Hair Metal How Are You Today?

476
Sebagai seorang bocah yang tumbuh besar dengan musik hair metal, tak salah kalau saya punya ambisi untuk jadi rock star dengan rambut gondrong nan mekar. Lalu bersenang-senang dengan cara yang menyebalkan, seperti melempar tv dari kamar hotel, merusak kamar hotel, mabuk-mabukan sampai tidak tahu sedang berada dimana, hingga nyoba narkoba sampai mati suri, dan hidup setelah jantung diberi suntikan insulin seperti Niki Sixx.

Tapi ternyata saya tak jodoh untuk jadi rocker. Jangankan melempar tv dari kamar hotel, nyolong mangga tetangga saja saya masih ketakutan. Jangankan merusak kamar hotel, merusak kamar sendiri saja sudah takut bakalan dimarahi oleh mamak saya. Jangankan mabuk-mabukan sampai hilang akal, minum coca cola aja saya mencret. Jangankan narkoba, ngerokok saja saya gak pernah. Intinya, saya tak berbakat jadi rocker ala hair metal dengan segala perilaku tengilnya.

Saya sepertinya lebih bisa untuk nulis soal musik, meski tulisannya juga masih cupu. Belakangan ini, saya rajin mendengarkan Sangkakala dan Gribs, dua band hair metal yang saya pikir cukup keren. Ketika mendengarkan mereka, saya jadi percaya bahwa hair metal itu tak pernah mati. Saya juga menyimpulkan bahwa musik hair metal itu bukan hanya konsumsi para om-om berumur 30-an yang besar di era 80-an. Para rocker di Sangkakala dan Gribs umurnya tak jauh dari saya. Di setiap gigs mereka, juga ada beberapa fans belia yang mengacungkan devil horn ke udara. Jadi saya pikir, memang benar, hair metal itu tak pernah mati. Grunge tak pernah benar-benar membunuh hair metal 😀


Gara-gara kebanyakan mikir hair metal, lantas saya jadi punya obsesi baru sekarang. Ya, baru sekedar obsesi sih. Saya ingin menulis tentang hair metal di Indonesia, terutama hair metal yang dimainkan oleh anak-anak muda –yang notabene tidak lahir dan besar di era hair metal. Sepertinya menarik. Rolling Stone juga pernah membahas mengenai festival hair metal di Amerika sana. Di festival itu, para pahlawan hair metal berkumpul untuk manggung, gila-gilaan, dan sekedar mengenang masa jaya mereka. Pahlawan-pahlawan macam Dokken, Steelheart, Faster Pussycat, Skid Row, Motley Crue, Bang Tango, hingga Steven Adler muncul dan mengenang masa dimana mereka masih mengagungkan semboyan sex, drugs, and rock n roll.

Sekarang saya sedang menabung pundi rupiah. Saya ingin melakukan ziarah suci hair metal, mengunjungi Yogya untuk bertemu Sangkakala, ke Jakarta untuk bertemu Gribs, dan entah kemana lagi untuk mencari band-band yang memainkan hair metal. Doakan saya ya…

Lumajang, 17 Agustus 2010
Sembari mengajari adik saya apa itu hair metal
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.