Dëshirë e Madhe*

135





If they say i never love you, you know they are all liars!

(The Doors, L.A Woman)

Aku adalah anak hasil perkawinan antara angin dan matahari. Sedang ia adalah anak dari perkawinan kabut dan rembulan. Ia begitu tenang dan senyap. Sedang aku tak pernah bisa diam. Ia begitu mencintai bau tanah sehabis hujan, sementara aku begitu mencintai bau apak rambutku yang terbakar matahari. Tapi aku memberikan bagian terdalamku untuknya. Kalau ada orang yang bilang aku tak membutuhkannya, maka orang itu adalah pendusta!

***

I see angels micky, they coming down for us from heaven

(Lou Reed, Sweet Jane)

Seumur hidupku aku tak pernah melihat malaikat. Mungkin aku tak percaya bahwa malaikat itu ada. Tapi dia begitu ngotot bahwa kita mempunyai satu malaikat penjaga. Aku selalu menertawainya kalau ia mendebatku perihal malaikat ini. Ia tampak begitu menakjubkan ketika melakukannya. Dia mungkin telah sedikit berhasil membuatku percaya bahwa malaikat itu ada.

“Ah, kau itu seperti anak TK percaya bahwa malaikat itu ada!” hinaku.

“Kau itu seperti orang dengan masa kanak-kanak tak bahagia!” hardiknya sambil tertawa.

Lalu kami berpelukan sambil lalu aku menggendongnya. Lantas kami pergi entah kemana.Kami bisa pergi ke danau di belakang halaman rumah kami. Bisa juga mendaki bukit hijau di depan kami, menanti matahari purna dan rembulan memulai tugasnya. Menyaksikan gemintang lampu sembari berciuman. Pelan, lembut dan mesra.

***

Get up get up, let’s make love tonight, i need some loving

(Marvin Gaye, Sexual Healing)

Ia memberiku banyak. Mulai teks hingga seks. Seperti kabut, ia bagai energi yang tak pernah tampak. Laten. Ketika marah mulai melanda, maka ia akan mengecup dahiku. Menarikku lantas memelukku. Melingkarkan tangannya di leherku, lantas kami berdansa.

“Sayang, emosi selalu membuatmu tampak lucu” katanya. Aku hanya bisa mengernyitkan dahi. Bagaimana mungkin emosi bisa membuat seorang manusia menjadi lucu?

“Sebab emosi tidak harus membuat manusia menjadi bukan manusia” sahutnya sembari memeluk pinggangku dari belakang. Lantas kita pergi sambil tertawa cekikikan seperti dua orang bayi yang sedang berbahagia mendapatkan mainan favoritnya. Dan sprei kasur kami kembali berantakan…

***

I see the fire in your eyes, but a man’s gotta make his way

(Cinderella, Coming Home)

Ah, kamu meneteskan air mata. Bukankah sudah kubilang kalau aku paling tidak bisa melihat wanita menangis? Tahukah kamu berapa kali aku batalkan pendakian gunung karena ibuku menangis? Sekarang ketika aku ingin pergi berkelana, ibuku tak pernah menangis. Tapi sekarang kau yang menangis. Dan aku benci itu. Ya, aku melihat ada api di matamu, tapi entah sampai kapan. 

Bukankah kita sudah berjanji tak akan ada melankolia dalam hubungan kita? Seorang laki-laki pasti nanti akan sendiri. Itu kata Iwan Fals. Pertanyaan yang diluncurkan oleh Cinderella pun kembali menyeruak. 

Are you tough enough for my love?

“Bisakah kau berhenti barang sejenak?” tanyamu sambil matamu terus memohon. Aku paling tak bisa merayu gadis. Dan aku tahu ketika aku merayu, maka itu akan tampak seperti rayuan gombal. Maka aku pikir sebuah pelukan lama sudah cukup. Tulislah alamatmu gadis. Aku akan mengirimu surat setiap saat!

***

If i leave here tomorrow
Would you still remember me?
For I must be traveling on now
Cause there are too many places i’ve got to see
But if I stay here with you girl
Things just couldn’t feel the same
Cause I’m as free as a bird now
And this bird you can not change…

(Lynyrd Skynyrd, Free Bird)


Maka sekarang kalau aku berjalan dengan tas di punggung bersama seorang kawan, itu bukanlah sebuah cerita kepahlawanan. Bukan pula kisah romantika bodoh antara dua orang pria yang mencintai jalanan. Ini hanyalah sebuah perjalanan, dengan inspirasi, mimpi, dan tujuan yang sama. Kami mungkin tak punya banyak uang. Tapi sejak kapan tidak punya uang bisa menghalangi kita untuk melihat dunia?

Apa kabarmu disana gadis? Apa malam ini kau melihat bintang yang sama dengan yang kulihat? Saat ini aku entah berada dimana di tengah pulau Sulawesi yang ramah dan juga tamah. Aku tidur beralaskan kain wol pemberian ibuku. Temanku sudah tertidur setelah mencatat kejadian hari ini, sedari pagi hingga senja menjemput. Api unggun yang kami buat seperti membawaku ke masa lampau, dimana aku masih bermimpi untuk menjadi Old Shatterhand yang tidur beratapkan langit.

Apa kau tetap merindukan orang yang sama? Apa kau masih menjadi wanita kabut yang beribukan rembulan? Apa kau masih suka mendengarkan musik bodoh yang kau sebut jazz itu?

“Bah! Musik apa ini? Main tak ada juntrungannya, kesana kemari! asal tiup!!” ejekku ketika mendengarkan Bitches Brew yang sangat kau gilai itu.

“Tolol! Ini baru yang namanya musik! Daripada kau! Siapa yang kau suka? The Doors? Jim Morrison? Bah! Mereka hanya sekumpulan pemabuk, dengan vokalis bodoh pemabuk yang sok puitis!” katamu menghina Jim yang begitu aku puja.

“Bah! Pegang omonganku! Sampai kapanpun Jazz tak akan bisa mengubah dunia!” hardikku semakin kasar sembari tertawa. “Musisi Jazz adalah contoh komponen masyarakat yang egois. Semua pada asyik dengan yang dipegangnya. Tak ada interaksi dengan penonton. Tak ada lirik politik yang menggugah kesadaran. Lalu buat apa mereka bermusik? Mereka terlalu asyik bermain sendiri. Itu kan sama saja dengan onani” lanjutku dengan tawa yang semakin membahana.

“Aih, begitu menyedihkannya kau itu. Kau pikir musik rock yang kau banggakan itu bisa merubah dunia? Kredonya saja sex, drugs, rock n roll. Ya yang ada di pikiran mereka hanyalah vagina dan payudara, serta obat bius. Lalu kalau mereka mabuk, mana mungkin mereka merubah dunia?” kau melontarkan kalimat sumpah serapahmu sembari melontarkan kaset Appetite For Destruction ke udara. Kau tampak tertawa puas setelah melakukan itu. Sialan. 

Bodoh! Itu warisan terbaik dari era 80-an! Tidak sopan!

***

Semoga detik ini mengendap selamanya. Rindu tak boleh bebani kita

(Silampukau, Sampai Jumpa)


Aku sadar, mengingatmu adalah berbahaya. Ada kalanya mengingat jalan yang panjang di depan, orang-orang baru yang akan aku temui, pengalaman baru yang akan aku jumpai, akan lebih menghibur ketimbang memikirkan rambut panjangmu, senyum magismu, atau pewangi yang kau pakai. Ya, rindu tak boleh bebani kita. Sementara aku berkelana, silahkan kau jalani hidupmu.

Semalam aku telpon rumah. Suara mamakku masih saja tegas berwibawa. Ah mamakku. Aku tak pernah menang berdebat dengannya. Seharusnya dia melanjutkan menjadi pengacara.

“Kapan kau pulang le?” tanya mamakku. Hahaha, itu adalah pertanyaan yang paling susah ku jawab. Sama saja ketika kau dulu selalu bertanya kapan aku lulus kuliah. 

“Aku tak tahu mak,” jawabku pelan dan tegas. Syukurlah mamakku sekarang sudah lebih pengertian. Ia paham betul kalimat W.S Rendra, “Ibu kami menangis, tapi elang toh harus terbang.”

“Bukannya kau punya pacar le?” tanya ibuku. Lantas beliau khawatir kau akan dilamar oleh anak Pak Haji dari kampung sebelah.

“Kalau ia mencintaiku, ia akan menunggu mak” tanyaku menyatir kata-kata Ernesto Gueavara sebelum ia berkeliling Amerika Selatan. Maka telepon malam itu aku tutup dengan ucapan hati-hati dari ibuku.

***

Lunglai – ganas karena bahagia dan sedih, 
indah dan gigih cinta kita di dunia yang fana. 
Nyawamu dan nyawaku dijodohkan langit, 
dan anak kita akan lahir di cakrawala. 
Ada pun mata kita akan terus bertatapan hingga berabad-abad lamanya. 

Juwitaku yang cakap meskipun tanpa dandanan 
untukmu hidupku terbuka. 
Warna-warna kehidupan berpendar-pendar menakjubkan 
Isyarat-isyarat getaran ajaib menggerakkan penaku. 
Tanpa sekejap pun luput dari kenangan padamu 
aku bergerak menulis pamplet, mempertahankan kehidupan. 

(W.S Rendra, Nota Bene: Aku Kangen)

Lembaran ini mungkin hanya berisi puisi dari sang begawan sastra Indonesia itu. Biarlah, toh sedang aku tak ingin menulis banyak. Toh aku tak mau memungkiri kalau aku rindu berdebat denganmu. Hanya rindu berdebat, tak lebih dan tak kurang.

Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar. 
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju. 

(W.S Rendra, Aku Tulis Pamplet Ini)

***

Get your motor running, head on the highway
Looking for adventure, and whatever comes our way

(Steppenwolf, Born to be Wild)

Apa kabar kawan-kawanku semua? Masih suka saling bersilat lidah seperti biasa? Siapa yang kalian jadikan objek hinaan sekarang? Betahkah kalian kerja di balik meja? Aku masih ingat ketika dulu kalian mencibirku karena aku tak mau menjadi pegawai kantoran, apalagi pegawai negeri. Itu bukan idealisme kawan, Aku hanya tak bisa membayangkan –apalagi mengerjakan– bekerja mulai pukul 9 pagi hingga 4 sore. Kalian bisa melakukan apa saja di balik meja dalam waktu selama itu? Duh pusingnya aku, apalagi kalau aku membayangkan pekerjaan itu akan kalian lakukan hingga tiba usia pensiun. 

Aku sekarang sedang berada di daerah antah berantah bernama Rantahan, sedikit di bawah Tondano, di ujung Pulau Sulawesi. Rambutku makin gondrong, brewokku pun sekarang sudah tumbuh lebat. Hahaha, aku makin tampak seperti gelandangan. Perutku sekarang semakin kempes, tak lagi buncit seperti beberapa bulan lalu sebelum aku memulai perjalanan ini. Teman seperjalananku pun juga semakin tirus. Wajahnya tampak sadis dengan kacamata yang bertengger di mukanya. Bah, dia tampak seperti seorang hacker atau pembunuh berdarah dingin.

Kami sekarang sedang kebingungan. Kami sedang berada di ujung Sulawesi sekarang. Kami bingung harus menentukan kemana selanjutnya arah perjalanan kami. Akankah kami pergi ke Pulau Sangihe? Atau menyebrang ke Halmahera yang misterius? Atau ke Maluku yang penuh dengan gadis-gadis manis nan eksotis? Atau kami lebih baik banting setir ke pulau Kalimantan? Aku rindu dengan kalian para begundal-begundal. Aku ingin berkirim surat, tapi mana aku ingat alamat kalian? Biarlah, semoga catatan di lembar ini bisa menjadi pembukti bahwa aku masih ingat dengan brengsek-brengsek macam kalian meski aku berada di tanah antah berantah.

Hei, sebelum aku mengakhiri catatan di lembar ini, ingatlah bahwa beberapa orang mungkin ditakdirkan untuk hidup bebas. Seperti Sartre yang berucap “we are condemned to be free”. Ya, kita dikutuk untuk menjadi bebas. Kalau kau tak menjalani kutukan itu, mungkin kau akan menyesal kelak. Ketika kau sudah menua, kau tak punya tenaga, sedang kau tak pernah melihat dunia. Saat itu semua sudah terlambat. Lihatlah dunia selagi bisa.

***

akulah si telaga: berlayarlah di atasnya; 
berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma; 
berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya; 
sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja 
— perahumu biar aku yang menjaganya 

(Sapardi Djoko Damono, Akulah Si Telaga)

Pagi ini aku mendapat surat. Iya, surat darimu, gadis kabut. Sialan, pasti temanku yang memberitahu alamat sementaraku ini? Si bodoh itu tak sadar bahwa kabar dari rumah ataupun wanita itu adalah hal yang paling dihindari oleh para pengembara. Bagaimana tidak, kalau aku sedang berada di tempat yang jauh, lalu kau mengirimi surat. Siapa yang bisa menjamin bahwa rindu tak akan datang? Sial! Aku memaki sepuasnya. Apa kau menganggap dirimu telaga? Sedang aku adalah manusia yang berlayar menyibak riak kecil lantas meninggalkan perahuku di telagamu?

***

And then while i’m away, i’ll write home everyday
And i’ll send all my loving to you

(The Beatles, All My Loving)

Aku hanya bisa mengirimu surat hai gadis kabut. Mungkin benarlah adanya kalau tak perlu melankolia dalam hubungan kita. Kita saling mencintai tanpa seorang pun tahu, dan tak seorangpun yang perlu untuk tahu. Tak perlu lagi kau cucurkan air bodoh dari matamu itu. Tahukah kau bahwa air asin bisa membuat besi berkarat? Apalagi matamu, bisa berkarat dengan mudah dibuatnya. Jadi berhentilah menangis.

Kau tak perlu pula menanti kepastian akankah suara motorku itu adalah aku dengan motor tuaku. Kau tak perlu pula sibuk membawakan makanan ke base camp-ku ketika aku kelaparan karena tak punya uang, hahaha. Kau pun tak perlu membangunkanku untuk sholat subuh dengan marah-marah. Sampaikan pula maafku pada ayahmu sang kabut dan ibumu sang rembulan. Maafkan aku tak bisa membahagiakan anak mereka. Bagaimanapun seharusnya mereka tahu bahwa angin tak pernah bisa berkawin dengan kabut. Begitu pula Matahari yang tak pernah bisa sejajar dengan rembulan dalam tempat dan dimensi waktu yang sama.

Aku bahagia dengan kau yang berani untuk menikah, walau kau dulu pernah bersikeras untuk tak menikah. Itu akibat buku-buku feminisme yang kau baca itu. Entahlah, kadang aku pikir pada jaman sekarang dimana wanita sudah bisa mendapatkan kedudukan yang setara dengan pria, gagasan mengenai feminisme itu sepertinya sudah usang. Waktunya feminisme dimasukkan ke dalam perpustakaan atau museum ideologi saja. Tanpa perlu berkoar-koar sebagai feminis pun seorang wanita bisa menjadi presiden toh?

Hei, kau masih ingat Raja Ampat bukan? Itu adalah tempat yang sedari dulu ingin aku kunjungi. Dan tahukah kau bahwa aku sekarang sedang menginjakkan kaki disini?Lihatlah kemana impian bisa membawa kita! Aku sepertinya akan betah disini. Mungkin aku dan kawan seperjalananku ini memutuskan untuk tinggal disini barang sejenak. Ada sebuah rumah diving yang menawari kami pekerjaan disini. Siapa yang bisa menolak ajakan surga seperti itu?

Jadi aku pikir kau akan memaafkan aku yang tak bisa hadir di pernikahanmu kan? Sebenarnya aku bisa datang, asal kau mau membayari aku tiket pesawat. Tapi menurutmu pasti uang sebesar itu lebih baik kau gunakan untuk membeli ganja bukan? 

Baiklah, dari Mike’s Point, aku menuliskan surat ini. Bersama tabung oksigen yang beratnya minta ampun ini, aku mengucapkan selamat menikah dan selamat berbahagia.

***

Kudengar angin lamat berbisik di dingin Condong Catur
Masih saja ia menyitir Soe, 
: Kita begitu berbeda, kecuali dalam cinta
Lalu ia kembali meringkuk
Menabur cinta pada angin, awan, juga semak belukar

Masih saja cemara mendoyong genit di Raja Ampat 
Seakan setuju bahwa malam tiada bertuan
Kembali kita merenung, memikirkan apa dan siapa
Lalu perlahan kita semua meringkuk
Menagih rindu pada bentang jarak, panas, dan juga lautan

Dan masih saja kutengok bulan di atas Raja Ampat
Yang menebar benih kerinduan pada seribu depa
Lalu kita bersikukuh bahwa segala keras bisa melembut
Tapi acap kita tak mau melembut. Mengeras.
Dan kita kembali memungut cinta pada angin, awan, juga rimbun karang

Kembali aku menyapih rindu
Pada debur ombak, jejer gemintang, dan desau angin yang membelah laut…
***


post-scriptum: 

Dëshirë e Madhe adalah bahasa Albania untuk rindu.
Untuk giveaway di:


cangkruk_community@yahoo.co.id

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

6 KOMENTAR

  1. woooh.. *banyak momen yang hilang ketika gw membaca tulisan ini, (baca: ga ngerti) haha*

    eh nuran, kamu lagi dimana? beneran lagi di sulawesi? *bukti bahwa sastra gw dodol banget, karena gw ga bisa membedakan yang mana nyata dan tidak di tulisan ini oh my x(

TINGGALKAN KOMENTAR