Bersama Kalian Aku Tak Ingin Jadi Dewasa

509

Memang benar kata pepatah jaman dulu, “Masa SMA adalah masa yang paling menyenangkan.” Saya mempunyai banyak teman-teman “ajaib” ketika SMA dulu. Bahkan 5 tahun semenjak lulus, kami masih sering berkumpul. Dan teman-teman saya juga masih saja ajaib. Tulisan ini adalah salah satu contoh betapa ajaibnya teman-teman saya.

***

Beberapa waktu lalu, seorang teman bernama Ade “Bogang” Defrizal, men-tag foto seorang teman. Foto itu adalah foto Eka “Dajjal” Pradika. Si Ade dan Eka ini adalah dua sahabat kental semenjak SMP. Ade adalah seorang pria yang kurus mendekati kering, kadang terlalu PD, dan suka bercanda. Sedang Dika – nama panggilan Eka – ,adalah anak yang sedari dulu sering dijadikan objek hinaan.

Foto yang bergambar Dika sedang berdiri di air mancur buatan dengan hiasan patung harimau itu di tag ke semua teman semasa SMA. Tak perlu waktu yang lama bagi gerombolan cecunguk SMA 1 Arjasa itu untuk merespon foto tersebut. Responnya? Tentu saja hinaan. Lalu terjadilah perang komentar, sangat sengit. Yang berkomentar mengeluarkan kata-kata kebun binatang, hingga ke alat kelamin. Serunya mengalahkan perang Malvinas antara Argentina melawan Inggris. Komentar di foto ini mencapai 51 komentar.


Foto pertama: 51 komentar

Tak ada yang tahu bahwa tag foto yang dilakukan oleh Ade ini akan memicu perang besar di kemudian hari.

Beberapa hari setelah kasus tag Ade itu, ternyata Dika melakukan balas dendam. Dika ternyata memiliki foto Ade yang sedang duduk di pinggir kolam renang sembari memegang kepalanya. Di foto tersebut, Ade sang pria jomblo itu tampak begitu rapuh dan menyesali hidup. Dika memberi judul foto itu “Ade Nyonyor.” Lalu Dika men-tag semua teman SMA di foto itu.


Foto kedua: 187 komentar

Sudah bisa diduga, terjadi perang dunia kedua! Kali ini jauh lebih seru. Sebab ada beberapa “anak baru” di foto ini. Mereka komentarnya pun tajam, setajam peluru M16. Dar Der Dor, peluru kata-kata jorok dan makian pun dimuntahkan oleh para berandalan semasa SMA ini.

Ade pernah mempunyai beberapa catatan kelam dengan wanita. Nah, ternyata luka lama itu yang dijadikan senjata oleh para komentator foto ini. Ade jelas mencak-mencak gak karuan. Seru sekali. Luka lama dibuka, Ade berusaha menutupi, yang tidak tahu sejarahnya malah memanaskan suasana dengan komentar yang sama sekali tidak membangun.

Tapi ada satu masalah di foto kedua ini. Dika yang diduga calon potensial penderita Down Syndrome ini ternyata men-tag beberapa orang yang tidak pernah bercanda dengan gaya guyon SMA Arjasa. Nah, ternyata ada seorang yang berumur 30-an. Jauh sekali dengan umur saya dan teman-teman lainnya. Si Om tersebut berusaha menasehati agar kata-kata joroknya dikurangi. Lalu ada lagi, Nur “Black” Fahmi yang ikut menambah panas suasana dengan berkomentar ala AA Gym. Duarrr!!! Bom Napalm pun meledak dengan keras!

Nicky “Ko-ot” Prasetya dan Nova “Drunken Master” pun melawan dengan sengit. Mereka memainkan majas sinisme (majas baru ciptaan anak-anak SMAJA 05). Mereka menyindir si Om dan si Fahmi. Kata-kata yang dikeluarkan pun setajam dan setipis silet, menyiksa dan membunuh perlahan. Yang mereka tidak tahu, si Om itu adalah orang yang berumur 30 tahun, dan sama sekali bukan teman kami.

Akhirnya setelah mengadakan gencatan senjata sejenak, ditemukan siapa yang bodoh. Dalam kasus kedua ini, Eka Dajjal yang salah. Dia men-tag orang yang sama sekali belum terbiasa dengan becandaan yang kasar dan sangat sarkas. Jadi Eka resmi dijadikan penjahat perang. Dan hukumannya sangatlah kejam. Nuran “Tompel” Wibisono serta Angga “Nyen” Pribadiyono ditunjuk sebagai pihak yang akan menghukumnya langsung beberapa hari kemudian.

Oh ya, perang komentar barbar ini mencapai 187 komentar. Angka yang tinggi, melebihi komentar foto pertama. Dahsyat!

Nuran Tompel alias saya sendiri, beserta Angga Nyen bertindak sebagai Dewan Keamanan PBB. Kami ditugaskan menghukum Eka Dajjal karena sudah bikin onar dan didakwa sebagai penjahat perang. Dia jelas-jelas mengorbankan warga sipil tak bersalah, yakni si Om itu.

Hukumannya adalah, tag foto lagiiii!!! Hahahahaha.

Jadi, ketika saya sedang berinternetan ria di rumahnya Nyen, saya menemukan sebuah foto lama Eka. Posenya sungguh sangat bikin wanita jadi “pengen,” pengen menimpuki, pengen menampari, pengen menjambak-jambak, dan juga pengen meludahi. Nah, foto Eka dengan senyum nanggung ini saya tag ke beberapa teman. Hanya sedikit saja: Nova Drunken Master, Ade Bogang, Vicho “Back Stabber”, Angga Nyen, dan Rayis “Colok Bucok.” Beberapa menit setelah di tag, masih tak ada komentar yang masuk. Ini adalah foto ketiga yang dijadikan bahan peperangan.

Tak dinyana beberapa saat kemudian, Angga Nyen yang dikenal sebagai dewan keamanan yang cukup sadis, menambahi tag ke hampir seluruh teman SMA. Tag yang semula hanya 5 orang, membengkak jadi hampir 50 orang! Yak, sebentar lagi pasti akan terjadi perang besar! Bersiaaaaaapppp!

Foto ketiga: 203 komentar!

Dor! Tembakan pertama dilayangkan oleh Hermawan “Nemesis”, seorang pria penduduk negara bagian IPA yang dikenal kalem. Ternyata orang kalem komentarnya bisa sangat tajam, setajam peluru Desert Eagle.

“Ini siapa? Dika ta? Aku pikir kernet (kondektur, red.)” katanya melontarkan serangan pertama.

Seperti sudah diduga sebelumnya, perang pun dimulai! Dar Der Dor! Lontaran makian, kata-kata kebon binatang, kosakata mahluk barbar, sampai lokalisasi bernama Dolly pun dimuntahkan secara berbarengan. Perang semakin sengit. Hampir semua pasukan elite turun dalam perang ini. Mulai saya sendiri, Angga Nyen, Eka Dajjal, Nova Drunken Master, Echa Kabayan, Rayis Colok Bucok, sampai seorang tentara perempuan bernama Dinda Sipit.

Perang di foto ketiga ini sangatlah seru. Tembakan-tembakan pertama dilayangkan pada Eka Dajjal sebagai penjahat perang. Eka pun berhasil mengelak, yakni dengan tidak ikut muncul di perang komentar ini. Dia hanya memberikan satu tembakan, setelah itu dia bersembunyi dibalik bunkernya. Boooo, pengecuuuutttt!

Tanpa dinyana-nyana, terjadi perang yang sama sekali tak terduga. Kali ini terjadi antara Ade Bogang dan Dinda Sipit. Entah siapa yang memulai, terjadi saling balas rentetan tembakan berupa komentar yang menyinggung fisik, nama merk sebuah produk, hingga taruhan berupa meminum kencing. Busettt! Sadis sekali!

Dalam perang beda gender ini, Ade Bogang keok! Dinda ternyata merupakan tentara yang tangguh. Stok peluru hinaannya banyak sekali, hingga seorang Ade yang biasanya sarkas pun jadi tertunduk, pulang dengan mengibarkan bendera putih. Sekali lagi, sejarah membuktikan bahwa Ade selalu menjadi pihak yang kalah dan tersakiti kalau berurusan dengan wanita.

***

Dalam sejarah kami di SMA , bermunculan beragam nama julukan. Rasa-rasanya nama julukan itu bakal jadi panggilan seumur hidup di kalangan teman SMA. Nama julukan ini diberikan tidak melulu asal. Ada faktor psiko-historis yang menaunginya. Hebatnya pula, kadang nama julukan ini mengalahkan nama asli, hingga orang mengenal kami dengan nama julukan, bukan nama asli.

Sebut saja Angga “Nyen” Pribadiyono. Semasa masih kelas 1, dia tentram dengan panggilan Angga, sebuah nama yang sangat manis. Dunia disekitarnya lalu berubah ketika dia masuk ke kelas 2.1, satu kelas dengan saya dan bahkan satu bangku. Di kelas itu, Angga dan Saya sering kali bertukar keping video porno (yang populer dengan sebutan BF) lalu menyebarkan keping ini ke seluruh mahluk lelaki di kelas kami. Lucunya, kadang-kadang keping maksiat itu kami selipkan di buku agama atau buku PPKn, hahaha.

Arif “Bendol” Sandy, salah seorang begajul di 2.1, akhirnya memberikan nama julukan “Nyen” bagi Angga. Nyen ini adalah singkatan dari Onyen, istilah Madura slang untuk bersetubuh. Ini karena Nyen akhirnya dikenal sebagai bandar BF sejati. Angga yang bertubuh kecil ini akhirnya harus rela dipanggil dengan sebutan Nyen seumur hidup. Nyen pula yang mempopulerkan sebutan “Montana” untuk wanita seksi. Montana sendiri adalah karakter di salah satu BF yang kami sebarkan (Damn! kenapa saya masih bisa inget Montana ini ya? hahaha).

Akhirnya banyak nama alias yang bermunculan. Saya dipanggil Nuran Tompel, karena dulu saya punya tahi lalat kecil di pipi bagian kiri. Pas kuliah semester 4, tahi lalat kecil itu dioperasi atas saran dokter kenalan ibu saya. Meski tahi lalat itu sudah hilang, masih saja saya dipanggil tompel sampai sekarang.

Lalu Nur “Black” Fahmi. Kami sama sekali bukan kaum rasis. Tapi menghina kehitaman kulit si Fahmi itu sungguh perbuatan yang sangat menyenangkan. Ada lagi julukan Drunken Master bagi Nova. Julukan ini muncul karena dari dulu, Nova adalah jagoan untuk urusan “botol,” hahaha. Rayis si Colok Bucok adalah sebutan untuk Rayis yang suka omong besar dan suka sok tahu. Kadang apa yang diomongkan dan diinformasikan itu sama sekali tidak benar. Rayis juga kadang dipanggil Mbah (Kakek), karena memang tahun lahirnya jauh diatas kami teman-teman satu angkatannya. Oh ya, wajahnya juga wajah boros. Lalu ada lagi Aji “Gumo’ong”, sebutan yang diberikan karena lubang hidung Aji yang besar, sama seperti lubang hidung Gumo’ong, sang raja sapi dalam film kera sakti. Lalu sebutan Bogang bagi Ade itu muncul setelah beberapa buah gigi Ade rontok selepas menabrak truk bersama Eka Dajjal. Ade kadang pula dijuluki dengan sebutan Keceng (kurus), sebuah ode untuk kurusnya Ade yang memiriskan hati.

Kami semua sangat suka menghina, menggojlok, berperang makian, atau apapun itu yang berkaitan dengan menjatuhkan mental seseorang. Entah siapa yang memulai kebiasaan horror itu. Akibatnya, mental kami sepertinya jadi terasah. Kami terlatih untuk kuat dihina dan jauh lebih kuat dalam urusan menghina. Jadi ketika kami dihina oleh orang yang bukan alumni SMA Arjasa, kami merasa biasa saja, karena guyonan dan gojlokan ala SMA Arjasa itu sungguh kasar tak terperi. Sedang kami kalau menghina atau menggojlok orang yang bukan alumni SMA Arjasa, orang itu bakalan langsung keok, pulang terbirit-birit, karena hinaan kami kadang sungguh tak manusiawi adanya.

Hebatnya, meski kami suka saling menghina, sangat jarang ada yang marah besar diantara kami. Kalau pertengkaran-pertengkaran kecil sih merupakan hal yang biasa. Beberapa menit kemudian pasti sudah baikan dan hina-hinaan lagi.

Dulu semasa Friendster masih berjaya, tak pernah ada guyonan di dunia maya. Karena sebagian besar dari kami tidak punya Friendster. Ketika Facebook berjaya, entah kenapa sebagian besar dari kami punya account facebook. Malah hampir semua teman satu geng punya account.

Rupanya tekhnologi ini dimanfaatkan secara benar-benar oleh kami. Ketika waktu, pekerjaan dan jarak menjadi penghalang untuk bertatap muka dan menghina secara langsung, maka kami memanfaatkan facebook. Guyonan dan hinaan kami langsungkan di wall, foto, ataupun notes. Tampaknya kali ini kami harus berterimakasih pada facebook 🙂

***

Masih di foto ketiga. Kali ini Rayis Colok Bucok menjadi jenderal di Garda Depan peperangan. Sayangnya, sasaran tembaknya ngawur. Semua orang ditembak dengan peluru gosip. Reza ditembak dengan isu bahwa dia ditinggal nikah oleh pacarnya. Ade dihantam isu bahwa dia dan Fahmi bertengkar karena perempuan. Nyen pun dihajar dengan hinaan tinggi badan. Hingga saya yang dibidiknya dengan isu bahwa saya tak pernah punya pacar.

Blarrrrrr!!!! Semua tentara elite ini pun marah besar! Ade yang mulai membalas dengan satu tembakan dari Bullpup (nama senjata)-nya. Tapi serangan balik yang paling sengit adalah serangan yang dilontarkan Reza Kabayan. Pria berdarah Sunda ini melontarkan banyak peluru tajam dari machine gun-nya. Dor Dor Dor, rentetannya terdengar keras. Lalu saya pun membidik gigi Rayis yang hitam itu. Duar! Tepat kena mulut Rayis yang monyong, yang memudahkan saya untuk membidiknya. Rayis terluka. Zein “Pengen Muleh” pun merentetkan tembakan yang mengisyaratkan kalau dirinya tak sudi sang adik ditaksir oleh Rayis. Lalu Nova dan Nyen menghabisi Rayis sang pria tua itu dengan beberapa rentetan peluru tajam.

Rayis resmi keok setelah dikeroyok oleh banyak tentara elite. Ternyata umur yang lebih tua tak menjamin Rayis menjadi lebih hebat dibanding kami. Perang di foto ketiga pun resmi saya akhiri. Saya melemparkan tembakan keatas udara sebagai tanda bahwa perang komentar resmi berakhir. Tembakan komentar nomer 203! Resmi mengalahkan foto Ade Nyonyor!

Tapi ternyata dendam belum usai. Ade Bogang rupanya masih menyimpan bara dendam terhadap Rayis. Semalam setelah perang ketiga resmi saya akhiri, Ade mengajak koalisi, berusaha menjadikan saya sebagai aliansinya. Ade meminta saya mengaplot foto Rayis. Waduh, itu permintaan yang sulit sebenarnya. Bukannya apa, mendapatkan gambar wajah Rayis itu sama susahnya dengan mendapatkan foto Ariel Peterpan setelah kasus video porno. Mereka berdua adalah mahluk eksklusif. Mereka sama-sama terkenal. Hanya beda wajah, isi dompet, dan peruntungannya dengan wanita.

Tapi ternyata saya punya satu foto kecil wajah Rayis di handphone saya. Bukan saya yang mengambilnya, tapi Rayis sendiri yang melakukannya. Akhirnya, dengan menambahi caption yang mengibarkan perang, saya aplot foto itu. Saya mengaplotnya di rumah saudara Nyen, sekutu dari saya dan Nova selama ini. Tak lupa saya men-tag teman-teman SMA, dan Nyen men-tag ke teman-teman SMP-nya. Nyen dan Rayis ini dulu satu SMP.

Foto keempat, the best: 267 komentar!


Psiiuuuuuuuu, dhuaaaarrr!!!! Roket serangan pertama pun diluncurkan. Semua suka karena kali ini Rayis yang dijadikan objek perang. Rupanya Rayis menjadi common enemy kami semua. Rayis ibarat Israel, dan kami semua adalah negara-negara Islam. Maka perang pun tak terelakkan lagi.

Ketika perang tengah berlangsung, saya mempunyai ide cemerlang – dan sedikit sadis sepertinya. Saya ingat kalau seumur hidupnya, Rayis hanya punya satu pacar, sang adik kelas semasa SMA. Saya pun men-tag sang mantan Rayis itu, Fairoh namanya. Saya gambling disini. Kalau Fairoh berkenan jadi aliansi saya, ia tentu akan jadi bantuan yang tak tertandingi. Kalau Fairoh tak berkenan, bisa-bisa saya ditembak mati.

Ternyata Fairoh dengan senang hati menjadi aliansi kami dalam menggempur Rayis! Maka secara amat perlahan namun gamblang serta frontal, Fairoh melemparkan granat-granat masa lalu ke dalam medan pertempuran. Nova Drunken Master pun berkolaborasi. Nova dengan cerdik memancing-mancing Fairoh agar terus melemparkan granat. Duar Duar Duar Duar! Ledakannya sangat keras dan memiriskan hati. Bagaimana tidak, semua rahasia hubungan antara Rayis dan Fairoh diungkapkan secara tajam, setajam SILET! Bahkan Fairoh dengan suka hati bercerita kalau ia akan menikah dalam waktu dekat. Sang calon suami sebentar lagi akan mengajaknya berbulan madu, lalu si suami akan melanjutkan S2 di Jepang. Kalau Rayis masih mengharapkannya, “Tunggu jandaku saja!” tembak Fairoh telak! Woooowwww! Ternyata Fairoh sungguh sangat tangguh dan liat, mengalahkan kekuatan Dinda Sipit di perang sebelumnya.

Rayis pun tak berkutik. Ia hanya bisa memaki Fairoh. Sayangnya Fairoh mempunyai banyak bodyguard tangguh. Mulai Ade Bogang yang memancing rahasia hubungan Rayis dan Fairoh, Nova yang menjadi tameng, hingga Nyen yang memanaskan suasana dengan bom molotov-nya. Ade sendiri sempat melontarkan rentetan peluru karet (alias komentar gak berguna). Setelah saya nasehati, Ade pun dengan segera menggantinya dengan peluru tajam. Ade pun dengan gencar memancing-mancing Fairoh agar terus bercerita. Fairoh pun sepertinya sangat senang bisa membeberkan hubungannya dengan Rayis di masa lalu.

Lalu Rayis bagaimana? Ia tidak berkutik sama sekali! Keok! Tidak bisa membalas! Kalah sama Lek Solihin! (De, who the fuck is he?). Rayis hanya bisa sesekali melempar bom asap, lalu ia menghilang di balik asap. Sama sekali tak memberikan perlawanan. Para tentara elit pun bertempik sorak. Israel sudah hancurrrr!!!

Perang ini sendiri sempat saya tinggal untuk tidur. Jam 12 siang ketika saya bangun, sudah ada sms dari Ade. Isinya? Saya disuruh melihat facebook, “Seru pel!”. Saya pun membuka facebook dengan mata masih sedikit terpejam. Ketika page terbuka, membelalaklah mata saya. Ada 93 notifications disana! Gila! Setelah saya buka, ternyata isinya adalah rumpian ala ibu-ibu arisan antara Ade dan Fairoh. Isinya? Ya jelas tentang Rayis dan masa lalunya, hahaha.

Rada sorean, ternyata Rayis melancarkan serangan balasan. Kali ini yang disasar adalah saya, yang dia anggap sebagai otak dari perang di foto keempat ini. Bodohnya, Rayis men-tag teman-teman pada fotonya sendiri. Posenya dalam foto itu sungguh mengingatkan saya pada gaya ala Onky Alexander, tapi dengan wajah milik Rayis, duh gusti! Hahahaha. Di bawah foto itu, dia bersyair bahwa saya adalah orang yang suka fitnah, suka melancarkan perang, dan tidak percaya tuhan, hahaha. Kenapa tuhan dibawa-bawa bung? Hehehe.

Tapi hal ini sama saja seperti Israel meminta bantuan pangan ke Palestina dan Iran. Permintaan bantuan pasti akan ditolak mentah-mentah. Kekejaman dan kebusukan Israel udah jelas, dan hal itu sudah terjadi dalam waktu yang panjang. Para tentara SMAJA yang ditag bukannya menyerang saya, malah dengan serentak menyerang Rayis sang negara Israel, hahaha.

Sampai saat tulisan ini diturunkan, komentar di foto keempat sudah mencapai 267 komentar! Rekor baru! Sedang komentar di foto Rayis? Nyaris nihil. Kalaupun ada komentar, isinya semua malah menghina Rayis.

***

Mungkin inilah salah satu warisan dari masa SMA yang menyenangkan. Peperangan ini sengit, namun sangat menghibur. Sungguh mengasyikkan berperang dengan kata-kata dan masa lalu. Bersama kalian, aku tak ingin menjadi dewasa.

Jadi? Mari kita lanjutkan perang kita kawan 🙂

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR