Silampukau Yang Memukau

1099

Semalam (25/6), saya menonton sebuah gigs di kecil di sebuah kafe yang juga kecil. Nama kafenya Blackbird. Kafe yang terletak di daerah Darmo, Surabaya ini memiliki konsep The Beatles Cafe. Semua serba The Beatles, mulai interior, hiasan, daftar menu, hingga nama menunya. Nama menu yang saya ingat adalah Helter Skelter, minuman yang saya pesan. Ini adalah soda dengan sirup psychedelic melon dan diberi topping ice cream vanilla diatasnya.

Tapi saya tidak akan berbicara mengenai kafe Blackbird atau Helter Skelter. Saya mau berbicara mengenai sebuah band keren bernama Silampukau. Awalnya ketika saya pertama datang ke Surabaya beberapa hari lalu, Ayos memberitahu tentang band ini. Silampukau? Nama yang aneh.

Lalu Ayos menunjukkan Myspace Silampukau. Ah, hanya ada satu lagu disana. Band tidak niat, pikir saya waktu itu. Tapi ketika di dengar, alamak, mendingan Bob Dylan saya suruh cuci piring saja daripada menyanyi. Lagu berjudul Berbenah ini begitu membius. Menghipnotis. Dengan lirik yang halus, sederhana tapi metaforis, renyah, sekaligus sendu. Musiknya sederhana. Hanya berbaju gitar akustik, dengan sedikit aksen akordeon. Tapi ya itu, dibalik musiknya yang sederhana, ada kekuatan besar disana. Hal yang sama terjadi pada Bob Dylan atau Iwan Fals muda.

Silampukau adalah dua biduan gipsi Eki Tresnowening dan Kharis Junandharu yang berasal dari Surabaya, kota yang lebih kental dengan nuansa musik rock. Eki sang vokalis dengan suara yang gagah, manly, dan berat, adalah seorang pekerja di sebuah perusahaan kontraktor interior. Sedang Kharis yang mempunyai corak vokal lembut dan cendurung feminim (seorang teman mengira suaranya adalah suara perempuan) adalah mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Airlangga. Dengan dua gitar akustik, mereka akan menantang dunia. Silampukau sendiri adalah kosakata Melayu kuno yang diambil dari sebuah manuskrip tua mengenai Laksamana Cheng Ho, artinya Kepodang, spesies burung yang suaranya merdu.

Musik mereka banyak dipengaruhi oleh The Dubliners, band veteran dari Irlandia. Silampukau sendiri mengambil inspirasi musik dan lirik dari kehidupan para kaum urban. Saya jadi ingat kata-kata teman saya, Oo Zaky yang pernah mengatakan, “Kaum urban adalah kaum yang selalu gelisah.” Mungkin itu sebabnya, lirik-liriknya banyak bercerita mengenai kehidupan masyarakat menengah kebawah.

Simak saja lagu berjudul “Sang Juragan” . Lagu yang berirama riang seperti “Oemar Bakrie” milik Iwan Fals ini bercerita mengenai penjual minuman keras yang pusing gara-gara harga minuman keras melambung tinggi, bahkan minuman keras kelas bawah seperti Anggur Merah. Naiknya harga miras ini justru menimbulkan kekacauan baru: banyak orang mati gara-gara mencampur minuman keras dengan zat berbahaya.

hidup ini memang keras apa salahnya ku jual miras?
anggur vodka arak beras dijamin murni tanpa potas
…hidup ini tambah keras
semenjak naiknya harga miras

Tapi tetap, yang paling aku suka adalah lagu Berbenah, benar-benar membuat saya terpukau!

Untuk tahu tentang Silampukau, klik disini

Kalau mau gabung fanpage Silampukau di Facebook, klik disini


Ki-Ka: John Mayer, Eki, Kharis
Surabaya, 26 Juni 2010
Sembari mendengar Berbenah terus menerus 🙂
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

5 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR