamkannya untuk pameran.

Bass yang tidak ada duanya itu

Malam itu, The Clash akan bermain di The Palladium, New York. Sayangnya, gedung itu jenis tempat konser bertempat duduk. Jadi, penonton yang ingin berdiri dan berjingkrak akan langsung kena tegur penjaga.

“Itu bikin aku ngamuk, hingga akhirnya membanting bassku,” kata Simonon pada Fender 2011 silam.

Ada kisah menarik soal kapan kejadian ini berlangsung. Berbagai literatur, termasuk liner notes album ini, mengatakan foto yang dijepret oleh Pennie Smith itu diambil pada 21 September 1979. Namun, satu orang penggemar The Clash bernama Dave Marin yang malam itu ada di barisan penonton bilang: tanggal itu salah. Yang benar adalah 20 September 1979.

“Aku telah mengoreksi soal ini selama lebih dari 35 tahun,” ujar Marin pada Wall Street Journal. “Aku cuma pernah sekali melihat pemain band membanting gitar, dan aku melihatnya dengan jelas dan peristiwa itu membekas.”

Meski berkali-kali mengontak sisa personel The Clash yang masih hidup maupun Epic Records dan mereka tidak peduli soal fakta tanggal itu, Marin bergeming. Cita-citanya sederhana: ada ralat dari label ataupun personel bandnya, terutama jika ada rilis ulang London Calling.

Di pameran London Calling, cita-cita Marin terkabul. Di bawah stang Fender yang tengahnya patah itu, ditulislah takarir dengan jelas:

“Pada September 1979, The Clash tampil selama dua malam di New York sebagai bagian dari tur Take the 5th. Paul Simonon membanting bass Fender P-nya pada akhir konser Kamis malam 20 September. Foto yang diambil Pennie Smith malam itu digunakan sebagai sampul London Calling.”

Jika kamu penggemar The Clash, rasanya pasti akan bahagia ada di pameran ini. Lha saya yang bukan penggemar berat mereka saja –cuma dengar London Calling dan Combat Rock (karena ada “Should I Stay or Should I Go”– rasanya senang banget ada di sana.

Total ada 100 lebih barang yang dipamerkan. Selain bass yang paling ikonik itu, ada barang-barang lain yang tak kalah penting. Mulai dari mesin ketik milik Joe Strummer, gitar-gitar milik Joe dan Mick Jones (Fender Squire 1959 dan Gibson ES-295), baju-baju dan jaket, sepatu, kotak gitar, foto-foto lawas, dan catatan tangan lirik. Termasuk tulisan tangan Joe ketika menulis lirik “London Calling”, yang awalnya berjudul “Ice Age”.

Pulangnya, saya mampir beli merchandise pameran ini. Dua zine The Armagiedon Times, dan satu pak kartu pos isi enam lembar. Satu zine buat koleksi saya pribadi, satu lagi buat mentor saya di penulisan musik.

Sedangkan enam lembar kartu pos akan saya kirimkan buat mereka yang mau. Satu lembar akan saya kirim ke Tomi Wibisono, dan satu lagi rencananya buat Mas Kernet, senior saya di kampus yang jadi salah satu figur keren di pergerakan punk rock di Jember. Sisa empat lagi akan saya bagikan saja. Diutamakan yang memang penggemar The Clash, ya. Kirimkan alamat kalian di komentar, nanti siapa yang cepat dia yang dapat.

Sekarang saya sedang menimbang apakah kartu pos akan dikirim dari Inggris atau dari Indonesia saja. Kalau di Inggris, durasi pengirimannya akan lama, bisa berbulan-bulan. Termasuk ada resiko kartu pos hilang. Kalau kalian kirim komentar, sekalian tulis ya mau dikirim dari Inggris atau dari Indonesia.

Tambahan: semua kartu pos sudah ludes ya. Hehe.

18 KOMENTAR

  1. Saya tidak tahu band The Clash baru tahu ya baca tulisan mas Nuran ini. Saya juga tidak tahu apakah saya bisa dapat kartuya, soalnya tidak memenuhi syarat. Tapi kalau dapat ya Alhamdulillah toh. Hehehe

  2. Bila dibillang penggemar berat, rasanya saya bukan, walau jelas saya tidak bisa bilang tidak menyukai The Clash, beberapa lagunya ada di playlist spotify. ๐Ÿ˜€ Ini alamat pos saya Mas: alan Kedung 2 no.8, Kelurahan Beji, Kecamatan Beji, Kota Depok, 16421. Akan senang rasanya bila salah satu kartu pos nya bisa melengkapi koleksi kartu pos yang saya kumpulkan, terlebih bila tidak merepotkan Mas Nuran cap pos nya dari Inggris. Hehehe. Terima kasih banyak sebelumnya, Mas Nuran.

  3. Menarik banget mas tawarannya ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†. Jujur saya bukan penggemar The Clash, dan cover ikonik London Calling adalah satu-satunya hal yang saya tahu dari mereka (selain nama Joe Strummer dan Paul Simonon, sih). Tapi saya beranikan diri โ€˜daftarโ€™ jadi salah satu calon penerima hibah kartu posnya, mas. Lebih karena saya punya impian yang mungkin sama dengan mas Nuran: menziarahi seluruh tempat di dunia ini yang punya history dengan band/artist legendaris idola saya ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†. Memiliki kartu pos dari event 40 tahun The Clashโ€™s London Calling tentu jadi salah satu hal yang tak bisa saya lewatkan.

    Tapi saya tahu diri, mas. Kalau ada pembaca blog mas yang lain menginginkan kartu pos ini karena The Clash adalah band favoritnya, saya siap mengalah ๐Ÿ˜๐Ÿ˜.

    Alamat saya: Dozan Alfian, Jl Gabus VI no. 35 Minomartani, Sleman, Yogyakarta.

    Kalau saya beruntung mendapatkan kartu pos ini, saya tidak keberatan menunggu lama karena dikirimkan dari Inggris, maupun dikirimkan dari Indonesia selepas mas Nuran merampungkan penelitiannya ๐Ÿ˜. Manut wis ๐Ÿ˜.

    Selamat โ€˜bersenang-senangโ€™ di Inggris, mas. Suwun sudah share umrah rock n roll nya via tulisan maupun Instagram ๐Ÿ˜†.

  4. Saya cuma tahu satu lagu mas, I fought the law. Itu juga akibat lagunya dijadikan soundtrack film. But, eversince that day, it never leave my playlist ๐Ÿ’› btw alamat pos saya Nia Rizki, Bedali Indah Jl. Bungur Blok C 25 / 17 – Bedali, Lawang Kab. Malang 65215
    Makasih mas Nuran kalo saya yg dikirimin ๐Ÿ˜†

  5. Wawww penggemar The Clash yo jelas ran hihi dan Joe Strummer is a legend indeed.
    Iseng2 komen ah siapa tau memang rejeki dikirim dr Inggris and I deserve it.
    Lydia Sitorus
    Jl. Dharmahusada Indah Barat II / A -99
    Kec. Gubeng/ Kel. Mojo
    Surabaya 60285
    East Java – Indonesia
    Have fun yoooo di Inggris! โœŒ

  6. Wah menarik juga, sebenarnya cuma tau lagu the clash yang should i stay or should i go haha. Itu pun denger bukan dari penyanyi nya langsung. Cerita nya pas youtube an kiat perform Band All Time Low main di APMAs 2015 bawain medley of classics. Kuartet jack, zack, alex dan ryan (plus additional player juga sebenarnya) bawa heberaoa penggalan lagu rock klasik, pas bagian lagu the clash itu kok kayaknya asik juga, liat deskripsi di menit tsb saya baca judul โ€œthe clash โ€“ should i stay or should i goโ€ mulai dari itu tau ini dan rutin ngedengerin sampai sekarang haha. Kalo boleh sih saya Faris Ahmad Fathoni alamat di Villa Mulawarman kavling 4, Kelurahan
    Jabungan, Banyumanik, Semarang mas hehe

  7. Permisi kak. Saya sudah baca. Saya mau tanya, ada gak ya foto kak Nuran banting piring? kali aja ada atraksi karna kangen nasi Padang. makasih sebelumnya.

  8. Lost in the Supermarket — > this is literally me, gara-gara suka ngiter-ngiter supermarket.

    Aku penggemar the Clash, juga penggemar The Slits. Kan dulu Viv pernah pacaran sama Mike. Kalo kartu pos the Clash-nya abis, kartu pos the Slits ada ga?

TINGGALKAN KOMENTAR