Mereka Akan Menghijaukan Bali

307
Kereta Sri Tanjung yang reot serupa besi berkarat itu mengerem perlahan. Cessssss, bunyi rem mendesis. Kereta tua ini berhenti di Stasiun Gubeng, pemberhentian kereta terbesar di Surabaya.
Hari itu tanggal 18 Februari siang di hari yang mendung. Saya dan sobat saya, Putri, baru saja menyaksikan festival Grebeg Maulud di Jogja. Hari itu, Putri yang biasa naik kereta eksekutif, mau saya ajak naik kereta ekonomi. Puji tuhan, hihihi. Surabaya adalah tujuan pulang Putri.
Selepas Putri turun, beberapa menit kemudian terdengar suara teriakan. Berkali-kali.
“Mari hijaukan Bali! Mari hijaukan Bali!”
Saya menengok keluar. Puluhan orang lain juga melakukan hal yang sama. Ternyata gerombolan Bonek.
Bonek adalah akronim dari Bondho Nekat, suatu istilah yang diciptakan oleh Dahlan Iskan, taipan media pemilik Jawa Pos. Konon singkatan itu diciptakan pada tahun 1989. Saat itu Persebaya ngeluruk menuju Jakarta untuk melawan Persija.
Julukan Bonek memang sedikit banyak pantas untuk disematkan pada suporter Persebaya. Sebagian besar dari mereka hanya bermodal kenekatan saja ketika pergi ke luar kota untuk mendukung tim kecintaan mereka.
“Aku hanya bawa uang 20.000 mas” kata Halim, salah seorang bonek yang duduk di sebelah saya. Hari itu, dia dan ratusan orang lainnya naik kereta Sri Tanjung untuk pergi ke Banyuwangi. Dari Banyuwangi, mereka akan menyebrang ke Bali untuk mendukung tim Persebaya 1927 melawan Bali Devadata (21/2 ).
Apa 20.ooo cukup untuk bertahan hidup selama paling tidak 5 hari? Di kota kecil seperti Jember saja, sangat sulit untuk bertahan hidup selama 5 hari dengan nominal rupiah sekecil itu. Apalagi di daerah metropolitan seperti Bali. Tapi toh Halim dan kawan-kawannya yakin bahwa uang itu cukup untuk bertahan hidup.
Sekedar pemberitahuan bagi yang tak paham sepak bola. Saat ini Persebaya memiliki dua tim. Yang satu berlaga di Divisi Utama Liga Super Indonesia dibawah PSSI pimpinan Nurdin Fucking Halid. Yang satunya adalah Persebaya 1927 yang berlaga di Liga Premier Indonesia pimpinan konsorium Arifin Panigoro. Kebencian Bonek pada Nurdin membuat mereka mendukung tim yang berlaga di LPI.
“Yo males mas ndukung Persebaya sing nang LSI. Ben tanding gak ono sing ndelok kok.” kata Halim.
Selain Halim, ada lagi Teguh dan Victor. Teguh ini masih kelas 1 SMA. Dia bolos sekolah, dan hanya membawa uang 30.000 saja. 24.000 sudah terpakai untuk membeli tiket Surabaya-Banyuwangi. Sisa 6.000 saja. Teguh memang bukan tipikal Bonek yang nekat. Ia takut diturunkan kalau tidak beli tiket, karena itu dia rela beli meski hampir sebagian besar uangnya berkurang.
“Jancuk, eruh ngono gak usah tuku tiket cuk” maki Teguh karena melihat Halim sukses naik kereta tanpa bayar. Mungkin dia sedikit kebingungan menemukan cara bagaimana bertahan hidup di Bali selama 3 atau 4 hari hanya dengan uang 6.000 rupiah.
***
“Tutup jendelone” seru seorang suporter bertampang bengis tapi komikal yang duduk di sebelah saya pada Teguh. Saya yang tertidur langsung terbangun. Teguh kesulitan menutupnya sendirian. Besi jendela berkarat, harus dipaksa agar jendela bisa menutup.
Kereta sudah sampai di daerah Sidoarjo. Basis Deltamania, suporter Deltras. Bukan rahasia kalau Deltamania sering bentrok dengan Bonek. Saya jadi memikirkan kemungkinan hujan batu seperti yang pernah dialami kereta Pasundan yang ditumpangi para Bonek hampir satu tahun lalu. Saat itu, Bonek yang baru saja bedhol desa ke Bandung dilempari batu di daerah Solo. Kerugian PJKA waktu itu nyaris mencapai 1 milyar.
Yang berseru itu saya lupa siapa namanya. Tapi melihatnya, saya seperti melihat tokoh komik di manga Jepang. Dia berwajah bengis, bertato, bertindik, tapi giginya bogang. Hanya ada beberapa belas gigi saja. Seruannya pun sangat lucu, dengan berbagai gesture yang selalu memancing tawa saya dan juga teman-temannya. Begitu kontras.
“Sing ngarep, tutup wae lawange, ben sing dodol panganan gak iso mlebu. Duite wis entek. Payah ikiiii !” serunya sekali waktu pada teman-temannya yang bergerombol sambil ketawa ketiwi di pintu depan. Saya bisa membayangkan betapa depresinya ia yang kelaparan, tak punya uang, tapi terpaksa melihat para penjual makanan seliweran di depan matanya.
“Asu, cek larange tahune ! mosok sak bungkus 2.000? Sing dodol iki nggolek bondo gawe munggah kaji koyoke” makinya ketika tahu harga tahu yang ia makan harganya –menurutnya– mahal. Lagi-lagi makian itu malah mengundang tawa.
Dan ini yang paling lucu. “Asu koen cuk. Untumu iku lho bogang, hahaha” hinanya pada Teguh yang satu gigi bagian atasnya memang patah separuh. Bagaimana tidak mengundang tawa, orang bogang menghina bogang orang lain? Hahahaha 😀
Tapi gerombolan orang memang rawan menimbulkan chaos. Anarkis–kalau sebutan media, padahal kerusuhan dan anarkisme adalah dua hal yang jauh berbeda. Apalagi kalau gerombolan orang yang beratribut Bonek, yang sampai saat ini mengecap imej sebagai gerombolan orang yang bengis dan suka rusuh.
Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, seorang penjual minuman dingin menyimpan pisau penghabisan panjang di balik bajunya. Ketika turun dari kereta, ia mengambil pisau itu, dan menyarungkannya. Pisau itu untuk apa lagi selain sebagai bentuk antisipasi adanya Bonek yang nakal dan akan merampok dagangannya?
Tak bisa dipungkiri bahwa menaiki kereta bersama bonek memang menegangkan.
***
“Woy woy, kene, kene!!” terdengar teriakan membahana di dalam gerbong. Lantas terdengar derap langkah kaki yang berlari terburu. Saya yang lagi-lagi ketiduran, kembali terbangun. Rusuh, pikir saya. Kereta sedang berhenti di stasiun Pasuruan.
Ternyata bukan rusuh, melainkan ada “saudara” mereka yang menanti di luar. Gerombolan orang itu menyebut mereka dengan sebutan Bonpas, alias Bonek Pasuruan. Para Bonpas menanti Bonek dengan aneka makanan ringan dan minuman. Kabar mengenai Bonek yang naik kereta api Sri Tanjung langsung diantisipasi oleh pihak keamanan stasiun. Tampak gerombolan polisi dan tentara berjaga. Tapi itu tak menghalangi para Bonpas untuk memasang spanduk dan memberikan makanan dan minuman untuk para Bonek.

***
Perut saya sebenarnya keroncongan. Belum diisi sejak berangkat dari Jogja, kecuali sepotong roti seharga 2.000 dan hampir satu liter air. Saya lapar, tapi saya tidak tega untuk makan sendirian. Jadinya saya tahan lapar barang beberapa jam. Toh, para bonek ini juga kelaparan. Saya masih lebih beruntung, sampai rumah pasti bisa langsung makan. Mereka masih harus memikirkan bagaimana caranya agar bisa makan untuk beberapa hari ke depan.
“Koen dadi gigolo wae nang Kuta ben iso oleh duit cuk” seru si muka komikal pada temannya. Tawa kembali membahana.
Tepat jam 7 malam, kereta merapat ke Stasiun Jember. Saya mengambil tas, dan pamitan dengan Halim dan kawan-kawan.
Sama seperti di Pasuruan, aparat pun berjaga di Stasiun Jember. Banyak para bonek yang turun dari kereta dan bernyanyi mars kebesaran para Bonek.
Kami ini Bonek Mania / kami selalu dukung Persebaya // di mana kau berada / di situ kami ada // karena kami Bonek Mania
Good luck buddy []
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR