Faraway, So Close

144

Di Brebes, kota yang sama sekali tak pernah terpatri di pikiran ketika membayangkan hal romantis, lagu itu terngiang di kepala.

Aku putar lagu itu di playlist yang kubuat sebelum kami berangkat menuju Jember, dua minggu lalu. Ini perjalanan darat terjauh yang kami tempuh, dan pertama kalinya kami naik mobil berdua.

Tentu saja Rani yang menyetir. Dia khawatir kalau aku yang pegang kendali. Beberapa waktu lalu, aku memasukkan mobil ke garasi –pekerjaan yang sudah berulang kali kulakukan. Tapi karena lama tak pegang setir, aku kagok.

Bruk. Tak keras, tapi Rani mendengar suaranya. Bagian belakang mobil menyentuh bemper motor. Bukan hal besar. Tak ada lecet. Tapi kejadian itu cukup bikin Rani –dan aku– yakin kalau aku belum siap pegang mobil jarak jauh.

Ketika akan pulang dari Jember, kami sudah bersepakat ini perjalanan santai. Kami akan berhenti di manapun kami mau, makan atau mengudap tak perlu menunggu lapar, dan tidur ketika mata sudah berat.

Matahari perlahan tenggelam di depan mata. Cuaca cerah. Merah semburat. Gunung Ceremai terlihat megah dari kejauhan. Jalanan lengang sejak kami masuk dari tol Leces. Rest area Brebes baru kami tinggalkan.

Bawang merah.

Telur asin asap.

Banjaratma.

U2.

“Stay (Faraway, So Close)”.

Lampu jalanan mulai dihidupkan. Suara gitar The Edge pelan mengisi ruang sempit untuk empat penumpang ini. Bariton Bono merayap, memutar gambar jalan dan kesepian di kepala. Bass Adam Clayton dan drum Larry Mullen Jr bergerak lambat namun ritmis.

If I could stay
Then the night would give you up
Stay then the day would keep its trust
Stay with the demons you drowned
Stay with the spirit I found
Stay and the night would be enough

Jalanan tetap lengang. Hanya ada satu dua truk, beberapa keberatan muatan dan mengular malas macam Anakonda yang baru melahap bayi kijang –bikin ingat Tom Waits dan “Ol’ 55”. Salip saja dengan mudah. Sesekali mobil besar pamer kecepatan dan kuasa. Lampunya mengerjap dari belakang. Kami minggir ke kiri. Ini terjadi berulang kali.

“Di kiri saja. Santai nyetirnya.”

Perjalanan masih panjang. Di tengah dan di ujung jalan, kami bersitegang. Jalan salah diambil. Apa boleh bikin. Harus jalan terus walau memutar dan makan waktu lebih lama. Saya lelah. Rani apalagi.

Tapi kami bahagia.

Three o’clock in the morning
It’s quiet and there’s no one around
Just the bang and the clatter
As an angel runs to ground

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR