Doa Seorang Ayah

2118

Seorang ayah pasti ingin anak lelakinya tumbuh jadi pria yang membanggakan. Pria yang bisa diandalkan. Pria yang membuat wanita merasa aman berada di sampingnya (mengutip Gola Gong). Iya, semua ayah. Tak peduli apa profesinya.
Jenderal Douglas MacArthur adalah satu diantara milyaran ayah yang begitu ingin sang anak lelakinya tumbuh jadi pria yang bisa diandalkan. Tak perduli bahwa MacArthur adalah seorang jenderal yang harus memeras otak dan bermain strategi dalam berbagai perang besar. Diantara desau peluru dan ledakan meriam yang membahana di hari-hari awal Perang Dunia II, MacArthur masih sempat menuliskan sebuah prosa untuk sang anak lelakinya yang kala itu masih berusia 14 tahun.
MacArthur sendiri lebih dikenal dengan kalimah legendarisnya “I Shall Return!”, yang ia ucapkan ketika meninggalkan Filipina pada Perang Dunia II. Saat itu Jepang seperti tak terelakkan akan merebut Filipina, dan presiden Amerika saat itu, Franklin D. Roosevelt memerintahkan MacArthur untuk berpindah dari sana. Dua tahun kemudian Jenderal pemberani ini menepati janjinya. Ia memimpin pasukan Amerika dan membebaskan Filipina dari pendudukan Jepang.
Tapi ternyata prosa berjudul Father’s Prayer ini jauh lebih menggetarkan. Lebih manusiawi dan humanis ketimbang maklumat “I Shall Return” yang meski terdengar sangat jantan, tapi tetap saja beraroma balas dendam dan kekerasan.
Build me a son, O Lord,
who will be strong enough to know when he is weak,
and brave enough to face himself when he is afraid;
one who will be proud and unbending in honest defeat,
and humble and gentle in victory.

Build me a son whose wishbone will not be where his backbone should be;
a son who will know Thee….
Lead him, I pray, not in the path of ease and comfort,
but under the stress and spur of difficulties and challenge.
Here let him learn to stand up in the storm;
here let him learn compassion for those who fail.

Build me a son whose heart will be clean, whose goal will be high;
a son who will master himself before he seeks to master other men;
one who will learn to laugh, yet never forget how to weep;
one who will reach into the future, yet never forget the past.

And after all these things are his, add, I pray, enough of a sense of humor, so that he may always be serious,
yet never take himself too seriously.
Give him humility, so that he may always remember the simplicity of greatness, the open mind of true wisdom, the meekness of true strength.

Then I, his father, will dare to whisper, “I have not lived in vain.”
Yang diterjemahkan menjadi:
Tuhanku,
Bentuklah putraku, menjadi manusia yang cukup kuat
Untuk menyadari manakala ia lemah
Dan cukup berani untuk menghadapi dirinya sendiri manakala ia takut
Manusia yang merasa bangga dan teguh dalam kekalahan,
Rendah serta jujur dalam kemenangan

Bentuklah putraku, menjadi manusia yang kuat dan mengerti
Bahwa mengetahui dan kenal akan dirinya sendiri
Adalah dasar dari ilmu pengetahuan

Tuhanku,
Janganlah putraku Kau bimbing di atas jalan yang mudah dan nyaman
Tapi bimbinglah ia di bawah tempaan dan
Desak kesulitan tantangan hidup
Bimbinglah putraku agar tegak di tengah badai
Dan berbelas kasihan pada mereka yang jatuh

Bentuklah putraku, menjadi manusia yang berhati bening,
Dengan cita meninggi langit
Manusia yang sanggup memimpin dirinya sendiri
Sebelum ia berhasrat memimpin orang lain
Manusia yang menggapai kegemilangan hari depan
Tanpa melupakan masa lampau

Dan setelah semua menjadi miliknya,
Lengkapilah ia dengan rasa humor,
Agar ia besungguh-sungguh tanpa menganggap dirinya terlalu serius

Berikanlah padanya kerendahan hati
Kesederhanaan dari keagungan hatiku
Keterbukaan pikiran bagi sumber kearifan
Dan kelembutan dari kekuatan sebenarnya

Setelah semua tercapai,
Aku ayahnya berani berbisik,
“Hidupku tidaklah sia-sia”

***
Beberapa hari lalu saya pergi ke Jakarta, dan sempat transit beberapa jam di Bandung. Sekedar silaturahmi ke rumah Om Subur dan menagih janjinya untuk membelikan saya carrier. Akhirnya saya diajak ke sekretariat Wanadri untuk membeli tas milik adik tingkatnya. Tas ini masih baru, belum pernah dipakai, sponsor dari Eiger ketika ada Ekspedisi Bukit Barisan beberapa waktu silam. Akhirnya tanpa tawar menawar, tas ini langsung berpindah tangan.
Selagi menunggu transaksi penghitungan duit antara si om dan adik tingkat, saya berkeliling sekretariat. Mata saya lantas menumbuk sebuah plakat berwarna coklat yang terpasang di dinding. Rupanya itu adalah puisi Doa Seorang Ayah.
Kelak, saya juga ingin membuat puisi buat anak saya.
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

1 KOMENTAR

  1. sayang sekali, ayah do’a ayah saya terlalu spesifik, hingga terkadang saya melawan dengan do’a-do’a tandingan meski kami haturkan pada tuhan yang sama, 🙂

TINGGALKAN KOMENTAR