Dibius Oleh Semangkok Bakso dan Orkestra Tengah Malam

299
Apa yang kamu harapkan dari sebuah tempat makan? Rasanya yang enak? Harganya yang murah? Porsinya yang banyak? Suasanya yang nyaman? Atau gabungan dari semua itu?

Dini hari itu (25/8), saya beserta 6 orang teman saya pergi mencari makan ringan sekaligus sahur. Beriringan, kami pergi ke sebuah kios bakso kecil yang terletak di Pasar Tanjung. Di pasar terbesar di seluruh Jember itulah kamu bisa menemukan kombinasi dari rasa yang enak, harga murah, porsi banyak, serta suasana yang nyaman.

Di pasar 24 jam ini pula, kamu bisa mencari berbagai makanan tengah malam. Mau mencari lalapan, pecel, nasi goreng, hingga bakso, semua ada. Pasar Tanjung itu tak pernah tertidur.

6 orang teman kuliner saya dini hari itu adalah Dhani sang kribo yang sekarang botak karena patah hati akut, Mas Widi yang ganteng dan pintar gambar, Mas Lutfi yang kritis dan memiliki style rambut belah tengah 80-an, Didik yang lagi jablay, Arys sang sastrawan Radar Jember, serta satu tamu agung: Ayos Purwoaji, sang kontributor Travelounge dan Rolling Stone Indonesia yang dengan rendah hati mau menemani kami yang culun ini.

Ketika diajak, Ayos bertanya-tanya apa itu Bakso Bius. Selain saya, Arys, dan Didik, tak ada yang pernah ke bakso bius itu.

Disebut bakso bius adalah –ini versi Arys dan Didik — karena setelah makan bakso ini, mereka bakalan bisa tidur cepat. Ini semacam obat tidur bagi para mahluk nocturnal seperti mereka.

Saya sendiri lebih suka menyebutnya sebagai bakso setan. Itu semata karena jam operasional bakso ini sama seperti jam operasional para setan yang mencari korban. Teman saya yang lain menyebut dengan bakso bencong. Karena bakso ini buka di jam bencongan mulai beroperasi, dan tutup di jam bencong mencegat becak untuk pulang. Ada-ada saja…

Akhirnya meluncurlah kami bertujuh ke warung Bakso Bius itu. Saya membonceng Ayos, Mas Widi membonceng Dhani yang berukuran besar, lalu Mas Lutfi membonceng 2 begundal Arys dan Didik.

Kami memesan 7 mangkok bakso. Satu porsi Bakso Bius ini terdiri dari 3 gorengan, 2 tahu, dan 2 bakso kecil. Lalu ada pelengkap standar seperti su’un dan bawang goreng serta sejumput garam untuk menambah kaya rasa.

Lalu kenapa saya bilang bahwa Bakso Bius ini seperti gabungan dari berbagai macam kriteria yang dicari orang dalam memilih tempat makan?

Berbicara rasa, saya hanya memberikan 2,5 dari 5 bintang. Sebagai orang yang pernah mencicipi berbagai jenis bakso, saya menganggap rasa bakso ini tak begitu spesial. Tahunya pun hanya tahu biasa yang berisikan tepung kanji yang kenyal. Lalu baksonya juga bukan bakso sarat daging atau urat, melainkan bakso yang lebih banyak komposisi tepungnya ketimbang daging. Tapi gorengannya yang enak, saya berani memberikan bintang 3 dari 5 bintang lah. Kuahnya yang sedap juga pas kalau dikombinasikan dengan saos merah menyala dan sambal yang banyak.

Lalu untuk harga, saya malah memberikan bintang 4 dari 5 bintang. Seporsi bakso bius ini hanya Rp. 3000 saja 🙂 Dengan harga semurah itu, saya bisa makan kenyang.

Berbicara porsi, porsi dari bakso bius ini cukup banyak. Apalagi masih ditambah kuah yang melimpah, jadi bisa menambah kenyang. Saya saja setelah makan bakso ini jadi malas untuk sahur. Sudah kenyang dihantam satu porsi bakso bius.

Nah, yang paling jagoan dari kedai bakso bius ini adalah suasananya. Saya pergi ke kedai ini sekitar jam 2 pagi. Pada jam segitu, pasar Tanjung yang buka 24 jam sudah kembali riuh rendah oleh tingkah polah para pedagang.

Di bangku tempat saya makan, berjejeran para penjual sayur, penjual lauk pauk, hingga para kuli angkut yang sedang nongkrong. Lalu di depan saya ada lapak penjual VCD bajakan yang dengan setia menyetel komposisi India. Suasana makan di kedai bakso bius itu sungguh sangat hidup.

Saya mengibaratkan suasana ini seperti makan dengan diiringi midnight orchestra. Ada celoteh berbahasa Madura, ada tawar menawar yang sengit, ada obrolan ringan dari para tukang becak, juga ada bunyi-bunyian eksotis dari speaker butut di lapak VCD bajakan.

Itu suasana yang nyaman menurut saya 🙂 Lalu makan rame-rame bersama teman, uhhh, itu sungguh kenyamanan yang tidak ternilai harganya 🙂

Kalaupun disuruh memberikan penilaian, untuk rasa, saya hanya bisa memberikan 2,5 bintang. Tak usah banyak-banyak. Karena memang rasanya biasa saja.

Tapi untuk faktor lain –seperti harga, porsi, dan suasana– saya memberikan 3, 5 bintang deh. Eits, tapi ini penilaian subjektif lho. Nyaman menurut saya belum tentu nyaman menurut kamu. Jadi sebaiknya kamu harus mencicipi sendiri bakso bius ini, dan rasakan sendiri ambience yang menyelingkupi kamu 🙂

N.B: Entah sugesti atau bukan, beberapa menit setelah makan bakso bius ini, Didik dan Arys sudah lelap tertidur. Padahal pertandingan Sampdoria VS Werder Bremen lagi seru-serunya. Mungkin ada pendapat ilmiah mengenai hal ini. Mengkonsumsi makanan atau minuman hangat di malam hari bisa membuat kita merasa nyaman, dan lantas mengantuk.

Oh ya, Ayos langsung sakit perut setelah makan bakso ini. Saya disuruh ngebut untuk mengantarkan dia ke toilet di masjid dekat kampus saya. Ayos ini perutnya memang perut eksklusif sih. Dulu pertama saya ajak makan Nasi Tempong, nasibnya juga berakhir dengan sumpah serapah di toilet.

Jember, 25 Agustus 2010
Sepertinya saya memang tak mempan dibius
Walaupun oleh bakso bertajuk bakso bius
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

  1. hehehe tapi memang saya belum bisa menemukan komposisi ampuh untuk membuat perut nuran menjadi mules. dua kali saya di-knock out. lain kali saya harus balas dendam.

    darah itu merrrah kawan.

TINGGALKAN KOMENTAR