Raja Hutan Bernama Sandy Macan

1352
Kalau anda adalah anak umur 3 tahun, apa yang biasa anda lakukan? Palingan tak jauh dari bermain sepeda roda 4, makan permen, atau sesekali menangis ketika tidak dibelikan mainan. Lalu kenakalannya mungkin tak lebih dari memanjat pohon atau bermain ketika waktu tidur siang datang.
Dulu saya bukan balita yang pendiam. Mamak saya dulu sering cerita kalau sewaktu usia 3-4 tahun, saya dan kakak saya yang beda 1 tahun, setiap pagi selalu nangkring di depan rumah. Buat apa? Menggoda cewek kembar yang waktu itu sudah duduk di bangku SD. Kami selalu mencegat mereka dan kadang-kadang menarik rok merah mereka.

“Bu Akbar, ini lho Nuran sama Kiki” mereka selalu berteriak ketika saya dan kakak saya muncul di tengah jalan dengan coreng moreng bedak bayi. Baru ibu saya keluar dan menjadi malaikat penolong bagi gadis kembar bernama Dina Dini itu.

Dulu saya pikir saya adalah bocah ternakal di seluruh dunia. Setidaknya di seluruh Indonesia.

Sampai saya bertemu dengan pahlawan saya.

Yang membuat saya harus bertemu dengannya. Memeluknya . Membakarkan dupa, atau menyajikan sesajen. Karena bocah ini adalah bocah pahlawan bagi seluruh anak-anak yang memimpikan jadi preman suatu saat nanti (emang ada ya anak-anak yang ingin jadi preman?).

Sambutlah, SANDY MACAN! Atau kadang dia menyebut dirinya sebagai Sandy Wedhus (wedhus itu bahasa jawa untuk kambing.Hey Raditya Dika, get off, panggilan kambing lebih cocok buat Sandy).

Bocah ini melakukan semua kenakalan yang seharusnya hanya pantas dilakukan oleh orang dewasa. Mulai merokok, misuh, sampe memperagakan orang bersetubuh.




Gila!

Saya dapat video pertama Sandy dari Cempreng, adik angkatan saya semasa SMA dulu. Ketika dikasih link video ini, saya hampir mati tertawa di bilik warnet yang sepi. Saya cekikikan, seraya harus menahan tawa yang berakibat perut saya kram. Serius.

Di video yang sepertinya diambil di sebuah gudang ini, Sang raja macan ini menunjukkan kalau dia sebenarnya adalah bocah yang cerdas. Dia begitu paham cara berkomunikasi ala orang dewasa. Bagaimana cara merokok yang benar , memperagakan gerakan bercinta ala dewa, hingga bagaimana membuat kepulan bulat dari asap rokok. Sadis!

Video ini berdurasi 3 menit 28 detik, durasi yang cukup lama bagi Sandy untuk menggila. Opening scene-nya pun shocking. Seseorang menanyainya.

“Sandy lek gede dadi opo? (Sandy kalau besar jadi apa?)

“Maling”

“Dueke digawe opo? (Duitnya dibuat apa?)”

“Mbalon (Melacur)”

“Nangdi (Dimana?)”

“Ndek dolly (di Dolly)”

Di video legendaris ini pula, Sandy mengeluarkan banyak petuah yang akan selalu dikenang oleh para pengikutnya.

“Sik, tak entekno rokoke, tak enak-enakno (Tunggu, aku habiskan dulu rokoknya, aku enak-enakin)” ujarnya seraya duduk dengan satu kaki ditekuk dan menghembuskan asap rokok. Kalimat ini yang sekarang selalu digunakan teman-teman saya untuk menggambarkan bersantai. Lalu ada lagi.

“Sandy balita?”

“Bejat”

“Jangan di?”

“Tilu. Lambene lusak (mulutnya rusak)” jawabnya. Dia bahkan belum bisa melafalkan huruf R dengan benar. Tiru jadinya tiru.

Ada juga adegan dia yang menirukan macan. Sembari bergaya dengan mimik muka yang lucu, dia berkata “Aku yo, macan yo, medeni yo, eaaaaaaaa.”

Tapi yang paling memorable adalah ketika dia bercerita kalau temannya yang bernama Keceng kenthu (bahasa jawa slang untuk bersetubuh) di pos.

“Keceng kenthu ndek pos maeng . (Keceng tadi bersetubuh di pos). Ambek aku tak seneni. Ojo kenthu ndek pos, timbang tak bedhil koen! (Aku marahin. Jangan bersetubuh di pos, daripada nanti kamu saya tembak!). Lek nyeluk aku, ampun boss, ampun boss (Kalau manggil aku, ampun boss). Ampun matamu iku a! Tak ngonokno ambek aku (ampun matamu itu! Aku gituin!)” katanya bersemangat.

Yang bikin saya ketawa ngakak adalah, Sandy mengucapkan semua dialognya dengan intonasi dan gestur tubuh yang meyakinkan saya kalau dia adalah orang dewasa yang terperangkap dalam tubuh anak-anak.

Scene akhir video ini adalah ketika Sandy mengeluarkan asap rokok berbentuk bundar sempurna dari bibirnya. Saya sering meledek teman-teman saya yang tidak bisa melakukan itu.

“Mending berhenti ngerokok aja, bikin bunder aja gak bisa. Malu sama Sandy!” Mampus, hahaha 😀

Segera saja, video itu menyebar. Tak butuh waktu lama bagi Sandy untuk jadi selebritis dadakan. Hampir semua media besar mewawancarai bocah perokok ini. Beberapa orang bahkan ikut mendompleng “ketenaran” bocah ajaib ini. Ada beberapa keluarga yang bercerita pada awak berita kalau anaknya merokok.

Saya ingat, ada satu keluarga dari Sumatera yang mempunyai anak balita perokok. Ketika diwawancarai, ibunya menggunakan bedak tebal dan gincu yang berwarna merah darah. Tampaknya dia sudah bersiap untuk diwawancarai. Suck!

Dampak dari popularitas mendadak ini ternyata melanda Sandy. Pemerintah akhirnya “perduli” akan balita rock n roll ini. Sang raja wedhus ini akhirnya dipertemukan dengan psikolog anak yang tersohor itu. Berujung pada Sandy yang berucap “Jancuk koen! Cuih” sembari meludahi sang psikolog anak itu, hahaha. You are so fucking rock kid!

Akhirnya sang maharaja preman kota Malang itu dimasukkan ke dalam panti rehabilitasi. Sandy dikurung di dalam sebuah kamar. Hebatnya, bocah dengan pipi tembem ini berusaha kabur dengan meloncat keluar lewat jendela. Luar biasa! James Bond cilik! Sayang dia tertangkap, dan pelariannya gagal.

Saya sendiri rada sedikit miris melihat sang idola saya dikurung. Hey, dia hanya bocah! Seharusnya yang direhabilitasi adalah para orang dewasa yang mengajarinya banyak perbuatan gila itu. Sandy hanyalah balita yang sedang dalam fase imitasi, yang cenderung menirukan apa yang diucapkan oleh orang lain. Dan keputusan untuk memperlakukan Sandy seperti penyakitan adalah keputusan yang salah. Besar. Keputusan untuk merelokasi tempat tinggal Sandy itu sepertinya lebih tepat. Mempertemukannya dengan lingkungan baru yang lebih baik akan menjadikan Sandy tumbuh berkembang dengan baik. Sayang relokasi itu terbentur biaya. Ayahnya hanyalah seorang kuli (ada yang ngomong tukang parkir) dan ibunya adalah seorang buruh cuci. Kapan-kapan saya akan ngomong ke Mamak untuk mengadopsi bocah ini.

Tapi sepertinya terapi itu berhasil. Sandy sang preman Malang itu berhasil “dijadikan” sebagai anak kebanyakan. Meskipun beberapa kali celetukan nakal dan cerdasnya keluar. Saya sendiri tak banyak mengikuti berita junjungan saya itu.

Tak dinyana, Angga Nyen, teman saya yang pantas untuk jadi kakak kandung dari Sandy Macan ini mendapat kiriman video Sandy lagi. Saat itu sepertinya Sandy masih belum masuk panti rehabilitasi. Video ini masih jarang dipunyai orang. Akhirnya Nyen mengunggah video ini ke Youtube dan sampai saat ini udah dilihat hampir 8 ribu kali.

Uniknya, di video kedua ini, Sandy mengenakan baju yang sama dengan baju yang dipakainya di video pertama. Sepertinya baju itu adalah baju setan, seperti topeng hijau di film The Mask.

Video kedua ini berdurasi lebih panjang. 7 menit lebih. Di video yang diambil di daerah Pulosari ini, Sandy benar-benar membuktikan kalau dirinya adalah jagoan misuh. Perkawanannya dengan orang dewasa membuat dia menjadi dewasa sebelum berkembang. Banyak sekali stok omongan kasar dan jorok di video ini. Yang saya sayangkan adalah, Sandy tak lagi tampak lucu di mata saya. Ia menjadi sedikit mengerikan. Dengan pipi yang menjadi tirus ketimbang pertama kali saya melihatnya, ia sudah bukan lagi bocah chubby yang lucu.

Tapi dandanan dan cara ngomongnya masih membuat saya tertawa. Cara dia memakai topi terbalik, menyanyikan mars Arema, caranya misuh, hingga caranya melabrak orang yang melihatnya, sungguh membuat saya tertawa, meski tak sekeras tawa saya dulu.

Ibarat makanan, Sandy adalah caviar yang langka, mahal, dan nikmat. Tapi kalau dimakan terlalu sering akan membuat bosan. Tetap nikmat, tapi sensasinya tak seperti ketika dulu pertama kali mencoba.

Karena Sandy pula, saya jadi ingin pergi ke Malang, menemuinya, lalu berfoto bareng. Iya, saya memang mengidolakan bocah ini.

Untuk melihat video Sang Raja Hutan yang pertama, klik disini.

Untuk melihat video kedua Sang Inspirator Gang Macan ini, klik disini.

*Untuk Fakhri, iki utangku Jak. Ayo saiki giliranmu! Lek wani, lebokno Jakartabeat atau Rolling Stone, ben kowe dipecat, hahaha*

Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR