Sejauh Las Vegas Memandang

78

Saat tulisan ini dibuat, London baru jelang pukul 10 malam. Sedang di Indonesia, sudah mau masuk pukul 3 pagi. Sejak tiga puluh menit lalu, Rani mengabari dirinya baru saja melewati imigrasi.

Sebelumnya, lima jam lalu, dia mengabari tidak bisa check in online. Alasannya selalu sama: nama. Setiap pergi ke negara Paman Sam, Rani selalu dihentikan imigrasi karena namanya dicurigai punya keterkaitan dengan salah satu ustadz yang berjejaring dengan kelompok teroris.

Hari ini Rani akan kembali terbang ke AS. Sebelumnya dia beberapa kali menolak berangkat meski diminta. Sudah setahun Rani enggan kembali ke sana. Baginya, AS tidak semenarik seperti yang digambarkan di film, buku, atau cerita.

“Mungkin karena kamu di sana kerja ya, bukan liburan,” kataku suatu ketika.

Tapi bahkan ketika hari libur pun, Rani tidak menikmatinya. Dulu saya menganggap karena penempatan Rani di Florida, yang sepertinya lebih banyak dihuni aligator ketimbang manusia. Tapi lalu dia ke Vegas, yang menghadirkan banyak gemerlap. Tak betah juga.

Mungkin Rani tidak punya keterikatan emosional dengan AS. Musik, iya. Film, jelas. Tapi tidak lantas membuatnya jadi ingin sekali tinggal dan hidup di sana.

Saya sedikit berbeda dengannya. Saya punya On the Road, Travels with Charley, hair metal, Guns N Roses, Sunset Strip, Harley Davidson and the Marlboro Man, Anthony Bourdain, Franklin BBQ, dan ratusan alasan lain yang menempatkan AS –bersama dengan Inggris dan Jepang– sebagai sesuatu yang memantik fantasi dari tanah jauh.

Tapi melihat kondisi negara itu yang sepertinya tambah ruwet, mungkin Rani ada benarnya. Dan sepanjang tujuh tahun bersama, dari semua perdebatan kami: memang Rani yang benar. Yah, walau saya sering nyolot dan gak mau mengakui kalau dia benar.

Kali ini dia akan ke dua kota, Las Vegas dan Boston. Dan tak lama seperti sebelum-sebelumnya, kali ini cukup tiga minggu. Semoga perjalanan ini bisa memberikan suasana yang sedikit berbeda.

Perjalanan ini mendadak. Rani hanya punya satu minggu untuk persiapan, itu pun setelah Rani keberatan disuruh berangkat cepat-cepat. Sebelumnya, Rani sedang mengurus visa ke Inggris. Dia ingin liburan bareng saya di sini, merayakan tiga hari besar: ulang tahun saya, Natal, dan tahun baru.

Tapi perjalanan ke Las Vegas sedikit mengubah rencana kami. Tapi semoga semua lancar dan kami bisa liburan bareng di sini.

Sedikit intermezzo. Dulu waktu kami masih ngontrak di rusun di Tebet, kami beberapa kali kehujanan di atas motor Mio butut yang sangat berjasa itu. Kalau sudah gitu, biasanya saya dan Rani akan berkelakar.

“Wah, cuacanya kayak di London ya.”

“Iya nih, mirip-mirip di Paris juga.”

Jadi kami sudah memimpikan betul bisa liburan bareng di London sejak beberapa tahun lalu. Guyonan itu terus kami lontarkan setiap kehujanan.

Semoga tahun ini guyonan itu benar jadi kenyataan (walaupun Rani akan menggigil sepanjang hari di sini), semoga kami juga bisa hujan-hujanan di sini, plus berkelakar.

“Nah, ini baru cuaca di London.”

Omong-omong, saya rindu Rani. Sialan.

TINGGALKAN KOMENTAR