Mau Dibawa Kemana? Ke Neraka Saja Bung!

141

Kemarin, (16/6) saya dan karib saya, Ayos, pergi ke Malang untuk sebuah urusan. Kami berangkat selepas jam 9 malam untuk menghindari macet di daerah Porong. Dan benar, jam segitu Porong sudah gak begitu macet. Tapi tetep, kalo ngeliat rumah-rumah kosong disana, dan kerusakan yang ditimbulkan Lapindo, lantas saya mengingat biaya pernikahan anak si Bakrie, saya beneran pengen nyekik orang berwajah menyebalkan dengan dagu yang minta di upper cut itu.

Cuk! Marikno urusane Lapindo iku cuk!!!


Kami sampai Malang sekitar jam 23.30. Setelah menyelesaikan urusan kami, istirahatlah kami di kontrakan milik seorang teman.

Paginya, sekitar jam 6.30 kami bangun, dan lantas menyetel TV. Lalu Ayos pergi menunaikan rutinitasnya di pagi hari: Beol. Saya pun tetap melanjutkan nonton TV, sambil menunggu berita highlight piala dunia. Tapi ketika channel berpindah ke SCTV, saya beristighfar.

Ada Armada disana. Iya, itu acara gosip, Was-Was kalo gak salah. Disana diberitakan kalau Armada berhasil memulai langkah untuk “Go International.” Mereka berhasil main akustik di Malaysia. WTF! Maen akustik aja dibilang go international? go to hell iya.


Band favoritnya Ayos

Kata sang presenter Armada sedang promosi album mereka. Setelah main akustik itu, mereka diundang main di salah satu kafe. Yang bikin saya ngakak adalah, sang kameramen begitu cerdas (atau licik?) dengan hanya menyorot Armada ketika manggung, tidak menyorot penontonnya. Kenapa begitu? Karena ternyata memang gak ada yang nonton, hahahaha.

Ayos pun keluar setelah beberapa menit ngendon di kakus. Begitu dia melihat Armada, dia langsung histeris. Ayos langsung bernyanyi “Mau dibawa kemana, hubungan kitaaaa…”

“Yos, lagu itu berbahaya yos. Bisa bikin kita mati perlahan.” kata saya. Saya memang sinis sama band ini, entah kenapa, hehehe.

Tapi Ayos mengacuhkan saya. Dia malah bernyanyi-nyanyi dengan riang gembira seakan besok tulisannya nampang di National Geographic.

5 menit kemudian, kami pun pamit pulang ke Surabaya. Kali ini Ayos yang menyetir pulang.

Baru saja 5 menit meninggalkan rumah, kami kecelakaan.

Ceritanya, di depan kami ada sebuah mobil avanza berwarna silver berjalan rada ngebut, lalu ngerem mendadak. Ayos yang seharusnya tidak pantas mendapatkan SIM ini pun kaget, dan tidak sempat menginjak rem. Brakkk! Ayos kehilangan kendali setir. Sempet oleng ke kanan dan ke kiri seperti orang mabuk, akhirnya si Kebo (nama motor si Ayos) nyungsep mencium aspal jalan. Dagu Ayos menghantam aspal, saya pun terpelanting. Untunglah kami tidak apa-apa.

Tapi kecelakaan ini membawa rekor buat saya: kecelakaan pertama saya sejak 7 tahun terakhir. Seingat saya, kecelakaan pertama dan sekaligus yang terakhir itu terjadi ketika saya duduk di kelas 2 SMA. Kejadiannya sama, menabrak mobil yang ngerem mendadak.

“Aku gak sempet ngerem. Remnya udah gak pakem lagi” kata Ayos yang dagunya jadi kelihatan sama dengan Bakrie gara-gara ada memar berwarna merah.

“Hehehe, pake perseneleng dul.” kataku. Jadi biasanya kalau rem motorku gak pakem atau udah blong, aku biasanya memainkan perseneleng sebagai ganti rem. Taktik ini aku dapet dari Omku yang dulu suka balapan liar. Waktu kelas 1 SMP aku pernah diajak ngebut pake motor balap yang gak ada remnya! Brengsek!

Akibat kecelakaan itu, si Kebo ngambek. Lampunya pecah, jadi dia tidak kelihatan seksi. Dia ibarat cowok gondrong yang rambutnya baru saja dipitak sama guru BP. Lalu persnelengnya juga macet. Dia seperti Cristiano Ronaldo yang loyo dan tidak bisa membuat gol kontra Pantai Gading. Setirnya pun bengkok ke kiri. Sama seperti leherku, atau mungkin juga lehermu yang miring ke kiri akibat nonton film perang antara Ariel dan Cut Tari. Tapi toh si Kebo tetep bandel dan liat. Dia bisa menghantarkan kami kembali ke Surabaya dengan selamat. Dengan saya yang menyetir.

Karena saya sedang sinis, maka saya tidak akan menyalahkan Ayos, atau si pengendara mobil. Saya cuma punya satu kambing hitam: ARMADA! Makanya Yos, kalau dibilangin itu mbok ya nurut, dibilangin lagunya Armada itu bisa bikin kualat, kok kamu gak percaya. Ya ini akibatnya.

Nb: buat si vokalisnya Armada: gara-gara kamu, saya menganggap memakai bandana di dahi itu tidak keren lagi, hahaha.

Surabaya, 17 Juni 2010
Masih di kosan si Ayos

Dan masih berusaha mencari sisi magis Galaxie 500
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR