Oh, betapa algoritma ini kurang ajar. Hari itu tertanggal 23 Maret 2020, dan YouTube menyuguhkan rekomendasi yang sekonyong-konyong: video Harry Styles manggung di NPR Music Tiny Desk.

Sebenarnya rekomendasi itu tak aneh-aneh banget, mengingat saya nyaris rutin menyimak acara konser kecil nan intim itu. Beberapa favorit saya adalah ini (siapa yang tidak?)

ini (bayangkan minum es limun di siang yang panas),

ini (macam bersantai di pantai dengan matahari terik Karibia),

ini (membuat sederet kenangan masa kecil berjejalan di kepala),

ini (Ketika kamu mencari blues di sebuah bar kecil di Mississippi, ini yang akan kamu dapat),

dan juga ini (suatu sore pintu rumahmu diketuk oleh seorang diva dan dia minta dibuatkan secangkir teh Earl Grey dengan dua sendok makan gula, lalu dengan senang hati menyanyikan ode-ode patah hati sebagai bayaran atas teh enak itu).

Tapi… Harry Styles? Saya bahkan tak pernah mendengarkan lagunya, satu kali pun.

Masalahnya adalah: sekira tahun lalu, saya iseng berjanji pada diri sendiri untuk lebih berani mengikuti intuisi, termasuk perkara algoritma. Sebelumnya saya nyaris tak pernah ikut saran kecerdasan buatan itu, memilih musik yang nempel dengan nyaman di kuping dan otak sejak 20 tahunan terakhir. Alias selera saya mentok di sana-sana saja.

Iya iya, kebiasaan itu tak baik. Karenanya saya ingin lebih berani mengikuti saran algoritma, terutama di babagan musik. Kalau tidak suka, tinggal matikan. Kalau suka, ya anggap saja bonus dan variasi buat kuping.

Maka dengan alasan itu, saya pasang headphone dan langsung klik video Harry. Sepertinya itu adalah salah satu keputusan penting yang saya ambil di tahun 2020.

Tampil dengan format full band –tiga gitaris (satu merangkap pianis), satu bassist, dan satu drummer– Harry tampak seperti pria yang tersesat dari jagat musik 70-an. Dia beserta rombongannya terdengar seperti David Crosby dari pedesaan Worcestershire. Saya terkesiap.

Yang lebih bikin saya senang –selain kesadarannya untuk memilih sweater biru yang lebih buruk dari Cosby sweater!– adalah bagaimana Harry tampil organik ketimbang versi albumnya. Musik yang mereka mainkan hari itu hanya hadir dari alat musik yang dimainkan full oleh tangan, bukan musik dari mesin dan perangkat lunak.

Saya lupa siapa yang mengatakan, kalau tidak salah Paul Stanley dari Kiss, bahwa untuk mengetahui kualitas sebenarnya dari seorang musisi, cukup kasih dia gitar akustik. Biarkan dia bermain, dan kamu bisa melihat kualitas aslinya.

Salah satu contoh yang berhasil membuat saya yakin opini itu valid adalah penampilan Nirvana di MTV Unplugged. Meskipun saya tidak terlalu suka Nirvana, tapi busettt, penampilan mereka bikin saya paham dan maklum kenapa dunia memalingkan muka dari gemerlap Los Angeles dan memilih melongok ke Seattle yang muram dan dingin.

Momen seperti itu terjadi lagi ketika saya menonton Harry sejak YouTube merekomendasikannya lima hari lalu. Harry dan kawan-kawan tampil seolah kedap dari bunyi-bunyian elektronik yang sering bikin kesal, dan justru itu yang menampilkan kekuatan terbesar alumnus X Factor ini.

Cukup empat lagu, mereka berhasil membuat saya membuka Spotify dan mengetikkan Harry Styles di kolom pencarian (dan membuat saya tergerak menulis postingan pertama di 2020 yang blangsak ini).

Kemungkinan besar bulan ini, bulan depan, entah sampai kapan, dua album Harry akan menemani hari-hari saya di masa kerja dari rumah ini. Oya, lagu “Watermelon Sugar” –terutama yang versi NPR– itu rasa-rasanya mengandung opium dosis tinggi.

Jancuk koen, Har!

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

4 KOMENTAR

  1. Sejak bulan Februari, aku berniat mendengar kedua album Harry. Dimulai dengan album pertama. Harry, menurutku sih, kayaknya seorang bocah jenius yang, seperti kamu bilang, sesat di tahun 70an. Album keduanya lebih pop tapi tak kalah enaknya. And both album doesn’t sound like anything similar today. Perhaps. Semoga kamu terdengar kedua album dan akhirnya ngeblog tentang Harry Styles lagi.

  2. Makin keren (atau serem) aja algoritma YouTube. Kalau saya baru-bari ini dibawa ke Scary Pockets. Keknya gara-gara nonton-nonton Stevie Terreberry dkk. yang punya akun Patreon. Entahlah. Hahah.

    • makasih, mbak Dit! Lagi mencoba-coba nih. Beberapa juga aku ambil dari musik-musik yang pernah kamu tulis :))

TINGGALKAN KOMENTAR