The Fighter (Bukan Spoiler )

149

Sebut saya katrok, tapi saya baru lihat The Fighter kemarin malam. Film itu sebenarnya sudah saya simpan lama. Semenjak saya ngopi banyak film di rumah Quddus, salah seorang teman yang menggilai film. Tapi beberapa kesibukan membuat saya melupakan adanya film ini di hard disk saya.
Saya baru ingat dan langsung menonton film ini ketika kemarin membaca salah satu ramalan mengenai pemenang perhelatan Oscar. Sekedar info, film ini masuk dalam 7 nominasi Oscar, termasuk Best Picture, Best Director, dan Best Supporting Actor untuk Christian Bale. Disana disebutkan Bale sangat berpeluang untuk menjadi pemenang karena sepanjang sejarah Oscar, para dewan juri biasanya terkesan dengan aktor/aktris yang rela “menderita” untuk peran.
Dan bagi saya, Bale sungguh sangat menderita untuk memainkan peran sebagai Dicky Eklund, seorang mantan petinju legendaris yang dijuluki Pride of Lowell. Kehebatannya mencapai puncaknya ketika ia merobohkan Sugar Ray Leonard. Sayang, setelah kejayaannya itu, Dicky menjadi pecandu heroin. Tubuhnya kurus, rambutnya rontok, dan giginya menjadi ompong. Bagi yang sudah terbiasa melihat Bale dalam balutan kostum Batman yang gagah, bersiaplah terkesima melihat betapa kurus dan menyedihkannya Bale dalam film ini.
Tapi Bale bukanlah aktor utama dalam film ini, dia hanya sebagai aktor pendukung. Karena itu ia masuk ke dalam nominasi Best Supporting Actor. Namun kehadirannya dalam film ini mampu menyerobot perhatian penonton, mengalahkan pesona sang pemeran utama. Sama seperti kasus Heath Ledger yang berakting brilian sebagai Joker dalam film Batman –yang jadi lucu, karena disana Bale menjadi pemeran utama sebagai Bruce Wayne, dan dia kalah tenar oleh Joker.
Mark Wahlberg memainkan peran utama sebagai Micky “Irish” Ward, seorang petinju kelas welter. Dia dimanajeri oleh ibunya sendiri, Alice Ward (Mellisa Leo), dan dilatih oleh sang kakak kebanggaan keluarga, Dicky.
Dicky sendiri seperti menderita post power syndrome. Keberhasilannya merobohkan Sugar Ray Leonard selalu diucapkan berulang kali. Dia selalu merasa bahwa dirinya masih bisa bertinju. Bahkan kru HBO membuat film tentang dirinya yang akan comeback untuk bertarung lagi. Padahal, kru HBO membuat film tentang bahaya narkoba, dan Dicky jadi salah satu korban bahayanya narkoba.
Micky menghadapi masalah ketika dilatih oleh Dicky. Sang kakak yang sudah menjadi pecandu heroin bukanlah sosok pelatih ideal bagi petinju yang ingin maju. Selain selalu telat melatih, Dicky dan sang ibu selalu salah dalam memilih lawan tanding bagi Micky.
Salah satu adegan yang bikin saya ngakak –meski ini bukan film komedi– adalah ketika Micky harus melawan musuh yang memiliki berat badan jauh diatasnya. Awalnya sang promotor meyakinkan Micky bahwa sang lawan bukanlah lawan yang berat, dan akan mudah dijatuhkan. Micky yang tahu berat badan sang lawan sedikit enggan melawannya. Namun sang kakak meyakinkannya.
Tapi ketika di ring, musuh yang dihadapinya sangat besar. Plus sangar.
“Holy shit” maki Micky ketika melihat lawannya.
“Yeah, holy shit” timpal sang kakak. Sungguh kocak.
Meskipun akting Bale sangat bagus, pun chemistry adik-kakak antara Wahlberg dan Bale juga ciamik, namun sebenarnya cerita film ini standar ala film olahraga Hollywood. Ada sedikit konflik, pertempuran dengan konflik, dan berakhir bahagia.
Akting para pemainnya lah yang membuat film ini jadi keren dan layak masuk Oscar. Mark Wahlberg memainkan perannya dengan standar sebagai petinju medioker yang harus merangkak dari petinju batu loncatan (petinju yang dipilih karena dianggap mudah dikalahkan dan bisa menaikkan peringkat) hingga mencapai mimpinya sendiri dan lepas dari bayang-bayang sang kakak.
Iya, peran Mark Wahlberg standar saja sebenarnya. Sama seperti aktingnya di Four Brother, Shooter, atau di Italian Job. Aktingnya masih belum mencapai tahap brilian seperti di Boogie Nights atau di The Departed. Bagus tapi tidak sebrilian Bale.
Meskipun film ini sepertinya akan susah memenangkan Best Picture, tapi saya menjagokan Bale merebut Best Supporting Actor 😀
Bagaimana dengan anda?
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

  1. Aku ingat seminggu lalu nonton The Fighter bareng Lek, Ayos dan Fajar Ndud di XXI, siang-siang, en it’s so krik krik krik, karena yang nonton paling cuman 20 biji di gedung segede Sutos. Ini sebagai perayaan, ‘film hollywood trakhir yang mungkin kita tonton’. hahaa… makane mbela2ni nonton nang XXI, padahal duwe file’e. Aku suka tone warna di film ini! Yeah! tapi aku juga suka King’s Speech!

TINGGALKAN KOMENTAR