Putumayo Presents: Asian Lounge 2005, Sebuah Sajian Cross-Cultural Fusion Yang Menghanyutkan

175

Siang hari di bulan Ramadhan pasti berat bagi banyak orang. Apalagi yang biasa menghabiskan siang untuk cangkrukan sambil minum kopi. Ya seperti saya ini contohnya 🙂

Untuk menghindari lemah, lesu, dan lemas di siang hari yang panas, saya biasanya menghabiskan waktu dengan membaca buku sambil mendinginkan badan dengan kipas angin yang menyala.

Nah, pasangan yang pas untuk suasana me-time seperti itu adalah tentu saja musik. Tapi masalahnya, musik apa yang cocok didengarkan sambil bersantai dan membaca buku? Jelas saya tidak menyarankan anda mendengarkan lagu Armada. Mendengarkan Armada di siang hari yang panas dan anda sedang berpuasa, rawan membuat anda pergi ke jalan dan menembaki orang-orang secara acak dengan machine gun.

Jadi saya sarankan kalian untuk mendengarkan rilisan keenam dari seri Lounge Putumayo. Bagi siapa yang tidak tahu Putumayo, silahkan cari di google, karena saya tidak akan membahasnya disini.

Saya akan membahas album berjudul Asian Lounge 2005, sebuah album yang berisi koleksi musik-musik fusion lintas kultural yang diinspirasi oleh musik-musik tradisional Asia. Terimakasih untuk bang Martino Midi dengan segala koleksi musiknya yang bikin saya geleng-geleng kepala 😀

Track pertama di album ini adalah sebuah lagu Jepang berjudul “Fukaki Umi No Kanata” yang secara harfiah berarti Beyond the Deep Sea. Lagu ini dibawakan oleh Yoshida Brothers. Lagu ini sungguh sangat pas didengarkan di siang hari yang panas. Mendengar lagu ini seperti akan membawa kita berjalan-jalan ke pedalaman Jepang yang hijau, penuh pohon bambu, kicauan burung, dan samurai yang sedang bersemedi di seberang air terjun.

Lagu ini didominasi oleh permainan Tsugaru-Shamisen, sebuah instrumen musik tradisional Jepang yang berasal dari abad ke 16. Instrumen purba ini lantas dikombinasikan dengan instrumen modern macam drum, bass, dan juga permainan synth yang cantik. Mampus!

Lalu musisi bernama Nitin Sawhney membawakan sebuah komposisi India yang sendu berjudul “Koyal” alias Songbird. Track yang dibuka dengan suara kicauan burung ini lantas beranjak sendu dengan penggabungan instrumen musik India klasik (saya sih gak tau apa namanya) dengan instrumen modern seperti bass dan drum. Suara si Nitin ini, masyaallah, syahdu benar. Kita seakan sedang berdiri di tepian sungai Gangga, menyaksikan senja yang merah, dan disebelah kita para pendeta Hindu sedang merapal doa. Magis!

Lantas, yang kental dengan nuansa Bali, ada Blue Asia yang berduet dengan Yoichi Ikeda (mbuh iki sopo, gak kenal). Mereka membawakan sebuah track berjudul Campuhan. Campuhan ini berasal dari kata Bali yang berarti pertemuan dua sungai. Ingat lagunya Slank berjudul Tepi Campuhan? 🙂

Track menenangkan ini dibuka dengan suara gemericik sungai yang menentramkan. Seakan membawa saya ke pinggir Ubud, berdiri di tengah hamparan hijau sawah dan sungai yang mengalir pelan. Track ini semakin membius dengan nyanyian dengan bahasa Bali yang saya tak tahu artinya apa. “Itu saha itu saha” (kok jadi kaya bahasa Sunda ya?). Lalu suara seruling yang berpadu dengan gamelan, alamakjang! Bikin kita menyandarkan badan di kasur dengan nikmat. Sungguh bisa membuat kita rileks…

Lalu Bali Lounge membawakan sebuah komposisi berjudul Angels of The Islands. Suara Tompi tetap saja khas, dan selalu menyenangkan untuk didengar.

Track paling panjang di album dengan cover berwarna merah menyala ini (11 menit 34 detik) adalah lagu berjudul “Water Down the Ganges” yang dibawakan oleh artis dari Jerman, Prem Joshua dan Manish Vyas. Saya mungkin tak paham-paham amat musik lounge dan chill-out seperti ini, tapi mendengarkan track ini, saya serasa tidur diatas sampan kecil yang berlayar di sungai di tepian kota Varanasi. Lantas pulangnya bercanda dengan anak-anak berkulit coklat sembari menanti senja. Lalu coba dengar di bagian akhir lagu. Permainan saxophone-nya, seperti bisa membawa kita menuju orgasme tingkat dewa (jancuk, bahasane gak keren blas!)

Saya sepertinya memang tak ahli untuk menggambarkan perasaan ketika mendengar musik kalem seperti ini. Rasanya seperti tenang, magis, dan sendu, semua tercampur menjadi satu. Lantas menghasilkan perasaan yang bernama chill out.

Oh ya, sepertinya musik ini enak untuk dipakai pengiring bercinta. Tadi siang seorang kakak tingkat yang sudah beristri dan beranak dua, bilang kalau musik seperti ini sepertinya enak dipakai untuk bercinta.

Matikan lampu kamar, nyalakan lilin, siapkan madu….. Husss!!! Sudah, tak boleh mikir jorok!

Jember 13 Agustus 2010
Setelah berbuka puasa, jadi sepertinya berpikir sedikit nakal tak apa lah 🙂

Oh ya, yang mau lagu ini, silahkan komen saja, kasih alamat email anda, nanti saya beri link-nya, dan silahkan download sendiri 🙂

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR