Pablo Neruda: Love Sonnet XVII

1465

I don’t love you as if you were the salt-rose, topaz
or arrow of carnations that propagate fire:
I love you as certain dark things are loved,
secretly, between the shadow and the soul.
I love you as the plant that doesn’t bloom and carries
hidden within itself the light of those flowers.
And thanks to your love, darkly in my body
lives the dense fragrance that rises from the earth.
I love you without knowing how, or when, or from where,
I love you simply, without problems or pride:
I love you in this way because I don’t know any other way of loving
but this, in which there is no I or you,
so intimate that your hand upon my chest is my hand,
so intimate that when I fall asleep it is your eyes that close
***
Aku tidak mencintaimu dengan cara menganggap kalau kau adalah sekuntum mawar Rosa Rugosa,
tidak pula menganggap kau sebagai batu topaz, atau duri dari sekuntum anyelir yang menyemaikan kobar api:
aku mencintaimu sama seperti kegelapan yang dicintai,
dengan rahasia, diantara bayangan dan jiwa.
Aku mencintaimu sama seperti tanaman yang tak kunjung berkembang,
dimana cahaya bunga itu rebah tersembunyi di dalamnya.
Dan terimakasih untuk cintamu, mengalir gelap di dalam tubuhku,
menghidupkan endapan wangi yang menguar dari bumi.
Aku mencintaimu tanpa mengetahui bagaimana, atau kapan, atau dari mana.
Aku mencintaimu dengan sederhana, tanpa masalah atau harga diri.
Aku mencintaimu dengan cara ini karena aku tidak tahu cara lain untuk mencintai.
Tapi kala ini, dimana tidak ada lagi aku atau kamu,
kita begitu intim, sehingga tanganmu pada bahuku adalah tanganku jua,
dan kita begitu intim sehingga ketika aku tertidur, matamu lah yang terkatup.
*salah satu puisi Neruda favorit saya. Tadi iseng menerjemahkan bebas, sesuai interpretasi saya. Kalau ada yang punya interpretasi dan terjemahan yang berbeda versi, mari berbagi 🙂 Oh ya, puisi ini juga teronggok dalam salah satu bagian di skripsi saya, untuk seseorang yang “begitu intim sehingga ketika aku tertidur, matamu lah yang terkatup.” Entah kenapa, puisi ini sangat pas dibaca sambil mendengarkan Cause We’ve Ended As A Lover-nya Jeff Beck. Apalagi kalau kombinasi ini disantap pas tengah malam seperti ini, alamak nyamannya…
Lahir di Lumajang, besar di Jember, pernah tinggal di Yogyakarta yang menyenangkan, dan sekarang memburuh di Jakarta.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR