Siapa Yang “Gila”: Sebuah Percakapan Dengan Harwan Aconk Panuju dan Toni Blank

1559
Kalau anda seorang pecinta kesenian dunia maya, pasti anda pernah mendengar nama Toni Blank Show (TBS). TBS adalah sebuah film pendek yang ditayangkan secara berseri di Facebook setiap hari Kamis jam 8 malam. Film pendek ini sepertinya adalah sebuah terobosan baru di dunia perfilman. Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada film yang ditayangkan di Facebook, apalagi film berseri. Terimakasih kepada tekhnologi modern yang membuat segalanya menjadi lebih mudah.
TBS sendiri adalah sebuah “pertunjukan” mengenai Toni, seorang penghuni panti sosial di Yogyakarta. Bagi banyak orang, Toni adalah sosok yang ideal untuk dibilang gila. Kalau berbicara ia tak nyambung. Suka menjawab ngalor ngidul. Akhirnya orang-orang berkelakar bahwa Toni itu adalah singkatan dari Waton Muni alias asal bunyi.
Tapi lebih banyak lagi orang yang tak tahu bahwa gila itu berbeda dengan schizophrenia. Term gila menurut KBBI adalah “sakit ingatan (kurang beres ingatannya); sakit jiwa (sarafnya terganggu atau pikirannya tidak normal).” Sedang Schizophrenia adalah sebuah term untuk menggambarkan “kelainan otak yang kronis, parah dan membuatnya tidak berfungsi,.”
Orang dengan schizophrenia dapat mendengar suara yang tidak didengar orang lain atau mereka dapat percaya bahwa orang lain membaca pikiran mereka, mengendalikan pikiran mereka atau berencana menyakiti mereka. Pengalaman-pengalaman ini amat mengerikan dan dapat menyebabkan ketakutan, kecanduan atau kemarahan yang ekstrim. Orang dengan schizophrenia dapat berbicara yang tidak masuk akal, dapat duduk selama berjam-jam tanpa bergerak atau banyak bicara, atau dapat terlihat baik-baik saja sampai mereka mengatakan apa yang sebenarnya mereka pikirkan.
Jadi jelas, gila dan schizophrenia adalah dua hal yang sangat berbeda. John Nash adalah seorang ahli matematika peraih nobel, dan dia bukan orang gila. Nash mengalami hal yang sama dengan deskripsi mengenai schizophrenia diatas. Ia mempunyai teman khayalan, gampang marah, seringkali ketakutan, berbicara yang tidak masuk akal, hingga dapat duduk tanpa bergerak. Itu juga yang sepertinya terjadi pada Toni.
Tak banyak orang tahu darimana asal Toni, pria yang diduga berumur sekitar 50 tahun ini. Pria dengan cambang dan berkumis lebat ini tahu-tahu datang di panti itu setelah gempa Yogya terjadi.
Hari-hari Toni berjalan seperti biasa: diberi makan, tempat tinggal, dan dianggap sebagai orang tidak waras. Tak ada yang mau mendengarkan ia berkata-kata, apalagi memperhatikannya. Tapi semua itu berubah ketika suatu hari Harwan “Aconk” Panuju, kembali ke Yogya untuk istirahat setelah mengalami kecelakaan di Jakarta –tempat kerjanya.
Aconk adalah seorang pembuat film yang sebelum hijrah ke Jakarta, sempat berguru dan berkreasi di X-Code Film (Baca Ex-Code, bukan Kali Code), sebuah production house milik Viko Amanda, yang juga seorang pembuat film yang dulu sempat tinggal di Amerika. X-Code sendiri letaknya tepat berada di sebelah panti tempat Toni tinggal.
Suatu hari Aconk nongkrong di pos satpam panti yang letaknya ada di bagian depan panti. Tiba-tiba Toni muncul. Lantas ia mengoceh seperti biasa, dan seperti biasa pula tak ada yang memperhatikannya.
Tapi orang kreatif pasti berpikir out of the box. Itulah yang terjadi pada Aconk. Setelah mengobrol sebentar dengan Toni, ternyata Aconk tahu bahwa Toni tidak gila. Buktinya ia menjawab beberapa pertanyaan Aconk dengan kalimat-kalimat yang kadang tak terduga. Cerdas! Pikir Aconk waktu itu. Saat itulah pria yang masih bujang ini punya rencana untuk membuat film pendek mengenai Toni.
Setelah dirapatkan dengan tim kreatif X-Code, maka jadilah konsep kasar film tentang Toni. Judul acara ini awalnya adalah Gado-Gado Indonesia. Namun setelah melalui diskusi yang panjang, maka Toni Blank Show diputuskan untuk menjadi nama acara ini. Blank dianggap merepresentasikan isi otak Toni yang oleh sebagian besar orang dianggap blank alias kosong. Show sendiri merujuk pada pertunjukan, maka Toni Blank Show adalah pertunjukan tunggal Toni Blank.
Voila! Kegilaan pun resmi dimulai.
Kegilaan ini patut ditujukan pada semua elemen X-Code Film. Bagaimana mungkin mereka bisa punya ide untuk memfilmkan orang yang dianggap gila? Membuat film tentang John Nash adalah hal yang wajar, karena Nash adalah seorang schizophrenia peraih nobel. Tapi untuk membuat film mengenai penderita schizophrenia yang hanya seorang penghuni panti sosial? Hampir tak ada orang yang memikirkannya. Ini adalah bentuk kegilaan pertama.
Kegilaan kedua adalah, para elemen TBS sepakat kalau TBS tidak akan dikomersilkan. Untuk biaya produksinya, TBS mengandalkan kas perusahaan dan pemasukan dari order iklan atau film yang dibuat oleh X-Code film. Sebenarnya X-Code bisa saja menjual kaus atau merchandise TBS, tapi itu tak dilakukan. Karena sejak awal komitmen mereka sudah jelas: Toni tidak untuk dieksploitasi. Kegilaan lanjutannya adalah, setiap produksi TBS, biayanya bisa mencapai 3 juta rupiah. 1 season terdiri dari 13 episode. Setiap minggu ada 1 episode. Ketika tulisan ini dibuat, TBS sudah berjalan di penghujung season 2. Jadi total episode keseluruhan adalah 26 episode. Kalikan saja 26 dengan 3 juta rupiah. Belum lagi adanya episode khusus untuk memperingati suatu peristiwa –seperti episode yang membahas Israel yang menyerang bantuan pangan dan obat-obatan buat Palestina.
Kegilaan ketiga adalah mereka menayangkan film pendek ini lewat Facebook, sebuah jejaring sosial yang tidak lazim digunakan untuk menayangkan film. Umumnya orang menayangkan film di TV, bioskop, atau melalui home cinema (keping cakram). Dalam dunia maya pun, orang lebih sering mengunggah dan menonton video atau film melalui Youtube. Kegilaan ketiga berlanjut dengan kenyataan bahwa film ini berformat serial. Tak ada yang menayangkan film serial di Facebook sebelumnya.
Kegilaan yang paling gila adalah, Toni Blank jadi seperti idola baru. Setiap perkataannya seperti petuah imam bagi para makmumnya. Setiap kata-kata yang dilontarkannya –entah itu melantur, ngawur, atau tepat sasaran—ditiru oleh para penonton TBS.
Kata-kata unik dan tidak pernah ada di kamus manapun sebelumnya macam Saparatoz, Uesbestes, Criminal in the Sky, Speed Gives You More, Papi Government, hingga Pro Love, tiba-tiba menjadi kata dan idiom baru yang populer. Mungkin kejadian ini sama ketika Mbah Surip memasyarakatkan jargon Tak Gendong atau I Love You Full.
Kalau anda melihat page Toni Blank Show di Facebook, maka anda akan melihat 5000 fans dengan bangga dan riang gembira mengucapkan kata atau kalimat yang pernah terucap oleh Toni. Akhirnya muncul pertanyaan. Siapa yang gila sebenarnya? Toni yang omongannya kadang melantur dan dianggap tidak waras? Ataukah para orang-orang yang mengikuti ucapan Toni? Anda yang memutuskan.
Adalah hal yang tidak normal ketika sebuah film diproduksi, nama sutradara dan crew tidak ikut dicantumkan. Abnormalitas itulah yang ada pada seluruh punggawa TBS. Para pegawai kreatif X-Code ini tidak bersedia mencantumkan nama mereka di TBS. Itu adalah hal aneh di masa sekarang, dimana narsisme seakan menjadi epidemi dan mewabah kemana-mana.
***
Karena itu pula, saya rela naik kereta api 12 jam menuju Yogya, mencari alamat X-Code Film, tersesat, dikejar anjing, dan segala macam cerita lainnya untuk menemui sang sutradara, Harwan Aconk Panuju serta Toni Blank secara langsung. Saya penasaran ingin mengobrol dengan 2 orang “abnormal” di kota yang memang dikenal sebagai gudangnya orang “abnormal”
Ketika saya datang, ada satu kelompok mahasiswa advertising yang sedang membuat iklan dengan Toni sebagai bintang utama. Di sela-sela kesibukannya, Aconk dan Toni menyediakan waktu untuk bercengkrama di dalam rumah merangkan kantor X-Code yang sejuk.
***
Yang punya ide pertama untuk membuat TBS ini siapa?
Aku.
Kenapa Toni yang dijadikan film?
Jadi sebenarnya pertama kali itu aku mau bikin documenter tentang perawat panti. Perawat yang merawat orang gila, memandikan orang gila.
Itu panti untuk orang sakit jiwa?
Ya macam-macam… untuk penampungan, ya orang gila, orang tua, gepeng, terus yang gila.
Bagaimana awal mula seorang Aconk bisa mempunyai ide untuk membuat TBS?
Sebetulnya aku kerja di Jakarta, waktu aku lagi kecelakaan, aku balik kesini (X-Code Film). Sebelum ke Jakarta aku juga kerja disini. Waktu aku riset, kan biasanya aku ngobrol ama satpam. Terus dia (Toni) datang dengan gaya rambut aneh. Kan potongannya aneh, dibuat mainan ama orang2 panti. Terus dia nyapa “good morning sir, what’s your name?” Aku jawab “my name is Achonk.” Aku masih gak ngeh. Trus ketika aku duduk, apa yang aku rencanakan akhirnya buyar gara-gara Toni. Terus aku tanya ke satpam siapa Toni itu.
Dia bilang “ya orang gila”. Terus rasa tertarikku semakin tinggi ketika melihat ia mondar mandir, ia kan sering disuruh beli rokok. Ia pasti nyapa “hallo sir, are you okay?”, nyapa dengan bahasa inggris. Dia ngerti bahasa Indonesia juga, cuman ya kadang-kadang gak nyambung.
Aku riset dia 3 bulan. Nanya-nanya aja, kalau Toni lewat, aku panggil, kasih rokok, trus ngobrol. (Lalu aku piker) Pemikiran orang-orang seperti mas Toni itu apa salahnya buat diceritakan?
Lalu kenapa formatnya berupa tanya jawab gitu?
Kita sering mendengar ceramah-ceramah dari petinggi macam presiden, ulama. Tapi hanya sedikit yang kita dapat. Ya itu menurutku sih. Selama aku ngobrol dengan Toni, banyak nilai yang aku dapetin. Pas ngobrol, pasti ada aja yang nyantol, yang bisa aku inget.
Muncul pertanyaan, kenapa mas Toni gak diberi pertanyaan seperti orang banyak? Trus kita lihat seperti apa jawabannya. Aku kaget ketika dia bilang “kalo koruptor jangan dibunuh orangnya, dibunuh kinerjanya.” Itu kan hebat. Disaat banyak orang, mahasiswa, menuntut koruptor dihukum mati. Sekarang yang waras siapa? Dia suka baca, dia ngomongin pentingnya membaca. Trus mas Toni bilang pemilu seperti apa (Episode 1 Season 1), DPR itu apa (Episode 5 season 2). Sekenanya dia. Tapi mengandung inti dia ngomong itu jujur. Dia selalu positif thinking terhadap apapun. Dia gak pernah toh jelek-jelekin negara. Bahkan Amerika pun gak pernah dia jelek-jelekin. Toni itu jujur. Apa yang diomongin pasti tak ada pro kontra. Kalau apa yang diomongin dia ada yang percaya, siapa yang gila? Kan itu. Kan konsep Toni Blank kan itu.
Setelah TBS dibuat, bagaimana proses penyebaran awal itu? Dan sebenarnya apa sih yang ingin ditunjukkan TBS kepada masyarakat?
Aku sebenarnya tak berani meng-upload. Isu terbesar aku nggarap TBS adalah eksploitasi orang gila. Yang terjadi disini adalah, kenapa Mas Toni ngomong banyak? Karena di panti orang tak mau ndengerin dia. Setiap Toni ngomong, mereka pasti merespon ‘ah, apa sih, orang gila,’. Kita malah menyediakan ruang bagi Toni untuk berbicara. Bahkan kata pengurus panti, kalau Toni disini (X-Code), dia gak pernah kumat. Kalau dia lama gak syuting, dia kumat, lari kesana kemari. Dan dia itu disana (di panti) ngerasa gak diperhatikan. Karena selama gak disyuting, dia merasa tertekan. Cuma mondar mandir, bawa kaleng-kaleng atau kardus bekas.
Lalu setelah TBS mulai terkenal, gimana perasaan tim kreatif TBS?
Mas Toni ini sebenarnya… kita ini takut mas Toni terkenal. Ketakutannya itu seperti ini. Akan ada isu-isu yang menerpa tim kreatif kita. Masalah eksploitasi orang gila. Pasti ada perkataan macam “wah, ini gak pake ijin.” Panti aja gak berani ngasih ijin resmi. Toni kan milik Negara. Bahkan ada beberapa clothing yang mau meng-endorse kaos dan kata Saparatoz. Tapi kita menolak, karena Toni ini bukan untuk dijual, bukan untuk dieksploitasi, bukan untuk dijual, titik.
Pasti ada tudingan pengeksploitasian Toni?
Itu pertanyaan yang sering muncul. Gak papa lah. Kalo misalnya mau ngitung, kita ngeluarin setiap produksi bisa mengeluarkan satu dua hingga tiga juta kalau diuangkan. Itu untuk rental kamera, bayar kru, editing. Besar sekali. Dan itu setiap minggu. Dan kita gak dapat apa-apa. Kita gak dapatin uang. Bahkan kalau kita misalnya bikin rada gimana (tidak bagus), mereka mencaci maki ‘wah gak bagus. Pengennya bagus terus. Tapi mereka gak sadar bahwa kita menghidupi acara ini kita bener-bener hidupin sendiri. Jadi kalau dibilang eksploitasi, eksploitasi yang mana?
Trus kenapa ditayanginnya lewat facebook?
Jadi sebetulnya begini. Facebook adalah media yang paling luas. Kedua, kita gak mungkin tayang di broadcast ya. Di broadcast ada larangan untuk menampilkan orang yang sakit jiwa. Makanya aku pillih media internet. Terus kenapa aku pilih media internet. Satu, murah. Kedua, lebih efektif. Yang ketiga, sasaran kita tetap. Jadi gini, Orang yang nonton mas Toni adalah orang yang pintar, bukan alay-alay, bukan orang bodoh, bukan orang yang gak sekolah. Sori, bukannya kasar. Tapi secara pola pikir, mereka sudah maju. Dan sasaran untuk menempatkan inspirasi di situ itu memang tepat. Terus tentang populernya, kita tidak pernah mau mencantumkan siapa yang membuat. Itu bukti kita tidak mengeksploitasi.
Hoo, hanya ada tulisan X-Code film itu ya?
Iya, kalau kita ingin mengeksploitasi, pasti aku nyantumin namaku sebagai sutradara, dan aku terkenal, dan aku akan dapatkan banyak job. Tapi kita gak mau. Kita malah dapat job di luar TBS. Orang kita bikin klip, dan kita sudah membuat film dan klip sebelum TBS. Apalagi ya? Oh ya, tentang Toni. Toni itu malah merasa menjadi manusia ketika main disini (bergaul dengan crew X-Code Film, red). (diluar) apa pernah Toni bisa nonton TV sesukanya? Apa pernah mas Toni dibikinin minum ketika dia minta? Apakah pernah mas Toni itu bergaul dengan orang-orang banyak. Disini dia merasa dimanusiakan. Disini ia merasa menjadi manusia utuh. Dia punya temen. Jadi dia gak perduli dengan terkenalnya. Yang penting dia punya teman baru. Bahkan sebagai orang yang dianggap gila, dia sekarang bisa berteman dengan mahasiswa, orang-orang broadcast.
Ungkapan from zero to hero sepertinya pas untuk Toni. Dari seorang penghuni panti, jadi selebritis mendadak. Bagaimana perasaan Toni ketika dia menjadi terkenal seperti sekarang?
Sebenarnya gak ngaruh dia punya fans apa gak. Siapapun mereka (fans-nya), gak ngaruh ke Toni. Terus ketika dibuatin facebook, lalu untuk nulis status, aku tanya “apa yang kamu pikirin Ton?” ya aku tulis. Toni gak tahu tentang fans-fansnya. Kaya’ tadi, ketika aku ngobrol soal reformasi, apa yang dia omongin, aku tulis aja. Ada yang komen “oh, jangan2 ini episode baru”. Kitanya nyantai malah. Waktu season 1 selesai, kita pikir “Ah, sudah cukup lah.” Tapi malah orang-orang yang mendesak (untuk melanjutkan TBS)
Ada orang yang kontra dengan proyek TBS?
Waktu aku coba season dua, ada yang bilang “oh fuck!”. Kan ada penanyanya, orang, detail. (TBS Season 1, formatnya adalah ada pertanyaan di layar berwarna hitam, lalu Toni menjawab. Jadi yang ditampilkan hanya Toni. Lalu di season 2, di beberapa episode awal, formatnya berganti. Ada orang yang bercengkrama dengan Toni dan memberikan pertanyaan secara langsung).
Ya maksudnya kan kalau ada orang yang nanya-nanya langsung (tidak sekedar berupa teks), kan enak. Maksudnya bisa dilihat bersosialnya mas Toni. Tapi ada yang bilang “Fuck buat penanyanya!”. Kan ada penanyanya, tim kreatif. Kan gayanya seperti itu, nanya “Ton, ini apa?”. Padahal ketika mereka (fans TBS) tidur, kita (Tim kreatif TBS) melek nggarap Toni. Kalau (sekedar untuk) suka-suka sih buat apa (susah-susah)? Tapi kita berpikir demi Toni. Bahkan ketika kita masih belum masang internet, kita bela-belain ke warnet buat upload film ini biar bisa dilihat orang banyak.
Itu kan gak pernah dipikirkan orang2. Tapi kita sepakat, ini kegilaan kita. Ini suatu karya yang luar biasa. Belum ada sih, ini mungkin ya, setahuku belum ada satupun pun proses indie, ini kan indie, bikin yang gak tau ujung pangkalnya sampe kapan. Dan gak tau biayanya dari mana. Ini kan gila.
Proses kreatif TBS selama ini seperti apa?
Aku kan kerja di Jakarta.. Disana aku kerja di PH. Fictionary Film Jakarta. Mereka (tim kreatif) bikin di Jogja. Ketika misalnya kita mulai dari start, aku email pertanyaannya. Outlinenya kadang aku bikin, aku kirim, (lalu) syuting. Lalu film kasarnya dimasukkan ke account youtube-ku. Tidak ditulis Toni Blank, nanti keluar kalo di-search. Terus aku kirim feedback, oh kurang ini kurang itu. Lalu anak-anak bikin lagi. Sampe 3 kali.
Di sela-sela kerjaan, kadang Toni bilang “lagi gak enak badan nih.” Ya kita juga gak bisa maksa kan. Tapi ya itu, ini harus tayang. Makanya biasanya anak-anak langsung telepon aku, teleponnya di-loud speaker. Aku nanya “Ton, denger papi Aconk?” Kalau dia denger, ya dimulai. “Ton, kamu lihatnya ke kamera ya.” Itu perintahku dari Jakarta. Kalau aku telepon, pasti Toni mau menjawab dan mau syuting. Itu emang seperti itu, prosesnya seperti itu. Kadang kita merasa tertekan dengan jadwal tayang itu sih.
Jadwal tayang dan tekanan kerjanya seperti apa sih?
Kamis tayang. Jumat bikin konsep, Minggu syuting sebetulnya. Jadinya Senin. Selasa udah deadline. Rabu udah ngisi grafisnya. Kamis pagi atau malam online. Ini kan suatu yang, ini mungkin ya, bukan berarti aku takabur, tapi ini belum tentu bisa dilakukan oleh orang lain.
Lalu untuk ongkos produksi gimana?
Jadi gini. Disini itu untuk menanggung ongkos produksi, ya kita misalnya dari rental alat, ya kan trus ada dari job. Jadi sebenernya yang dieksploitasi itu kami, hahaha. Jadi yang dieksploitasi oleh penonton itu kami, hahaha. Gak tau deh.
Menurut mas Aconk, penayangan di Facebook dan di Youtube itu efektif?
Sangat. Jadi aku pikir semua orang share di media paling murah, itu kan paling murah (Facebook). Kita butuh hiburan. Dari Facebook itu, kita punya teman. Dari teman ada mutual friend. Makanya aku selalu bilang kepada teman-teman (penggiat film), kalau ada video atau film, di-upload aja. Selama ini kan penggiat film terutama film indie kan masih mikir ‘wah, film itu harusnya gini’ atau ‘wah, klip itu harusnya gini.’ Jadi malah gak jadi bikin. Apapun itu yang ada gambar dan suaranya ya film. Kita cuma (harus) pintar-pintar mengemasnya aja. Mengemas supaya film itu menarik. Treatment TBS kan seperti TV program . Minggu tayang iklannya, promonya. Ada opening, konten, closing bumper.
TBS itu sebetulnya, kita sebenarnya mau protes, ini merupakan bahan protes kita terhadap media. Selama ini film-film indie kan rada terpinggirkan, tidak mendapat porsi yang besar di media besar. Tapi dengan internet, kita punya facebook, kita bisa upload video, kita upload terus, sampe orang-orang tahu dan ngeliat kita. Kita gak perlu mengundang mereka. Dan ternyata bener. Orang-orang tahu. Imam Tantowi, legenda film kita. Iqbal Rais itu adalah director film Changcuters.. Mereka mengapresiasi. Bayaran kita itu sebenarnya cuma koment. Kita menunggu-nunggu komen. ‘Komennya siapa ya?’ Bayarannya cuma itu, hahaha (tertawa).
***
Toni Blank Dahulu Kala Antara Film dan Musik:

Siapa yang menyangka, Toni yang dianggap tidak waras ternyata hafal banyak film, band, hingga nama penyanyi? Bahkan dia pun sempat menunjukkan kepada saya kalau dia bisa bernyanyi. Hebatnya, dia menyanyikan lagu Bicycle Race. Lalu kami berbincang mengenai apa saja di sore yang cerah itu. Mulai pemilu, mahasiswa, film porno, dengan tentunya diselingi beberapa omongan yang melantur kesana kemari. Berbicang dengan Toni sungguh sangat menyenangkan. Ia tidak punya tendensi apapun. Apa yang ia katakan adalah jujur adanya. Ia juga mengajarkan saya nilai-nilai sederhana yang penting, yang ironisnya justru hampir dilupakan oleh kita semua. Saya lantas jadi berpikir. Jangan-jangan kita semua adalah orang yang gila, dan Toni adalah satu-satunya orang yang waras. Karena hanya Toni yang waras, jadinya kita yang menuduh ia gila…
Mas Toni ini umur berapa sih?
42. Hehehe
Ah, gak percaya saya, hahaha. Dulu mudanya suka ngapain aja?
Suka nonton film, kayak Detektif Cilik. Commando.
Kalau Commando itu siapa yang main?
Dahulu Arnold.
Kalau Rambo?
Sylvester Stallone.
Mas Toni suka musik?
Suka.
Musik itu apa toh?
Musik itu adalah suatu emosi, luapan jiwa. Dari corak lembut. Mempunyai corak kreasi, watak seseorang yang mempunyai jiwa kepandaian atau pandai, berprestasi dalam bidang seni.
Suka musik apa aja?
Kalo Indonesia suka Mami Ita Purnamasari. Dari Surabaya Elpamas atau Power Metal. Itu kan musik rahasia anak muda. Dari awal tahun 70-80.
Dari luar negeri suka siapa?
Biasanya suka lagu kampus, pendidikan akademik, suatu keadilan. Mempunyai request, surprise, season pertama, season kedua. Berarti lirik lagu itu mempunyai komitmen seperti presiden, wakil presiden, papi mami government yang diturunkan pada anak-anaknya. Apakah saya sanggup menjalankan target soundtrack.
Tahu gak siapa vokalisnya band Rolling Stones?
Itu papi Mick Jagger
Kalau Queen?
Queen flash itu Freddy Mercury
Emang lagunya Queen itu yang seperti apa toh?
Yang gini, I want to ride my bicycle, I want to ride my bike… (lalu ia menyanyikan Bicycle Race dengan baik dan benar).
Kalo band terkenal dari Inggris itu siapa saja mas?
Itu the Beatles, papi John Lennon. Itu kalau John Lennon no sacrifice, dia disana papi yang bijak.
Mas Toni tahu Jimi Hendrix gak?
Jimi Hendrix? Ya tahu. Itu adalah professor yang menyempurnakan putra papi mami presiden Jimmy carter. Is that right? Hah?
Kalau Jim Morrison?
Ya masih saudaranya papi mami Jimmy Carter. Hanya beda jurusan saja. Satu bagian tema, satu bagian engine hanya dua pertama kali yang memodali spriit, suatu nilai saja. Dia memberi satu spirit nilai pertaama awal satu dolar. Tak kasih satu perak, tolong betulkan busiku sudah mati 7 tahu, bagaimana bisa hidup dan mempunyai pengembalian yang cukup tinggi dan tidak usah ngadat lagi. Laaah itu. Nah itu mempunyai liku-liku suatu fenomena rumit, busi sudah mati 7 tahun, tapi dihidupin Cuma satu detik
***
Antara Mas Toni, Pemilu, Korupsi, PSSI, Mahasiswa dan Kebebasan:
Mas Ton, mahasiswa itu apa sih?
Mahasiswa itu suatu, mempunyai wewenang untuk membela bangsa dan negara, dan wajib mengambil suatu nilai awal dasar dan nilai akhir dan mengembangkan dan melindungi.
Mahasiswa itu harus suka baca ya?
He’em. Berarti dia menjadi suri tauladan.
Piye mahasiswa yang tidak suka baca?
Ya berarti dia punya kebiasaan antara buka buku dan tidak buka buku. Dari cara awal dasar menilainya. Ya tapi kalau buka buku itu hanya sebagai commander. Mahasiswa yang tidak suka membaca itu berarti tidak suka menyimak. Tidak suka mengindahkan. Suka meremehkan larangan. Mereka tidak menyimak akhirnya goyang, mudah diombang ambing, dan mudah diadu domba.
Korupsi itu jelek gak mas?
Korupsi itu jelek. Korupsi itu mneyembunyikan atau mengurangi, merubah suatu nilai hakikat, harkat martabat, atau logika real, atau institusi bangsa. Mereka sebenarnya punya niat, tapi niat itu disalah gunakan.
Setuju gak kalau ada hukuman mati buat koruptor?
Ya kita punya rasa iba. Ya tetapi ya namanya kebiasaan menipu sana sini. Keputusan ada pada keluarga kita sendiri. Untuk menjernihkan suasana hati. Dengan tidak memakai suatu anarkis.
Pemilu kemaren milih gak?
Aku netral.
Golput?
Enggak. Aku punya komitmen netral. Tetapi mempunyai kayak seperti melindungi.
Nyoblos gak mas?
Nyoblos
Nyoblos siapa?
Ya itu rahasia, hehehe (tertawa keras). Tetapi yang mempunyai komitmen sama, yang mengutamakan suatu pendidikan.
Gimana pendapat mas Toni soal SBY?
Kalo SBY itu ya gitulah. Dalam suatu komitmen, di suatu KTP di Jenewa, ya kebanyakan nilai monalisa. Dia menuntut harta, hanya nilai lah. Nah sampai puyeng. Nah itu hanya sebuah permintaan, hanya meminta sebuah nilai. Nah, itu dinilai dari kinerjanya.
Pendapat mas Toni tentang demonstrasi
Demonstrasi yang mengembangkan kekerasan, saya tidak suka. Kamu harus menunjukkan apa yang kamu minta. Jadi gak perlu menunjukkan kekerasan. Panggil aja komander-nya (pemimpin demo) lalu didiskusikan dengan pak pelatih (pihak yang didemo). Daripada demo mending mencari ilmu.
Mas, menurut mas Toni soal kebebasan?
Freedom itu suatu kemerdekaan atau kemenangan mutlak terhadap kondisi yang disahkan oleh KTT, yang dikontrol oleh komitmen bersama. Freedom mempunyai cirri khas berbeda, tiap office, tiap school, harus bisa ngemong anak putune (mengasuh anak cucunya) biar dewasa dan tidak main anarkis, ya meminta itu mempunyai suatu modal, tapi disini kan sudah mempunyai tabungan. Jadi tabungan itu dikembalikan ke empunya.
United States of America itu opo toh mas?
United states itu berarti mempunyai union, human rights, yang mempunyai suatu kesamaan dalam target. Mereka suka mengembangkan atau techno. Dan techno itu ada pro dan kontra. Naaaah.
Kalau free sex?
Itu vulgar. Mempunyai kebebasan yang berlebihan. Itu kurang dikontrol.
Kalau kondom?
Kalau kondom itu mempunyai sprite, flash, atau cahaya penetral. Kondom itu pelindung. (Dalam salah satu episode TBS, Toni pernah berkata “Pakai kondom belum tentu aman. Makanya jangan jajan). Tapi itu sering disalah artikan. Kalau kondom pada jaman bung karno itu artinya penerbangan. Itu bahasa matematika hakikat penerbangan antara fly dan sky dan mars, angkasa. Angkasa itu kan berarti angkasa sama mars. Kalo fly itu kan berarti dari dasar. Ketemunya nanti kalo dikombinasikan.
Pendapat mas Toni tentang perang dan kekerasan?
Awalnya dari suatu kekerasan sehari-hari. Ia menggunakan suatu kundalini, ideologi kekerasan. Akhirnya ada kegoncangan. Kalau iman gak kuat itu kan gak lari. Mempunyai watak jelek. Tunjukkan hakikatmu sebagai anak bangsa, hakikat kebenaranmu. Kok disini kekerasan? Kok disini peperangan? Harusnya seperti disini. Ada harmoni, ramah tamah. Jadi harus bisa menghentikan perang. Kekerasan itu terbiasa tidak harmonis. Harus ada bobot, komitmen, varicosity. Mengisi, melindungi, mencarikan, jati diri. Umpamanya mempunyai personil komandan bapak atau ibu guru. Kamu harus menghidupi. Akhirnya dapat dan dikembalikan.
Pro love itu apa sih mas?
Pro love itu mempunyai suatu kesepakatan atau musyawarah cinta yang mempunyai hakikat anak bangsa atau hakikat terhadap keutuhan putra putri bangsa untuk melindungi, mengisi, menyelamatkan.
Jadi intinya?
Intinya harus dan wajib membela negara, membela cinta setulus hati, menurut kebenaran intuitif, tidak anarkis, tidak sadis, tidak menekan dengan suatu crime, tapi menekan dan mendorong dan membikin pandai.
Pendapat mas Toni tentang orang yang memaksakan kehendak dan memaksakan agama?
Wah itu mempunyai suatu intimidation, intimidasi kekerasan yang melenceng dari target. Sak enake dewe! Seenaknya diri. Aku seneng kayak gini aja. Lewat tulisan. Situ kalau mau perang ya silahkan. Sini tidak nantang perang. Kita gak punya modal untuk perang. Sedangkan kehidupan kita sendiri hanya mempunyai suatu komitmen harmonis, ramah tamah, dan tidak bisa diadu domba. Dan negaraku hanya harus mengingat dan menimbang, mengisi, serta menyelamatkan ekonominya. Kalau engkau menggunakan suatu kekerasan dan peperangan , trus modalnya untuk perang, lah dari mana nanti anak-anakku bisa untuk pendidikan? Belajar mengajar? Sedangkan kalian tidak mau mengisi hakikat bangsa yang wajib membela keluarga kita sendiri di tanah air. Mereka malah tidak membela keluarga kita sendiri. Malah menghambur-hamburkan uang, menipu, mengkhianati, memakai uang-uang saudaramu, tidak bilang, dan tidak mau mengembalikan. Mereka malah merusak. Mengadu domba.
Piala dunia 2010 diadakan dimana toh mas? (ketika wawancara ini dilakukan, piala dunia 2010 baru berjalan 2 pertandingan.)
Saya sih maunya di Indonesia. Kalau boleh, hahaha. Tapi itu kan tergantung government sini, boleh ato enggak, hehehe.
Negara jagoan mas Toni?
Kalo disini ya pakai pelatih hanya barometer. Negaraku ya Indonesia. Tapi masih harus menambah pemantapan, memenuhi target papi mami government. Jadi tidak seenaknya. Jadi harus dari sini. Harus mendapatkan nilai 98 atau lebih. Akhirnya terus mendapat 150, 200, 10 ribu akhirnya mendapatkan kavaleri. 10 ribu dapat maem roti. Ya tapi mengisi suatu APBN daerah negara. APBN apa itu… family.
Pesen mas Toni buat pembaca majalah Tegalboto?
Majalah itu mempunyai suatu hiburan tetapi target wajib harus berbobot, dengan mencerna dan membaca. Dan mempunyai aspiration, pemberitaan tangkapan seperti tangkapan tugas dan pertanyaan dan jawaban. Jadi dalam belajar mengajar dapat mempunyai kecepatan yang cerdas yang sangat nilainya sangat ditakuti oleh dunia. Sehingga pendidikan kita mempunyai pendidikan yang jempolan. Dan pendidikan kita menjadi pendidikan yang jempolan.
Sip! Saparatoz!
Saparatoz bingo! Dan tambahan, pendidikan itu harus mempunyai kejujuran. Kejujuran dalam suatu nilai. Jujur. Tapi harus mempunyai sikap mandiri, dewasa, tidak saling menjerumuskan, atau mendorong ke dalam kesalahan yang berulang-ulang. []
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

6 KOMENTAR

  1. g sengaja saya liat mas toni di TVONE “bumi dan manusia”.Eh ternyata udah terkenal ya sekarang:)

  2. Saya ikut membaca artikel dan wawancara seputar Toni Blank di atas. Saya pun ikut berterima kasih atas sajian laporan jurnalistik yang baik ini. setelah saya ikut menyaksikan tayangan Oni Blank Show melalui YouTube, saya mendapat gambaran yang lebih lengkap mengenai sosok Toni Edi Suryanto dan seniman film Harwan Panuju. Salut, Mas!

  3. Tony Blank … itu adalah senyawa organik yang mampu mengentertaint alam semesta di tengah carut-marut ledakan gas elpiji yang membahana dan pidato-pidato papi mami anggota dewan yang hanya mementingkan ill oll ell gibiwan gibitu… halaahhh… hehehehe SAPARATOZZZ!!!

TINGGALKAN KOMENTAR