Bagaimana Gita Wiryawan Mencari Cinta dan Menikah Pada 20 Desember 2020

97

Sebermulanya adalah pertanyaan luhur dari Gita Wiryawan:

Dunia selalu dihinggapi banyak pertanyaan, dan banyak pula yang tak terjawab. Seperti: sedalam apa lubang hitam dan apa yang ada di sana? Juga benarkah Yeti dan Lochness itu ada? Tentu saja pertanyaan-pertanyaan Gita itu termasuk dalam senarai misteri yang belum terpecahkan.

Bahkan John Lennon, pria pemurung dari Liverpool itu memilih untuk membayangkan saja bagaimana jika dunia ini tanpa negara, agar tak ada orang saling bunuh dalam perang. Sayang, Lennon tak membahas bagaimana jadinya dunia tanpa cinta. Padahal, kata Gita, pria doyan cengengesan dari Liverpool itu, cinta itu juga berbahaya karena bikin orang terluka.

Sepanjang 2009, dan besar kemungkinan sudah dimulai sejak bertahun-tahun sebelumnya, Gita mulai bertanya dan mencari makna cinta. Ia, seperti Lou Gramm, ingin tahu apa itu cinta. I wanna know what love is, begitu dalam benak Gita.

Maka di Facebook, sebuah palagan kegundahan dan status-status menjijikkan, kita bisa melihat Gita banyak berpikir dan bertanya. Seperti ini misalnya.

Si Prima, kawannya yang juga doyan cengar-cengir itu, tak membantu banyak. Malah mengutip Jacques Lacan segala. Cih. Padahal ujung-ujungnya klise: menerima kekurangan pasangan apa adanya. Pada akhirnya, meski sudah dibantu Prima untuk berpikir Lacanian, 2009 adalah tentang patah hati dan luka bagi Gita. Ia bahkan mengutip ayat Al Quran untuk menguatkan hatinya.

Git memang punya peruntungan yang tak apik-apik amat perkara asmara. Dia berkali-kali putus, ditinggal nikah, dan kisah-kisah mengharu biru lainnya. Sampai dia pernah memaki, yang membuat kalimatnya jadi abadi.

Setiap kali ketemu, jika bicara tentang asmara, yang keluar adalah nada sendu. Cengengesannya tak lagi membantu. Saking banyaknya nilai merah dalam rapor asmaranya, saya sampai lupa ada berapa perempuan yang pernah singgah di hidup Gita.

Tapi Gita memang seorang pejuang. Sebagai seorang PNS, sama seperti nama lengkapnya Gita Wiryawan Puja Negara, Gita sudah merasakan pindah penempatan. Dari Bangko di Jambi, hingga di Penajam Paser, Kalimantan Timur.

Ia tak pernah menyerah cari calon istri, sebab tujuan hidupnya memang itu.

Lama tak ngobrol intens, suatu hari Gita memberi kabar gembira. Dia akan menikah.

“Tenan po iki?!”

“Yo tenan, wong ganteng kok.”

Saya awalnya sempat skeptis. Apalagi Gita tak pernah bercerita soal calon istrinya ini. Sama sekali. Kontras dengan kebiasaannya menceritakan para perempuan yang merobek hatinya di masa lalu. Tapi ketika Gita memberikan undangan, baru saya yakin kabar itu benar. Gita dan kekasihnya, seorang perempuan asal Kendal, Jawa Tengah, akan menikah besok, 20 Desember 2020.

Dan sebagai kado, saya membuatkan playlist di Spotify. Saya coba menyusun daftar lagu sesuai fase hidup Gita. Ia rutin ambyar, pernah masuk fase benci cinta, menganggap wanita sebagai racun, berpikir bahwa “cinta tu bulsit”, sembuh, kembali cengengesan, dan akhirnya akan menikah. Fase yang tak singkat, tentu. Toh Gita berhasil melewatinya –walau nangis di sana-sini.

Sebagai lagu pembuka, tak ada yang lebih pantas ketimbang penampilan Pearl Jam membawakan “Black” di MTV Unplugged. Siapa yang hatinya tak ikut perih mendengar Eddie Vedder melolong putus asa di menit 3.50. Saya membayangkan Gita ikut meraungkan lirik itu dengan sedih –dan tentu saja kualitas suara yang inferior.

I know someday you’ll have a beautiful life
I know you’ll be a star
In somebody else’s sky
But why
Why
Why can’t it be
Oh can’t it be mine

Ada juga balada patah hati sepanjang masa dari Nazareth, tembang anti cinta dari Marjinal, jari tengah dari 13th Floor Elevator, juga tentang stasiun patah hati dari band rock Cinderella.

Di fase tengah adalah masa-masa memaafkan diri sendiri, berusaha sembuh dari bala yang bikin hati Gita berkarat, dan pada akhirnya berdamai dengan kenyataan. Pembuka di fase ini adalah “The Art of Letting Go”, sebuah balada perpisahan yang indah dari Stone Temple Pilots. Mendengarkan solo gitar Dean DeLeo di lagu ini akan membuatmu menggigit kuku sembari tertawa pahit.

Selanjutnya adalah fase baru dalam hidup Gita. Di sini, ada banyak harapan. Doa. Impian. Tapi tak ada ruang untuk cinta yang menggebu-gebu dan teledor. Maka ada “Jalan Masih Panjang” dari Dewa 19, “Here Comes the Sun” dari Beatles, dan tentu saja “Jatuh Cinta Itu Biasa Saja” ada di fase ini.

Sebagai penutup, “Sex on Fire” dan “Let’s Get It On” bisa jadi lagu pengantar buat bergulat, dan “Forever” dari Kiss adalah upaya amin dari semua doa yang diucapkan Gita dan Evi Miftakhul Ulum, perempuan yang beruntung (semoga) karena mendapatkan Gita.

Selamat menikah, Gita dan Evi, semoga langgeng sampai maut memisahkan!

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR