September Ceria

203
Tanpa terasa, bulan September sudah datang, beriringan dengan hujan yang seakan tak tahu bahwa ia membawa melankolia. Apa yang akan anda lakukan di bulan September? Apa yang ada di agenda bulan September? Kegiatan apa yang sepertinya akan menyita banyak waktu anda?

Saya sih sepertinya harus memulai skripsi yang tersendat cukup lama karena alasan klasik: malas. Kalau memang saya mengejar lulus bulan November, maka saya harus mulai menyelesaikan skripsi itu. Bab 1 dan bab 4 sih sudah selesai dari beberapa semester lalu, saya hanya tinggal berkeras hati untuk menyelesaikan sisanya. Doakan saya!

Lalu album musik apa yang sekiranya akan menjadi yang terbaik tahun 2010? Akhir tahun memang masih cukup lama, tapi saya sudah mengira-ngira beberapa calon album terbaik tahun ini. Salah satunya adalah Ode Buat Kota dari band veteran Bangkutaman. Meskipun saya kurang menggemari musik britpop, tapi Ode Buat Kota ini bukan sekedar album musik yang terpengaruh brit. Musik di album ini begitu kaya –mengutip istilah yang diberikan mas Philips. Setelah mendengar Ode, saya resmi menisbatkan diri sebagai fans baru Bangkutaman. Anyway, Acum, syal yang kamu pakai itu beli di Lombok ya? Saya juga punya syal yang sama, hehehe.

Selain itu saya juga dengan sabar menanti LP dari band pop Surabaya, Greats. Kabarnya album ini akan selesai di akhir tahun. Lalu ada juga EP dari Silampukau, duo folk yang juga berasal dari Surabaya. Kalau dua album itu berhasil diluncurkan tahun ini, saya kira itu adalah gong bahwa musik Surabaya berhasil kembali menggeliat setelah era Vox berlalu. Kita tunggu saja 

Saya juga masih tetap menyimpan sebuah mimpi lama. Sampai sekarang saya menabung rupiah demi rupiah buat bisa mengelilingi Sulawesi dengan motor CB. Salahkan Ernesto Guevara dan Alberto Granado yang membuat saya terobsesi melakukan perjalan dengan menggunakan motor :p Tapi saldo saya rupanya masih saja seperti kura-kura yang jalannya lambat. Jadi pembelian motor CB dan budget buat meransel itu harus diusahakan pelan-pelan.

Ngomong-ngomong, anda setuju kalau kita perang dengan Malaysia? Kapan hari saya membaca status facebook milik seorang teman. Ia berkata “Lebih baik mati ketika perang dengan Malaysia,ketimbang jadi mahasiswa angkatan luama.” Saya tahu konteks status itu hanyalah becandaan, dan saya tidak ngeri dengan itu, malah tertawa kecil.

Tapi saya ngeri melihat orang-orang yang demo meminta pemerintah agar kita berperang dengan Malaysia. Mana mereka pakai kata-kata nasionalis(me) segala buat melambangkan sikap mereka yang agresif (atau barbar?). Saya ngeri karena nasionalisme dijadikan alasan buat melakukan hal yang teramat bodoh (atau idiot?). Meskipun perang adalah salah satu bentuk diplomasi, saya tak pernah setuju dengan perang. Tegas sih wajib, tapi perang itu adalah opsi terakhir. Dan buat saya, perang melawan Malaysia bukanlah suatu tolak ukur untuk nasionalisme. Daripada perang untuk menunjukkan nasionalisme (atau barbarisme?), lebih baik kita jalan-jalan keliling Indonesia, lalu mengabarkan pada dunia bahwa Indonesia lebih indah daripada Malaysia. Itu adalah bentuk nasionalisme yang lebih baik

Beberapa hari lalu, saya pergi ke Jogja. Di kota itu saya berkenalan dengan seorang teman baru. Ternyata, teman perempuan baru saya itu suka jalan-jalan. Ia baru saja pulang ke Indonesia setelah menjadi “TKW” di Belanda selama 1 tahun. Selama rentang waktu itu ia sempat berkeliling ke beberapa negara. Mulai dari menyaksikan eksotisnya Polandia, keindahan Ceko, hingga magisnya rumah Franz Kafka. Setelah saya rayu, ia setuju untuk me-repost tulisannya buat blog ini. Tentu saja hal ini adalah suatu kehormatan. Mari tunggu saja cerita dari perempuan penggemar Janis Joplin ini.

Akhir pekan nanti (5/9), saya dan beberapa orang teman punya gawe besar. Kami akan mengadakan buka puasa bersama teman-teman SMA seangkatan. Awalnya, buka bersama ini hanya untuk teman-teman dekat saja. Namun ide kecil ini berkembang jadi ide yang lebih besar. Ada banyak teman yang usul agar kami mengadakan buka bersama sekaligus reuni. Kebetulan, sudah 5 tahun berlalu semenjak kami lulus SMA. Kami kangen juga dengan teman-teman lain. Akhirnya diputuskan bahwa buka bersama ini sekalian ajang reuni 5 tahun para murid SMA 1 Arjasa angkatan 2005. Jadi tidak sabar menunggu tanggal 5 September 

Berbicara mengenai pekerjaan, saya masih punya utang pada Ayos Purwoaji, sang bos hifatlobrain yang termahsyur itu. Saya rupa-rupanya punya hutang 3 tulisan pada pria penuh lemak itu. Yang pertama adalah tulisan tentang kopi luwak. Saya masih belum selesai merevisi tulisan saya yang busuknya minta ampun itu. Ayos berkali-kali menagih, dan berkali-kali pula saya lupa. Lalu tulisan kedua, saya diminta untuk menulis tentang ecotourism buat hifatlobrain yang penuh lemak tak jenuh itu. Tapi saya masih belum mulai menulisnya. Ide pun tak ada. Lalu tulisan ketiga adalah tulisan mengenai mall untuk proyek e-book terbarunya. Beberapa orang yang ikut proyek ini sudah mengumpulkan tulisannya sejak beberapa waktu lalu. Hanya saya (dan Putri?) yang belum menyelesaikannya. Sepertinya besok saya harus mulai rajin ke mall untuk observasi, sekalian adu otot dengan ibu-ibu yang kalap belanja menjelang lebaran.

Oh ya, ngomong-ngomong tentang lebaran, apa anda sudah bersiap untuk mudik? Anda mudik kemana tahun ini? Apa moda transportasi favorit anda? Lagu apa yang menurut anda enak untuk didengarkan dalam perjalanan? Apa buku yang enak menjadi teman mudik?

Berbicara tentang mudik atau pulang, Jakartabeat.net akan menampilkan tulisan-tulisan dari para kontributor mengenai segala hal tentang bulan ramadan, lebaran, mudik, atau pulang. Hal itu bisa berupa 5 lagu yang mengingatkan kampung halaman, atau 5 lagu yang mengingatkan rumah, bisa juga 5 buku yang enak dibaca ketika mudik, atau bahkan 5 lagu rohani terbaik. Silahkan pantau saja situs www.jakartabeat.net untuk mengetahui segala pernak-pernik baru mengenai lebaran.

Lebaran sekarang tidak lagi melulu soal pakaian baru 

Selain tulisan pembuka ini, bulan September akan saya tandai dengan tulisan pendek mengenai perjalanan saya ke Yogya beberapa hari lalu. Untuk kali ini, saya terpaksa memotong tulisan jadi beberapa bagian. Karena kemarin beberapa bagian dari tulisan ini hilang karena virus, dan saya sedang tidak mood untuk menuliskannya kembali. Jadi bagian yang tidak terhapus akan saya upload dulu, baru nanti saya akan mengunggah bagian kedua, alias bagian yang kehapus itu. Sebelumnya semoga saya masih mood untuk menuliskan kembali bagian yang hilang itu, hehehe.

Akhirul kalam, mari kita sambut bulan September dengan ceria. Jangan lupa selalu bersyukur bahwa kita masih hidup. Jangan lupa bersenang-senang untuk merayakan hidup, karena hidup adalah perayaan. Dan jangan lupa bersyukur karena kita masih bisa hidup dan bersenang-senang…

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

5 KOMENTAR

  1. iye, labelnya emang cocok kalo ngomel Mas. haha
    anyway, kenapa harus CB?pake kebonya Mas Ayos sampe ke flores kemaren kurang memuaskan?atau mau asik-asikan a la The Motorcycles Diaries?

    aku setuju kalo perang, kapan lagi bisa daftar jadi relawan foto perang. asik to.hehe

  2. @dhani: tak coblos gembos koen…

    @giri: yap, terinspirasi oleh the motorcycle diaries banget 😀 wis moco buku iku gurung? huhuhu, ojo perang laaah, mending perang di ranjang wae, hahaha

  3. eh sam, pye neg awkmu kapan2 nyritakno hegas’wana………..
    ato kota jember ngunu…….

    n yang psti kulo jaug tulung……..
    bkin tulisan tentang reggae….
    oyi….
    hahahhhaha…
    andika marley (kremi)

TINGGALKAN KOMENTAR