Bana Menikah

165

Arlian Buana akan menikah minggu depan. Perempuan yang akan disuntingnya, Rana, asli Aceh dan punya keramahan semenyejukkan es timun serut kala matahari tepat di atas kepala.

Saya tak tahu benar lika-liku perjalanan mereka hingga ke titik ini. Tapi dari cerita-cerita yang mereka sampaikan, aduh, jalannya panjang, pula tak mudah. Long and winding road kalau kata Beatles.

Tadi sore Bana meminta saya membikin mixtape. Saya menyanggupi, ini kegiatan masa senggang favorit saya. Sengaja bikin agak banyak lagunya, pas 50, siapa tahu mau diputar ketika resepsi.

Tak ada perlakuan khusus terhadap senarai ini. Saya memasukkan banyak lagu favorit saya, beberapa lagu nostalgia, juga satu lagu dari band favorit Bana, Peterpan.

Mau nyanyi “Aku dan Bintang” dulu ach

Band ini pula yang menjadi titik awal perkenalan saya dengan pria asal Palembang ini. Dia membaca tulisan saya tentang Peterpan, lalu dia yang saat itu mengelola majalah Surah meminta saya menulis lagi tentang Peterpan.

Saya tak tahu apakah pilihan lagu yang saya buat akan disukai Rana atau tidak, tapi saya mencoba memilih lagu yang masuk dalam batas toleransi kuping –tak pekak, nihil solo gitar panjang, dan tak pakai suara melengking.

Selfie dulu biar gak capek

Judul mixtape ini saya ambil dari potongan lirik Cat Stevens, “Father and Sons”. Mungkin, bagi Stevens, menikah adalah pintu gerbang memasuki dunia baru. Di dunia ini, semuanya berubah, entah mendadak atau perlahan. Segala nilai-nilai yang dianut di masa lampau, kemarahan dan ketakberdayaan dari masa lalu, bisa jadi akan hilang dan berganti dengan banyak hal. Kesabaran, kebajikan yang tumbuh seiring waktu.

Find a girl, settle down
If you want, you can marry
Look at me, I am old but I’m happy

Selain lagu Stevens, saya menaruh lagu “Tonight You Belong to Me”, sebuah lagu klasik dari era 1920-an yang digarap ulang oleh banyak musisi. Saya pilih versi Eddie Vedder. Kenapa versi Eddie? Sederhana, karena tak ada versi Axl Rose.

Bana Vedder

Dua lagu awal itu saya pilih sebagai pembuka, untuk memberikan penghormatan kepada orangtua Bana dan Rana. Dialog emosional dan kalem, fire and ice, ala bapak dan anak lelaki; dan ode seorang ayah untuk anak perempuannya yang akan menikah, saya pikir jauh lebih dalam ketimbang lagu-lagu cinta antar lelaki dan perempuan.

Setelahnya baru lagu-lagu yang sedikit banyak menggambarkan pernikahan –yaaah setidaknya versi saya dan Rani yang baru enam tahun menjalaninya. Tak selamanya jalannya bertabur bunga mawar, tapi banyak juga mur dan paku yang dilempar ke tengah. Mungkin akan ada banyak peristiwa yang membuat dua orang itu bertanya-tanya: we want to know what love is, seperti pertanyaan yang diajukan Mick Jones bertahun lampau dan tak pernah bisa dijawab hingga sekarang, dan diselimuti keraguan: will you still love me tomorrow?

Kok gelap yha bhang?

Karenanya, saya tak melulu memasukkan lagu penuh kembang gula. Banyak dari kita pernah merasakan cinta yang penuh onak dan air mata –coba tanya Eddward S. Kennedy dan Wisnu Prasetya dan Mawa Kresna dan Arman Dhani soal ini. Kita semua pernah menelan cinta yang penuh keraguan, rasa takut, juga ketabahan dan kebosanan.

Ada cinta abadi namun kere, ada badai yang kan menguji, kasur yang dingin karena ditinggal minggat, get married or run away, my world crumbles, you and me bent, woman they’ll trap you and they use you, juga ain’t no sunshine. Di masa abu-abu dan sedikit cahaya itu, tak ada pilihan lain buat tegar sebab semuanya sudah dianjurkan oleh Bhang Iwan yang amat dipuja penyair Beni Satryo itu.

“Ternyata asmara itu tak mudah, tak gampang, dan tak secengeng yang kukira, yang kusangka…”

Jadi, mari merayakan dan mendoakan pernikahan Bana dan Rana –kau sengaja cari yang namanya A-B-A-B kayak pantun ya bhang?– yang akan memasuki dunia barunya. Tak ada yang mudah dari pernikahan, sebab kata Andy Liany: jalan masih panjang, jangan ucap janji, nikmatilah cintamu hari ini.

Jalan panjang dan berkabut, bhang

Mari pula merapal doa-doa terbaik bagi cinta-cinta aneka warna, baik yang gagal diselamatkan, dimasukkan ke peti lalu dilarung ke Samudera Hindia, atau sedang menyibak halimunnya masing-masing.

Dan semoga, sampai kapan pun, Bana selalu patuh mengamalkan petuah Boriel.

“…Di antara beribu lainnya, kau tetap, kau tetap, kau tetap benderang…”

Di antara lainnya, kau tetap benderaaaang aaang aaang *echo*

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR