Melahap Nasi Goreng Sapi Sebelum Jazz Mben Senen

338

Beberapa hari lalu, saya sedang berkunjung ke Jogja untuk melakukan reportase buat majalah Tegalboto. Rencananya saya pulang ke Surabaya hari Minggu. Tapi serta merta saya batalkan. Karena apa? Karena saya akan melihat Jazz Mben Senen dengan riang gembira. Apa itu Jazz Mben Senen? Klik disini untuk mencari tahu.

Nah, mendengarkan Jazz dengan perut lapar itu rasanya gak baik. Jazz itu ibarat kita bermain, tapi bermain dengan matematika, hihihi. Untuk menyenangkan perut yang sedang keroncongan, saya diajak makan nasi goreng Sapi di depan SMA 3 Jogjakarta, di daerah Stadion Kridosono. Seorang teman, Maya Wuysang namanya, pernah bercerita kalau dia ketagihan makan nasi goreng sapi ini. Karena Maya memang orang yang suka makan makanan enak, maka saya percaya kalau nasi goreng sapi itu memang enak. Maka saya minta Pras, guide saya malam itu, untuk membawa saya ke warung nasi goreng sapi itu.

Setelah memarkir motor di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), maka saya dan Pras berjalan ke warung nasi goreng sapi itu, hanya berjarak sekitar 200 meter saja dari BBY.

Warung nasi goreng sapi ini cukup populer di Jogja. Terlihat dari banyaknya pengunjung yang duduk lesehan, maupun yang duduk di kursi. Pras memesan 2 porsi nasi goreng sapi untuk kami, dan 1 es jeruk saya serta 1 es teh buat dia.

Tak sampai 5 menit, pesanan datang. Wah, cepat sekali, pikir saya waktu itu. Pas saya menyendok suapan pertama, nasi goreng ini tidak panas, hanya hangat, malah hampir dingin.

“Gak panas ya? Soalnya disini masaknya dalam jumlah banyak. Jadi kalau ada orang mesan, langsung disajikan, gak perlu masak dulu” kata Pras. Aih, melewati makan malam dengan makanan yang tidak hangat sepertinya bukan ide yang bagus. Tapi tak apalah. Lagipula rasanya enak kok.

Nasi goreng sapi ini berisi potongan kecil daging sapi yang terasa empuk serta berserat. Ada telur ceplok sebagai tambahan lauk, ada acar dengan rasa asamnya sebagai stimulus agar makan jadi tambah lahap, lalu ada beberapa keripik melinjo sebagai teman. Rasanya sederhana, ada rasa jintan(atau kapulaga?entahlah, saya bukan reviewer makanan yang handal, hahaha) yang cukup kuat, membuat rasa nasi goreng sapi ini menjadi begitu khas. Porsi nasi goreng ini cukup lah, tidak banyak tidak pula sedikit. Tapi jujur, buat lelaki kuli seperti saya, porsi nasi goreng ini kurang, hehehe.

Satu lagi kekurangan di warung nasi goreng sapi ini, rasa minumannya aneh. Sepertinya airnya berbau dan berasa kaporit. Jadi es jeruk yang saya minum sedikit berasa kaporit. Tapi tak apalah, rasa nasi goreng sapi cukup untuk membuat saya tak uring-uringan dengan air kaporit ini, hehehe.

Berapa harga nasi goreng sapi ini? Entahlah, Pras mentraktir saya malam itu. Tapi sepengetahuan saya, harga nasi goreng ini tak lebih dari 10.000 rupiah kok. Kalau disuruh memberikan bintang, saya berikan 7,5 bintang dari 10 bintang untuk nasi goreng sapi ini. Setelah makan nasi goreng, hari senin malam itu ditutup dengan menyaksikan Jazz Mben Senen di BBY.

Kombinasi nasi goreng sapi, ditraktir, dan Jazz Mben Senen ini tiba-tiba membuat saya melupakan jargon I Hate Monday.

N.B: Terimakasi buat Prasetyo “Londho” Wibowo untuk nasi goreng sapi dan Jazz Mben Senennya, hehehe.

Surabaya, 27 Juni 2010
Sembari mendengarkan Silampukau dan Greatsgather
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR