Bratwurst ala Goethe Institute Jakarta

387
Suka makan sosis? Kalau anda maniak sosis, pasti pernah denger yang namanya Bratwurst? Brat –begitu saya memanggilnya– adalah sosis khas Jerman yang biasanya terbuat dari daging sapi, atau bahkan babi. Konon katanya, cara masak brat di Jerman sono adalah dengan dipanggang, atau digoreng dengan bir.
Syahdan, daerah asal Bratwurst adalah Franconia. Beberapa dokumen kuno mengatakan bahwa makanan ini pertama kali dibuat pada tahun 1313. Bahkan hingga sekarang, di kota tersebut masih ada pembuat sosis tradisional Jerman ini.
Sama seperti Indonesia yang memiliki berbagai variasi masakan antar daerah –contoh: soto Banjar, soto Madura, Soto Betawi, dll–, Brat juga bisa berbeda di tiap daerah. Di daerah Franconia –daerah asal brat– misalnya, brat biasa disajikan dengan brotchen, alias roti yang terbuat dari tepung gandum, dan dimakan bersama mustard pedas. Di daerah lain, brat disajikan dengan cara yang berbeda. Baik dari cara penyajiannya, hingga menu pelengkap brat.
Franconia sendiri memiliki berbagai variasi bratwurst, antara lain Frankische Bratwurst. Brat ala Frankische ini panjangnya antara 10 hingga 20 cm. Biasa disajikan dengan salad kentang, tapi tanpa mustard.
Lalu ada Coburger Bratwurst. Syahdan, daerah asal brat ini ada di kota Coburg, Franconia. Panjang minimalnya adalah 25 cm. Apa punya kalian sepanjang itu? Hoo, segitu mah standar punya orang Eropa, hihihi.
Nurnberger Rostbratwurst adalah brat dari kota Nuremberg, kota terbesar di Franconia. Yang mengejutkan, panjangnya hanya berkisar antar 7 hingga 9 cm, bandingkan dengan Coburger. Tapi konon, brat jenis ini adalah brat yang paling populer di Jerman.
Selain variasi yang sudah saya sebutkan tadi, masih ada berbagai variasi lain, seperti Thuringer Rostbratwurst, brat pedas yang asalnya dari Thuringia. Lalu ada Rote Wurst, brat dari daerah Swabian. Dan sepertinya masih banyak lagi variasi lainnya.
Beberapa waktu lalu, saya pergi ke Jakarta untuk menghadiri sebuah acara di Goethe Institute. Pada saat saya menghadiri acara itu, hujan turun dengan deras. Kombinasi antara hujan dan kedinginan menghasilkan satu reaksi: lapar.
Pergilah saya ke kantin. Ternyata, selain menyajikan makanan Indonesia, kantin di Goethe juga menyajikan makanan ala Jerman. Yap, saya melihat tumpukan bratwurst yang panjang, besar, menggoda, dan pastinya nikmat –deskripsi saya ini tidak mesum kan?
Brat ala Goethe Institute ini panjangnya sekitar 10 hingga 15 cm, dengan irisan-irisan merekah yang membuat bentuknya tampak elok. Aroma dagingnya tercium kuat. Sepertinya enak. Tapi sayang seribu sayang, harganya mahal. Satu buah brat dihargai 15 ribu rupiah. Sebenarnya tidak mahal-mahal amat. Tapi ketika ada lauk sambal goreng tempe yang harganya cuma 3 ribu rupiah, maka ketimpangan harganya akan terlihat jelas, hehehe.
Mungkin lain kali saya akan memakanmu brat.
Suatu saat nanti…
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR